
Arya tersipu malu pada saat mendengar apa yang barusan di katakan oleh, Kiara.
"Mas Arya, ingat nggak pada saat dulu? pernah mengatakan apa padaku?" tanya Kiara mengagetkan lamunannya.
"Memang dulu aku pernah mengatakan apa padamu? ohhh itu, yang aku suka mengatakan dirimu ini Bety Lafea? aku minta maaf ya."
Arya benar-benar tidak ingat apa yang dulu pernah ia katakan pada, Kiara. Ia hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk menutupi rasa malunya tersebut.
"Bukan itu, mas. Aku ingat betul jika dulu pada saat ada beberapa teman yang suka mengingatkanmu untuk tidak terus mengejekku. Karena bisa jadi suatu saat kamu jatuh cinta padaku. Tetapi pada waktu dulu, kamu mengatakan jika itu tidak akan mungkin terjadi. Ingat nggak, Mas Arya?"
Sontak saja raut wajah Arya berubah merah bak kepiting rebus. Ia kini ingat akan hal itu. Ia benar-benar malu, hingga tak sadar beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar dan kerap kali pandangan matanya ke lain arah.
"Mas Arya, malu yah?"
Entah kenapa Kiara malah senang sekali melihat wajah Arya saat ini yang terlihat jelas begitu malunya. Arya hanya tersenyum seraya tertunduk, ia tak bisa berucap sama sekali.
"Mas Arya, jujur saja ya? pada saat dulu sebenarnya aku itu memujamu karena paras tampan dirimu. Tetapi sejak kamu hina aku karena penampilan diriku yang cupu bak Bety Lafea, rasa kagumku padamu seketika itu juga hilang," ucap Kiara seraya matanya menerawang jauh mengingat peristiwa tempo dulu.
"Jadi, sekarang kamu nggak akan mau menerima aku menjadi ayah sambung bagi, Alvaro?" tiba-tiba Arya berani berucap.
Kiara tersenyum kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Arya. Di dalam hatinya ia masih meragukan rasa cinta Arya kepada dirinya. Arya sudah berprasangka buruk, hingga raut wajahnya berubah murung.
"Dari senyumanmu itu, menandakan jika kamu...
"Eeeeeehh....Mas Arya? aku kan belum mengatakan apapun?" sela Kiara memotong perkataan Arya.
"Lantas?"
__ADS_1
Arya memicingkan alisnya.
"Jika Mas Arya bisa menerima tantangan aku, untuk satu bulan saja. Aku akan menerima Mas Arya menjadi aysh sambung bagi, Alvaro," ucap Kiara di dalam hatinya sudah memiliki satu rencana untuk mengerjai Arya.
Mendengar ada harapan untuk bisa memiliki Kiara, tanpa pikir panjang lagi Arya menyanggupi tantangan dari, Kiara.
"Baiklah, Kiara. Aku bersedia menerima tantangan apa pun darimu, demi bisa mendapatkan cinta dan hatimu," ucap Arya penuh dengan antusias.
"Yakinkah, Mas Arya?" tanya Kiara ragu seraya menahan rasa ingin tertawa.
"Iya, Kiara."
Arya mengganguk pasti untuk meyakinkan Kiara.
Saat itu juga, Kiara mengatakan sebuah tantangan yang sempat membuat Arya sejenak terperangah tak percaya. Kiara meminta supaya Arya selama satu bulan berpenampilan cupu layaknya Anjasmara yang berperan sebagai Cecep di serial acara televisi.
Bukan hanya penampilannya saja, tetapi juga sikap dan tutur katanya juga harus serupa Cecep. Dan hal ini juga harus di lakukan di rumahnya bukan hanya di dalam kantor saja.
"Nggak usah khawatir, mas. Untuk acara penting di dalam kantor, aku izinkan Mas Arya sejenak kembali ke penampilan lama, tetapi jika acara penting itu telah selesai. Aku minta Mas Arya berubah lagi menjadi Arya Cupu," ucap Kiara terkikik.
"Jika di dalam rumahku, aku berpenampilan cupu. Apa kata orang tuaku dan kedua kakakku?" Arya ragu.
"Ya sudah jika Mas Arya tak mau. Aku juga tidak akan memaksa kok."
Mendadak Kiara mengerucutkan bibirnya merasa kecewa atas penolakan Arya.
Hingga pada akhirnya, Arya pun dengan sangat terpaksa menuruti kemauan, Kiara. Walaupun di dalam rumah, ia akan berpenampilan Cupu.
__ADS_1
"Kiara, jangan marah dong. Masa langsung manyun seperti itu? baiklah aku akan turuti apa mau mu ini. Demi memperjuangkan cintaku ini. Tapi aku boleh nawar nggak? satu Minggu saja ya, aku menjadi Si Cupu Arya?" Arya pasang wajah mengiba, tetapi Kiara sama sekali tak menghiraukannya.
Dia tetap pada pendiriannya, jika Arya harus menerima tantangan itu untuk satu bulan lamanya. Tidak ada tawar menawar sama sekali. Jika tidak mau berarti gugur dan gagal bagi Arya untuk bisa menjadi ayah sambung bagi, Alvaro.
"Kiara, kamu memberikan tantangan ini sebagai balas dendam ya? atas apa yang aku lakukan dulu terhadapmu?" tanya Arya menyelidik.
"Bukan, mas. Aku hanya ingin kamu merasakan sejenak jika menjadi aku yang dulu rasanya seperti apa?" ucap Kiara.
"Lantas kenapa juga dulu kamu tidak berpenampilan seperti sekarang ini?" tanya Arya heran.
Kiara menceritakan bagaimana kisah hidup keluarganya pada waktu dulu ia masih kuliah. Ia bisa kuliah itu juga karena berusaha sendiri. Kerja sambil kuliah, dan juga ia berjuang untuk Riko.
Kebetulan dulu, Ayah Darwo pernah alami suatu kecelakaan hingga untuk waktu yang cukup lama, ia tak bisa bekerja. Hingga Kiara mau tidak mau berusaha membantu ibunya mencari uang. Karena hasil dagang dan dari buruh cuci itu tidaklah seberapa.
Makanya dulu ia berpenampilan seadanya, karena ia tak sempat untuk berdandan apa lagi untuk membeli make up. Ia lebih suka uang untuk membantu ekonomi orang tuanya.
Mendengar cerita masa lalu dari Kiara, Arya semakin merasa bersalah. Karena dulu dia yang sangat kasar dan selalu saja membuly dan mengejek penampilan, Kiara.
Padahal di balik penampilan Kiara, tersimpan sejuta permasalahan di dalam kehidupannya. Tetapi selama dia kuliah memang tidak pernah mengeluh apa pun dan pada siapapun.
Arya dulu juga sempat heran, yang selalu melihat keceriaan Kiara. Walaupun selalu ia bully dan ia ejek.
"Kiara, aku minta maaf ya? atas apa yang dulu pernah aku lakukan padamu," ucap Arya.
Kiara hanya menyunggingkankan senyumnya. Ia sama sekali tidak ada rasa marah atau benci pada, Arya. Kiara seorang wanita yang sangat baik, hingga tak pernah dendam pada semua orang yang telah menyakiti dirinya.
Jika ia di sakiti, ia berusaha melupakan orang yang telah menyakiti dirinya. Dan sebisa mungkin menjauhi orang yang telah menyakiti dirinya.
__ADS_1
"Sudahlah, mas. Tak perlu minta maaf. Itu kan masa lalu yang sudah berlalu. Bisa di jadikan sebagai pelajaran, supaya kita tak melihat seseorang dari penampilan luarnya saja," ucap Kiara.
Keesokan harinya Arya pun apa mulai merubah penampilannya menjadi seperti yang diinginkan oleh, Kiara. Pada saat ia datang ke kantor, semua para pegawainya menatap heran padanya. Begitu pula dengan asisten pribadinya. Mereka seolah ingin tertawa, tetapi mereka menahannya karena khawatir mendapatkan amarah darinya.