
Saat itu juga ibu dan anak ini melangkah keluar dari rumah mewah mereka. Dan tak lupa memberikan kontak mobil pada, Joni. Tetapi Layla merasa iba, hingga ia memberikan mobil itu secara cuma-cuma untuk Bima.
"Bima, bawa saja mobilmu. Jika kamu memberikannya pada kami, lantas kamu akan naik apa?" ucap Layla.
"Terima kasih tante, atas kebaikannya."
Bima pun menerima kembali kontak mobil tersebut.
Dan saat itu juga keluar dari rumah. Kebetulan mobil sudah terparkir di depan rumah, hingga Bima tak perlu repot-repot mengambilnya di garasi. Lekas Bima dan Nindy masuk ke dalam mobil, dan Bima langsung melajukannya begitu saja.
Bahkan ia sendiri tidak tahu akan kemana. Ia hanya mengikuti arah laju mobil saja.
"Bima, kita akan kemana?" tanya Nindy.
"Ke akhirat, entahlah aku tidak tahu," jawab ketus Bima.
"Bima, kenapa kasar sekali kamu sama mamah?"
Namun Bima sama sekali tak berkata lagi. Ia terus saja melajukan mobilnya mencari sebuah kontrakan yang kecil, sesuai dengan sisa uang yang ia punya. Bahkan ia juga sudah berniat akan menjual mobilnya untuk modal usaha yang sendirinya juga belum tahu, akan usaha apa kelak.
Saat ini pikiran Bima benar-benar buntu dan tak bisa berpikir jernih. Karena semua kejadian ini benar-benar membuat shock dirinya. Ia sama sekali tidak pernah bermimpi akan menjadi miskin hanya dalam sekejap mata.
Padahal ia dengan susah payah membuat perusahaan peninggalan mendiang papah Joni berkembang pesat. Ternyata malah itu bukan milik pribadinya.
Satu jam mengemudikan mobil, Bima menghentikan laju mobil di salah satu kontrakan. Ia pun memutuskan untuk memilih satu kontrakan rumah yang berjejer rapi di tempat itu.
"Bima, yang benar saja! masa iya kita akan tinggal di perkampungan kumuh ini. Dan tinggal di salah satu rumah kontrakan yang jelek-jelek itu? apa nanti kata teman-teman sosialita mamah!" ucap lirih Nindy seraya menghentakkan kakinya.
__ADS_1
"Hari gini, masih saja gengsi! sana mamah cari sendiri rumah mewah! apa nggak malu atau sadar diri dengan apa yang telah mamah lakukan di masa lalu! perbuatan mamah telah menghancurkan karir aku, tahu nggak sih! jika Mamah nggak suka tinggal di sini. Sana pergi saja tak usah tinggal denganku!" bentak Bima kesal pada sikap Nindy yang masih menomorsatukan gengsinya.
Bima sama sekali tak menghiraukan Nindy, ia pun melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan yang telah ia sewa untuk jangka waktu satu tahun sekalian. Karena ia tak ingin uang habis begitu saja.
Nindy menyeret tas kopernya melangkah masuk ke dalam kontrakan pengap dan sempit tersebut. Ia sudah tak berani lagi protes karena tak ingin Bima semakin bertambah marah dan benar-benar mengusir dirinya.
Sementara saat ini Joni dan Layla sedang tersenyum bahagia. Karena sudah sekian tahun lamanya, kini mereka benar-benar sudah bisa mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milik mereka sejak dahulu.
"Alhamdulillah ya mah, akhirnya kita sudah bisa mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita. Setelah kita menderita cukup lama."
Joni tersenyum seraya merangkul Layla. Tetapi di wajah Layla masih ada rasa murung, hingga membuat Joni heran.
"Mah, kenapa murung? apakah mamah nggak suka?" tegurnya heran.
"Suka sekali, Joni. Hanya mamah kok nggak tega dengan Bima. Jika dia tak kerja lagi di kantor, lantas ia akan kerja apa?" ucap Layla.
"Joni, yang salah itu Nindy bukan Bima. Apa kamu nggak melihat reaksi wajahnya pada saat mengetahui kejahatan Nindy? dia hanya korban juga sama seperti kita. Saat kejadian itu, Bima masih ada di dalam perut Nindy. Jadi murni sekali jika Bima tak tahu apa-apa. Jika memang dia jahat seperti Nindy, pasti ia tidak akan memberikan semuanya pada kita secara cuma-cuma seperti ini. Pasti ia akan mempertahankannya mati-matian," ucap Layla.
"Lantas, apa yang harus aku lakukan mah? apa iya aku harus mencari Bima dan memintanya tetap di kantor tetapi sebagai karyawan kita?"
"Aku nggak mau, mah. Karena Bima itu tripikal orang licik, ia bisa kembali berbuat licik. Apa Mamah lupa dengan sesuatu bukti yang sempat aku minta dari, Meymey?"
Sejenak Layla hanya diam saja, ia pun menjadi teringat akan nasib Meymey. Karena ia tak sempat melihat Meymey ada di rumah itu.
"Joni, kok tadi kita tak melihat adanya Meymey ya?" Layla celingukan.
"Sudahlah, mah. Nggak usah mamah pusing-pusing memikirkan Meymey atau Bima lagi. Kini kita pikirkan saja diri kita, mah. Biar mereka urus diri mereka sendiri saja."
__ADS_1
Joni agak kesal pada sikap Layla yang terlalu baik. Makanya dulu ia gampang sekali di perdaya oleh Nindy.
******
Berbeda situasi di rumah Kiara, dimana ia sedang tertawa sendiri tat kala ingat penampilan baru, Arya. Hal ini membuat orang tuanya heran dengan tingkah anak sulungnya.
"Kiara, kamu kenapa dari tadi tertawa sendiri?" tanya Ibu Darti yang sedang menggendong baby Alvaro.
"Hheeee... nggak apa-apa kok Bu," ucapnya terus saja tertawa seraya menatap foto Arya dengan penampilan barunya.
"Nggak apa-apa bagaimana? kok ibu menjadi khawatir ya?" ucap Bu Darti terus saja menatap heran anak sulungnya.
"Astaghfirullah aladzim, ibu mengira aku ini gila? nggak waras begitu, iihhhh amit-amit. Ini ibu, aku menertawakan Mas Arya."
Pada akhirnya Kiara menunjukkan foto Arya dengan penampilan culunnya. Bu Darti juga sempat tertawa di buatnya.
"Astaga..itu kenapa Arya jadi berubah drastis seperti itu? apakah ia sedang beralih profesi menjadi aktor?" tanya Bu Darti terkekeh.
Kiara menceritakan jika ini semua ulah dirinya yang ingin mengerjai Arya. Mendengar apa yang dikatakan oleh anak sulungnya, Bu Darti langsung pasang wajah murung.
"Kiara, jangan kamu lanjutkan hal ini. Kasihan, Arya. Masa iya untuk membuktikan rasa cintanya padamu, kamu memberikan tantangan seperti itu? kamu sama saja kurang ajar, Kiara. Dia itu bos kamu di kantor loh."
Bu Darti menasehati Kiara untuk menghentikan permainannya itu. Ia tak ingin melihat anaknya berbuat hal buruk seperti itu.
"Baiklah, ibuku sayang. Aku akan meminta pada Mas Arya untuk menyudahi permainan ini. Padahal jangka waktu masih lama loh, Bu. Ini baru beberapa hari. Sedangkan kita sudah sepakat jika tantangan ini berlanjut hingga satu bulan," ucap Kiara.
"Kiara, apa kamu akan keras kepala? tidak mendengarkan dan mematuhi nasehat ibu?"
__ADS_1
Jika Bu Darti sudah berkata seperti ini, pasti Kiara sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Karena ia sangat patuh terhadap orang tuanya.