Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Keguguran


__ADS_3

Pada akhirnya, Bima pun sudah tak bisa lagi menolak kemauan Meymey untuk dirinya ikut tinggal di rumah, Bima.


Saat itu juga Meymey mengemasi semua pakaiannya yang ada di tempat kost. Ia sangat senang sekali, bisa tinggal di rumah mewah milik Bima.


Satu Jam Kemudian....


Mamah Nindy yang sedang menyirami tanaman di halaman rumah merasa terkejut pada saat melihat mobil Bima masuk pelataran rumah, tetapi dengan membawa, Meymey.


Dia lebih terkejut lagi pada saat melihat pakaian yang di kenakan oleh Bima dan Meymey. Meymey yang melihat mamah mertuanya menatap ke arahnya. Langsung meminta turun di pelataran rumah.


"Mas, aku turun di sini saja ya? kamu parkir mobil di garasi."


Hingga Bima menghentikan laju mobilnya, dan menurunkan koper Meymey. Serta Meymey juga turun dari mobil tersebut. Setelah Meymey turun beserta kopernya, Bima melajukan kembali mobilnya.


Meymey melangkah pasti menghampiri Mamah mertuanya tersebut sambil menyeret kopernya.


"Hay, mamah mertua. Sekarang kita resmi statusnya mertua dan menantu. Dan aku akan tinggal di sini karena aku sudah menikah resmi dengan, Mas Bima. Lihatkan mamah mertua, aku yang menang. Karena aku pada akhirnya bisa menikah dengan anak kesayanganmu."


Sejenak Mamah Nindy menghentikan aktifitasnya, dan ia menatap tak suka pada Meymey.


"Apa yang kamu katakan? pasti kamu bohong kan?" Mamah Nindy sama sekali tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Meymey.


"Jika mamah tak percaya, nanti tanya saja pada anak kesayangan mamah."


Meymey dengan beraninya memainkan alisnya dengan menaik turunkan.


Tak berapa lama datanglah Bima menghampiri Meymey, dan pada saat itu Mamah Nindy pun bertanya tentang apa yang barusan dikatakan oleh Meymey kepadanya.


"Bima, apa benar kamu telah menikah dengan Meymey?" tanya Mamah Nindy menyelidik.


"Iya mah, itu memang benar. Aku telah menikahinya tadi pagi di sebuah Kantor Urusan Agama yang tak jauh dari kota ini," ucap Bima jujur.


PLAK!!

__ADS_1


Satu tamparan mendarat di pipi Bima, yang sempat membuat dirinya terhenyak kaget dan mengusap pipinya yang terasa perih karena tamparan dari mamahnya.


"Mah, kenapa menamparku? apa salahku sih?" protes Bima kesal.


"Masih saja belum sadar apa yang membuatmu salah? masih tanya juga? bukankah mamah sudah pernah mengatakan bahwa mamah sama sekali tidak setuju jika kamu menikah dengan wanita ini!" tunjuk kasar Mamah Nindy melotot ke arah Meymey.


Bima tak mengatakan apapun, ia lekas menuntun Meymey untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Mamah Nindy yang merasa dirinya tidak dihargai dan tidak dihiraukan oleh Bima, ia pun menjadi sangat marah. Ia melangkah cepat mengejar langkah kaki Bima dan Meymey.


Secepat kilat Mamah Nindy menarik lengan Meymey dan menghempaskannya begitu saja, hingga perut Meymey menghantam pojok sebuah almari kecil yang ada di ruang tamu tersebut.


"Aaahhh .....sakit.....mas.....Bima...."


Meymey merintih kesakitan seraya memegangi perutnya. Dan pada saat itu terlihat darah mengalir dari balik rok panjangnya.


"Astaga...Mey...!"


Mamah Nindy merasa heran karena melihat bercak darah yang ada di lantai dimana barusan Meymey terjerembab perutnya menghantam pojok almari kecil.


"Astaga... kenapa Meymey berdarah? apakah ia tidak apa-apa? bagaimana kalau terjadi hal yang tidak di inginkan? aduh ..aku bisa masuk penjara jika seperti ini."


Mamah Nindy terus saja panik dan cemas. Sementara Bima saat ini sudah berada di dalam mobil dengan di kemudikan oleh sopir pribadinya.


Tak berapa lama, mereka telah sampai di rumah sakit. Bima langsung mengangkat tubuh Meymey dan meminta bantuan sang perawat untuk mengantarnya ke ruang penanganan.


Meymey langsung di larikan mengenakan brankar menuju ke ruang khusus penanganan Medis.


Bima mondar-mandir di depan ruangan tersebut. Ia begitu panik akan terjadi sesuatu pada, Meymey. Ia masih ingat bagaimana darah mengalir dari rok, Meymey.


Setelah gelisah dan panik, menunggu cukup lama di depan ruangan tersebut. Akhirnya salah satu perawat mengizinkan Bima masuk. Dan Meymey sudah sadarkan diri tetapi ia terisak dalam tangisnya.


Meymey sama sekali tak mengatakan apapun, ia hanya menangis dan menangis terus.

__ADS_1


"Dok, bagaimana kondisi istri saya? kenapa dia menangis?" tanya Bima penasaran.


"Karena benturan yang teramat keras pada perut istri anda, membuat dirinya kehilangan janin," ucap Dokter.


Bima terperangah, mendengar apa yang dikatakan oleh dokter.


"Astaga.... secara tidak langsung, mamah telah membunuh calon anakku! pantas saja Meymey terus saja menangis," batin Bima.


Beberapa jam kemudian, Meymey sudah di izinkan untuk pulang. Walaupun jalannya masih sangat tertatih, karena masih merasakan sakit di perutnya. Di dalam hatinya, ia merutuki kelakuan yang telah di lakukan oleh, Mamah Nindy.


Selama dalam perjalanan pulang, Meymey hanya diam saja. Dia merasa kehilangan sekali dengan janinnya, karena itu adalah anak dari hubungannya dengan pacarnya, bukan dengan Bima.


Secara diam-diam, Meymey menjalin hubungan dengan seorang pemuda. Setelah ia menikah dengan, Bima. Pemuda ini sangat ia cinta. Dan mereka telah sepakat akan menguras habis harta Bima. Untuk kesejahteraan mereka berdua dan calon andj mereka. Tetapi semua musnah karena ulah Mamah Nindy.


"Aku tidak akan membiarkan nenek tua itu hidup dengan tenang. Karena ia telah melenyapkan calon anakku ini! anak yang aku harapkan!" batin Meymey sangat dendam pada Mamah Nindy.


Segera mereka masuk ke dalam mobil, dan sang sopir melajukan arah pulang. Sesampainya di rumah, Bima dengan penuh emosi menggedor pintu kamar, Mamah Nindy.


Mamah Nindy segera keluar dari kamarnya. Dan ia merasa heran karena Bima menatapnya dengan penuh amarah.


"Bima, kenapa kamu menatap mamah seperti itu? keserupan setan mana, kamu?" sindir Mamah Nindy ketus.


"Mamah kejam! telah membunuh calon anakku! adanya aku menikahi Meymey karena ia sedang hamil anakku!" bentak Bima.


"Apa, hamil? kamu percaya saja jika yang di kandung Meymey itu anakmu? bisa jadi itu anak pria lain!" ejek Mamah Nindy


"Dari dulu mamah selalu berkata seperti ini. Pada saat aku bersama dengan, Kiara. Mamah juga mengatakan hal yang sama! bukannya mamah minta maaf pada, Meymey. Malah seperti ini!" bentak Bima.


Hal ini tak membuat Mamah Nindy sadar akan kesalahannya pada Meymey. Dia hanya melirik sinis pada Meymey, tanpa meminta maaf sama sekali. Hal ini membuat Bima sangat kesal padanya.


"Mas, sudahlah. Anggap saja ini sebuah kecelakaan, dan belum rejeki kita hingga Yang Kuasa mengambil calon anak kita."


Meymey pun menitikkan air matanya, hal ini membuat Bima merasa iba.

__ADS_1


__ADS_2