
Sementara saat ini, Mamah Nindy sudah sampai di kantor Bima. Ia langsung saja masuk ke ruangan Bima tanpa permisi terlebih dahulu. Untung saja kondisi kantor sedang sepi dan tidak ada acara meeting.
Bima sangat terkejut pada saat melihat kedatangan Mamahnya tersebut. Dia pasang wajah murung seraya memicingkan alisnya menatap Mamah Nindy.
"Kenapa, nggak suka mamah datang kemari?"
Mamah Nindy berkata ketus seraya menjatuhkan pantatnya di kursi depan meja kerja Bima.
"Iya, ada apa sih datang ke kantor?"
Bima justru balik bertanya ketus.
Mamah Nindy mengatakan hal yang selama ini mengganjal pikirannya, setelah beberapa hari Meymey mengalami keguguran.
"Bima, kenapa sejak kamu menikah dengan Meymey. Sikap kamu berubah pada, mamah? kamu yang sekarang benar-benar beda sekali dibandingkan dengan yang dulu. Apa yang telah Meymey katakan padamu, hingga kamu bersikap dingin pada mamah kandungmu sendiri?"
Bima tersenyum sinis pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh Mamah Nindy," pertanyaan yang tak perlu dengan jawaban. Heran, hingga detik ini mamah masih belum juga sadar apa kesalahannya?"
"Ooohhh.... jadi kamu marah sama Mamah hanya gara-gara Meymey alami keguguran? sudah mamah katakan berapa kali padamu, jika anak yang di kandung oleh Meymey bukanlah andk kandungmu, melainkan anak dari pria lain, tetapi kamu tetap saja tak percaya dengan apa yang mamah katakan!" ucap lantang Mamah Nindy.
Bima memang kesal pada Mamahnya, karena ia menuduh tanpa ada barang bukti yang nyata. Seperti pada saat menuduh hal yang sama pada, Kiara. Waktu itu Bima percaya saja, bahkan sudah ada hasil tes DNA, tetap saja ia menolak anak kandungnya.
Saat ini Bima sedang merasakan ada hal yang mengganjal di dalam pikirannya, dimana ia selalu saja ingin bertemu dengan anak, Kiara. Tetapi rasa gengsi mengalahkan segalanya.
Bima saat ini sudah menginginkan seorang anak untuk penerus dirinya mengurus perusahaan peninggalan almarhum papahnya.
Sikap diamnya Bima membuat Mamah Nindy semakin bertambah kesal di buatnya. Ia pun menegurnya.
__ADS_1
"Bima, mamah ini sedang bicara denganmu loh! kenapa kamu malah melamun seperti ini sih? mamah minta kamu percaya pada mamah jika Meymey itu bukan wanita yang baik. Supaya kamu tidak kecewa, nak. Mana mungkin seorang ibu ingin mencelakai anak kandungnya sendiri," tegur Mamah Nindy.
Hingga pada akhirnya Bima berkata," mah, aku sedang di kantor jadi tolong jangan mengajak aku berbicara masalah pribadi. Ini hanya akan menggangu kinerjaku saja. Dan aku minta mamah pulang saja sekarang, dari pada membuat urusan pekerjaanku menjadi berantakan!"
Akhirnya Mamah Nindy menyerah dalam usaha membujuk Bima, hingga dia pun memutuskan untuk segera pulang. Ia pergi begitu saja dari ruang kerja Bima dengan wajah di tekuk. Bima sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Dia diam saja dan fokus mengecek ulang laporkan berkas yang ada di hadapannya.
"Huh, mengganggu saja! nggak penting banget datang ke kantor hanya untuk mengatakan hal yang tak jelas seperti itu! makanya lama-lama aku bosan mendengarnya, dan bosan pula dengan sikap Mamah."
"Kenapa selalu saja berkata hal buruk tentang wanita yang ada di sampingku? menyebalkan sekali!"
******
Mamah Nindy melangkah keluar dari kantor Bima dengan sangat emosi dan tak melihat jalan, hingga tiba-tiba ia menabrak seorang pemuda tampan yang ia umurnya lebih tua dari Bima satu tahun.
"Tante, maafkan saya ya? saya buru-buru."
Mamah Nindy bagaikan tersihir hingga dia pun membalas perkataan dari pemuda ini," nggak apa-apa nak. Ya ampun kamu sopan sekali, padahal Tante yang salah menabrak kamu terlebih dahulu."
"Tante bisa saja, aku juga salah karena berjalan nggak fokus tapi sambil mainan ponsel."
Entah kenapa Mamah Nindy ingin sekali berkenalan dengan pemuda yang menurutnya sopan tersebut.
"Siapa namamu, nak? sepertinya kamu seumuran dengan anak, Tante?" tanyanya seraya tersenyum ramah.
"Nama saya Joni, Tante."
Pemuda tersebut mengulurkan tangannya ke arah Mamah Nindy seraya tersenyum.
__ADS_1
"Nindy, oh ya sudah di lanjutkan saja urusannya."
Mamah Nindy sudah puas bisa berkenalan dengan Joni. Ia pun melanjutkan perjalannya untuk segera pulang ke rumah, karena kebetulan sang sopir sudah memarkirkan mobilnya di pelataran kantor.
Di dalam hati Joni kesal melihat Mamah Nindy," itu wanita yang telah merebut papah dari mamah. Dan merebut hal yang seharusnya menjadi milikku. Aku akan merebutnya kembali, walaupun harus aku lakukan dengan berbagai macam cara. Benar juga apa yang dikatakan oleh, Lisa. Aku tidak bisa mengharapkan, Meymey yang terlalu lamban dalam bertindak. Aku harus bertindak sendiri supaya cepat terselesaikan dan Bima serta ibunya lekas menyingkir dari kekayaan almarhum papah yang seharusnya menjadi milikku!"
Dia pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kantor Bima untuk menemuinya dengan dalih menganjak kerja sama. Ia sudah punya rencana jitu untuk menjebak Bima, dan membuatnya hengkang dari kantornya sendiri.
Langkah begitu pasti tanpa ada rasa panik sama sekali. Hingga pada saat bertemu dengan Bima, ia sama sekali tidak curiga dengan pemuda yang ada di hadapannya itu akan berniat buruk padanya. Bima langsung saja percaya dengan proposal kinerja kantor Joni yang ia tunjukkan padanya.
Joni mengadakan kerjasama di bidang export import berlian. Dan ia menjanjikan keuntungan yang sangat besar pada, Bima. Sehingga Bima pun tergiur dengan iming-iming bagi hasil yang sangat menggiurkan tersebut. Apa lagi Joni yang menyiapkan berliannya, sedang Bima hanya mengirimkannya saja.
Saat itu juga dan detik itu juga, deal Bima terima penawaran kerja sama tersebut. Tanpa ia terlebih dahulu mengadakan rapat atau meeting seperti yang ia lakukan biasanya jika akan mengadakan suatu kerja sama dengan klien baru.
Setelah cukup lama, Joni berada di kantor Bima. Ia pun lekas berpamitan untuk segera kembali ke kantornya guna mengurus surat perjanjian kerja sama antara dirinya dengan Bima. Dan juga menyiapkan berliannya tersebut.
Seperginya Joni, Bima senyam senyum sendiri. Ia sudah membayangkan keuntungan dari mengexport berlian ke luar negeri.
"Ini baru kerja sama besar dan menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Ini bukan kaleng-kaleng lagi, di bandingkan dengan kerjasamaku dengan beberapa perusahaan yang kecil. Makanya baku selalu curang terhadap mereka, supaya aku mendapatkan keuntungan yang banyak," gumam Bima.
Perusahaan Bima bergerak di bidang pengiriman barang secara export import. Pengiriman barang secara besar-besaran.
******
Tak terasa satu bulan sudah kerja sama antara Bima dan Joni. Awal yang sangat indah dan menyenangkan bagi, Bima. Karena Joni sama sekali tidak ingkar janji. Ia memberikan keuntungan yang lumayan besar.
Joni memang sengaja melakukan hal ini supaya Bima semakin percaya padanya. Ini hanya suatu pancingan saja bagi Joni terhadap Bima.
__ADS_1