
Joni tersenyum sinis seraya melirik ke arah Bima. Akan tetapi pada saat Joni akan bercerita tentang Bima, Milka mengajaknya untuk berbicara di ruang kerjanya. Karena tidak etis berbicara di depan pintu masuk kantor.
"Sebaiknya kita bicarakan di ruang kerjaku saja. Di sini mengganggu para karyawan yang lain yang akan masuk ke dalam kantor."
Hingga sangat terpaksa, Bima dan Joni mengikuti langkah kaki Milka ke ruang kerjanya.
Setelah mereka nyaman duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerja, Milka. Barulah Joni menceritakan semuanya tentang Bima dan Mamahnya. Tentang semua masa lalu Mamahnya.
Sejenak Milka memicingkan alisnya, karena ia sama sekali tidak tahu jika ternyata Joni dan Bima saling kenal. Karena pada saat di resepsi pernikahan Kiara, Milka datang terlambat di saat Mamah Nindy sudah pulang dari acara resepsi pernikahan tersebut. Hingga Milka sama sekali tidak tahu jika Joni kenal dengan Bima.
"Aku baru tahu ternyata kamu kenal Mas Bima. Ternyata dunia ini sempit ya, seperti daun kelor karena kita semua saling kenal satu sama lain."
"Berarti kamu saat ini mengelola perusahaan Mas Bima?" tanya Milka.
"Milka, aku mengelola dua perusahaan sekaligus. Yang satu milikku sendiri dan yang satu peninggalan almarhum Papahku yang sempat di rampas oleh Mamahnya Bima."
Tatapan sinis terlihat jelas di wajah Joni pada saat ia menatap ke arah Bima. Sementara Bima mencoba untuk bersikap biasa saja. Di dalam hatinya selalu menenangkan diri sendiri supaya tidak terbakar kemarahan.
"Lantas, apakah kamu kenal dengan Bima?" Joni balik bertanya.
"Ya, aku kenal sekali dengan Mas Bima. Dia ini kan mantan suami Kiara, dan juga pernah menjadi mantan pacarku dulu," ucap Milka jujur.
Mendengar bapa yang barusan di katakan oleh Milka, sempat membuat kaget Joni. Karena selama ini baik Kiara atau pun Arya sama sekali tidak pernah bercerita tentang hal ini.
Sejenak Joni diam, di dalam hatinya ada rasa kesal dengan kenyataan yang sempat ia dengar tersebut.
"Sialan, ternyata Bima pernah menjalin hubungan dengan Milka! ini tidak bisa di biarkan, jika Bima tetap bekerja di kantor Milka, bisa membuat cinta lama mereka bersemi kembali. Aku harus mencari cara supaya Bima bisa di pecat dari kantor ini," batin Joni kesal.
__ADS_1
"Mas Joni, kenapa diam saja? jika sudah tidak ada kepentingan silahkan pulang. Mas Bima, kembalilah ke ruanganmu. Aku juga akan segera mulai bekerja karena banyak sekali berkas dan data yang harus segera aku cek."
Saat itu juga Bima keluar dari ruang kerja Milka, di ikuti oleh Joni. Akan tetapi pada saat di luar ruang kerja Milka, tiba-tiba Joni mencengkram kerah baju Bima," heh, awas ya jangan coba-coba kamu mendekati Milka. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan melakukan segala cara supaya kamu tak kembali lagi pada Milka!"
"Astaghfirullah aladzim, kenapa kamu berpikiran picik seperti itu? aku di sini benar-benar berniat untuk bekerja. Tidak ada niat sama sekali bagiku untuk mencari perhatian atau mengejar cinta Milka lagi. Aku sadar diri kok, aku ini tidak pantas untuk dirinya. Jadi kamu tak usah khawatir," ucap Bima lirih berusaha meyakinkan Joni.
Joni pun melepaskan cengkraman tangannya pada kemeja yang di kenakan oleh Bima," walaupun kamu mengatakan hal seperti itu, aku tidak percaya sama sekali padamu. Aku pastikan secepatnya kamu akan pergi dari kantor Milka!"
Saat itu juga Joni melangkah pergi meninggalkan Bima yang masih diam terpaku menatap kepergian dirinya.
"Ya Allah, cobaan apalagi ini di kala aku ingin benar-benar bertaubat memperbaiki diriku, kenapa ada saja halangan dan rintangan? kemarin aku mendapatkan ancaman dari Papahnya Milka dan barusan aku mendapatkan ancaman dari Joni. Lantas aku harus bagaimana ya, Allah?" batin Bima mulai gundah gulana kembali.
Sementara Joni terus saja marah, ia terus saja menggerutu di dalam hatinya. Mengumpat akan keberadaan Bima di kantor Milka.
"Pokoknya aku tidak boleh menunda waktu lagi! aku harus secepatnya mencari cara supaya aku bisa menyingkirkan Bima dari kantor Milka!' batinnya kesal.
"Hay, om. Tumben om datang ke kantor Milka?" tanya Joni seraya tersenyum ramah dan tak lupa menyalami Papahnya Milka.
"Iya, om ingin menemui Milka. Ada hal yang penting yang ingin om bicarakan dengannya. Eh Joni, kok wajahmu terlihat murung seperti itu? apakah Milka mengatakan hal yang menyinggung perasaanmu?" tanya Papahnya Milka menyelidik.
"Nggak ada kok, om. Hheee... sudah dulu ya om, karena aku harus segera ke kantor," pamitnya.
"Oh iya, Joni. Selamat bekerja dan sukses selalu ya. Sering-seringlah main ke rumah."
Papahnya Milka tersenyum seraya menepuk bahu Joni.
Saat itu juga Papahnya Milka berlalu pergi dari hadapan Joni yang masih terpaku diam menatap kepergian Papahnya Milka.
__ADS_1
Tetapi di dalam hatinya ada rasa penasaran dan rasa ingin tahu tentang apa yang akan di katakan oleh Papahnya Milka pada Milka. Hingga diam-diam Joni mengikuti langkah kaki Papahnya Milka dengan perlahan-lahan supaya tidak di ketahui olehnya.
"Pah, ada apa pagi-pagi datang ke kantorku?" tanya Milka.
"Papah ingin tanya padamu, apakah Bima masih bekerja di sini?" Papahnya malah balik bertanya.
"Loh, memangnya kenapa jika Mas Bima masih bekerja di kantor ini? lagi pula kinerja dia bagus kok, pah,' ucap Milka heran dengan sikap Papahnya.
"Hem, jadi Bima tidak memperdulikan ancamanku waktu itu. Dia pikir aku hanya gertak sambal doang, padahal aku benar-benar akan melakukan apapun untuk bisa menjauhkannya dari Milka," batin Papahnya.
"Pah, kenapa diam saja?" tegur Milka.
"Nggak apa-apa, ya sudah papah pulang."
Papah Milka pun berlalu pergi dari ruangan Milka, tetapi dia tak lantas langsung pulang. Dia pun mencari tahu dimana ruang kerja Bima. Setelah itu dia langsung masuk begitu saja ke dalam ruang kerja Bima. Bahkan Joni terus saja mengikuti kemana pun, Papah Milka pergi.
BRAG!
Papah Milka membuka pintu ruang kerja Bima dengan sangat kasar dan keras. Membuat Bima yang sedang fokus dengan pekerjaannya terlonjak kaget.
"Astaghfirullah aladzim, om."
"Apa? rupanya kamu masih punya nyali juga ya? hingga masih saja berani ada di kantor Milka! kamu pikir ancamanku padamu kemarin hanya gertak sambal doang, hah?" bentak Papahnya Milka seraya menggebrak meja.
"Om, kenapa sih om begitu bencinya padaku?" tanya Bima.
"Masih tanya kenapa aku benci padamu! apa kamu sudah amnesia dan sudah lupa dengan apa yang telah kamu lakukan pada, Milka?" bentaknya lagi.
__ADS_1