
Setelah cukup jauh Milka mengikuti laju mobil papahnya. Ia pun jenaka menarik nafas panjang," Ya ampun ternyata papah ke rumah Joni. Aku pikir dia akan pergi kemana. Sebaiknya aku kirim chat pesan saja pada, Joni nanti. Sekarang aku pulang saja dulu."
"Aku pikir Papah akan pergi ke mana? ke rumah Joni aja pakai arahnya muter-muter nggak karuan. Sialan banget sih, apakah papah mengetahui jika aku mengikutinya ya? sehingga ia melajukan mobilnya ke rumah Joni."
Sejenak Milka menafsirkan banyak hal yang ada di otaknya tentang sikap Papahnya tadi.
Milka pun melajukan mobilnya menuju arah pulang, ia agak sedikit kecewa karena kecurigaannya terhadap papahnya ternyata salah.
Sementara papahnya memang sempat melihat Milka mengikuti laju mobilnya, hingga ia pun mengalihkan lajunya menuju ke rumah Joni.
"Tidak seperti biasanya Milka mengikutiku. Apakah ia mencurigaiku, lantas apa yang membuatnya curiga padaku ya? aneh juga sifatnya itu," batin Papahnya Milka.
Ternyata papahnya Milka mengetahui jika dirinya di ikuti oleh Milka. Sedangkan Joni dan mamahnya sedikit heran pada saat melihat kedatangan Papahnya Milka.
"Joni, untuk apa Papahnya Milka datang kemari?" bisik Lyla
"Entahlah, mah. Aku juga nggak tahu, nanti coba aku tanyakan," bisik Joni.
Pada saat papahnya Milka sudah ada di depan mata, barulah Joni bertanya," ada apa om? tumbenan datang kemari? mari silahkan duduk."
Papahnya Milka lebih memilih duduk di teras halaman. Sedangkan Mamah Lyla melangkah masuk ke dalam rumah untuk meminta asisten rumah tangganya membuatkan minuman bagi papahnya Milka.
"Sebenarnya Om tidak berniat untuk datang kemari, tetapi pada saat Om keluar membawa mobil, tidak sengaja melihat Milka mengikuti laju mobil Om, hingga Om pura-pura ke sini," ucap Papahnya Milka tanpa ada rasa sungkan.
"Memangnya om akan kemana? kok khawatir jika Milka mengikuti om?"
"Uhuk Uhuk!"
Mendadak Papahnya Milka terbatuk-batuk pada saat ia sedang minum, karena mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Joni kepadanya.
"Maaf ya, om. Jika pertanyaanku membuat Om jadi tersedak."
Joni merasa tidak enak kepada Papahnya Milka.
"Nggak kok, kebetulan Om memang sedang gatal tenggorokannya. Cuma dari tadi Om tahan supaya tidak terbatuk-batuk di depanmu karena nggak enak, eh ternyata malah nggak bisa ditahan. Om yang minta maaf, ya."
Papahnya Milka sengaja berbohong.
"Aneh, sepertinya ada yang sedang disembunyikan oleh Papahnya Milka. Karena ia tidak mau menjawab dengan jujur pada saat aku tanya akan pergi ke mana," batin Joni.
"Joni, apa benar kamu nggak tahu menahu tentang rumah Mayang?" tanya Papahnya Milka.
__ADS_1
"Benar, om. Aku kenal Mayang hanya sekilas saja, om. Pada saat itu dia menawarkan barang-barang jualannya, karena dia itu SPG perabot rumah tangga," ucap Joni berbohong.
"Memangnya untuk apa, om tanya tentang Mayang? bukannya om nggak ingin dia tahu jika om itu ayah kandungnya?" tanya Joni.
"Bukan seperti itu, om hanya ingin memastikan apakah memang benar jika Mayang saudara kembar Milka. Bisa jadi hanya mirip saja," ucapnya.
"Maaf ya, om. Sekarang malah aku nggak pernah berhubungan dengan Mayang lagi. Hanya pada saat dia menawarkan barang dagangnya saja."
Setelah cukup lama, Papahnya Milka ada di rumah Joni. Ia pun berpamitan pulang, tetapi tanpa sepengetahuan Joni, ia tidak pulang ke rumah melainkan ke suatu tempat.
" Aku mengatakan tentang hal ini kepada Milka atau tidak ya? males sih jika aku mengatakannya, tetapi jika tidak di dalam hatiku ada rasa tek tenang," batinnya gundah gulana.
Tetapi Joni memutuskan untuk diam saja, dia malas jika mengirimkan chat pesan pada Milka, mengingat sifatnya yang terlalu kasar padanya.
Sementara di rumah, Milka terus saja memainkan ponselnya. Ia berharap Joni mengirimkan chat pesan atau telpon padanya, tetapi tak juga ponsel berseru mendering atau bergetar.
"Ist, satu jam lamanya aku menunggu kabar dari Joni, tetapi tak jua ia menghubungiku. Apakah memang papah masih berada di sana? tetapi sepertinya itu tidak lama mungkin. Apakah sebaiknya aku yang mengirimkan chat pesan terlebih dahulu kepadanya ya?"
Milka juga merasakan hal yang sama, ia gundah gulana ingin menghubungi terlebih dahulu tetapi ia gengsi. Menunggu Joni menghubunginya terlalu lama. Hingga pada akhirnya Milka menelpon nomor ponsel, Joni.
Kring kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel Joni, ia pun mengangkat panggilan telepon tersebut.
📱" Iya benar sekali ada urusan apa papah ke rumahmu?"
📱" Dia hanya menanyakan apakah aku benar-benar tidak mengetahui rumah Mayang, hanya itu saja setelah itu dia pergi."
📱" Jam berapa papah pergi dari rumahmu?"
📱" Kurang lebih tiga puluh menit yang lalu. Papahmu mengatakan ingin pulang ke rumah."
📱" Baiklah kalau begitu terima kasih atas informasinya."
Saat itu juga Milka mematikan panggilan telepon ke nomor ponsel, Joni.
"Jika papah pulang dari rumah Joni tiga puluh menit yang lalu, kenapa sampai sekarang belum sampai juga ya! seharusnya sudah dari tadi," gumamnya.
Padahal saat ini Papahnya Milka sedang menuju ke sebuah rumah salah satu orang yang terkenal garang. Seorang pembunuh bayaran kelas kakap. Papahnya Milka ingin meminta tolong pada pria garang itu untuk mencari Mayang dan menghabisinya. Karena dia tak ingin aib di masa lalunya terbongkar oleh Milka dan istrinya.
Karena pada dasarnya, semua harta yang di miliki olehnya adalah sepenuhnya milik istrinya. Dia hanya numpang hidup saja. Tetapi Milka juga tak mengetahui akan hal ini, karena mamahnya sama sekali tidak pernah bercerita tentang hal ini.
__ADS_1
"Sebenarnya papah pergi ke mana sih ya? kok aku menjadi penasaran sekali. Tetapi bagaimana caranya aku mengetahui tentang keberadaan papah saat ini. Seharusnya tadi aku tidak pulang, tetapi mengintai papah pada saat dia ada di rumah Joni, sehingga aku tidak kehilangan jejak seperti ini."
"Sebaiknya aku memerintahkan anak buahku untuk mengurus hal ini, menyelidiki keberadaan papah saat ini. Aku tidak ingin berlama-lama seperti ini."
Saat itu juga Milka menghubungi beberapa anak buahnya yang bisa dipercaya untuk segera mencari di mana keberadaan papahnya saat ini. Kebetulannya Milka punya beberapa anak buah, sehingga dengan mudah ia memerintahkan beberapa anak buahnya tersebut untuk menyebar ke sekelilingnya kota tersebut, guna mencari keberadaan papahnya.
Hanya dalam beberapa menit saja salah satu anak buah Milka berhasil menemukan keberadaan papahnya.
[Non Milka, papah anda saat ini berada di sebuah rumah milik seorang pria yang terkenal dengan profesinya yang begitu garang yakni sebagai pembunuh bayaran.]
Milka tersentak kaget pada saat membaca chat pesan dari salah satu anak buahnya.
"Astaghfirullah aladzim, untuk apa papah berada di rumah seorang pembunuh bayaran? siapa kiranya yang akan dihabisi olehnya?"
Milka pun mengirimkan chat pesan kepada salah satu anak buahnya tersebut.
[Tolong tuliskan alamat lengkap pembunuh bayaran tersebut dan kirimkan ke chat pesan sekarang juga.]
Saat itu juga anak buahnya mengirimkan chat pesan balasan berupa alamat rumah milik pembunuh bayaran tersebut.
Milka tidak tinggal diam, ia segera menyelidiki akan hal itu. Karena ia tidak ingin papahnya melangkah terlalu jauh sampai harus menghabisi seseorang.
"Keterlaluan sekali! Papah akan bertindak sampai sejauh ini. Aku tidak akan tinggal diam, apapun yang papah lakukan sebisa mungkin akan aku halangi supaya niat jahatnya itu tidak bisa terlaksana!"
"Papah pikir hanya papah saja yang bisa melakukan segala cara dan memiliki banyak anak buah? aku juga banyak kenalan, banyak anak buah. Lihat saja, Pah. Pasti niat papah yang jahat itu tidak akan terlaksana!
Milka mempunyai cara tersendiri untuk bisa menggagalkan rencana Papahnya tersebut. Milka memerintahkan anak buahnya yang paling senior untuk selalu mengikuti kemanapun perginya pembunuh bayaran yang telah diperintahkan oleh papahnya.
Supaya rencana jahat Papahnya bisa digagalkan dan tidak ada korban nyawa.
"Semoga saja usahaku berhasil, tidak ada korban nyawa," batin Milka.
Pembunuh bayaran yang di perintahkan oleh Papahnya Milka segera bertindak. Begitu pula dengan anak buah Milka. Dua orang anak buahnya segera beraksi, mereka sama sekali tidak gentar untuk selalu mengikuti pembunuh bayaran tersebut.
Uanglah yang berkuasa, hanya dengan uang setiap orang mampu melakukan segala macam cara tanpa harus bekerja keras melakukan kekejian dengan tangan sendiri. Hanya tinggal memerintah orang saja dan memberikan jumlah uang yang telah disepakati segala pekerjaan akan beres.
Begitu halnya dengan yang dilakukan oleh, papahnya Milka. Ia tidak ingin mengotori tangannya sendiri untuk menghabisi anaknya sendiri, tetapi ia memerintah pembunuh bayaran.
Apa yang di lakukan oleh Papahnya juga di lakukan oleh Milka. Dimana dia juga memerintahkan anak buahnya untuk menggagalkan rencana jahat dari papahnya sendiri. Ia nggak ingin ada nyawa yang melayang karena tindakan keji dari papahnya.
"Jika memang yang di incar oleh papah adalah Mayang, aku tidak akan pernah memaafkannya sama sekali. Karena ini sudah di luar batas kewajaran. Masa iya anak kandung sendiri akan di lenyapkan begitu saja. Dan ini juga tidak bisa di biarkan."
__ADS_1
"Walaupun aku harus menentang ayah kandungku sendiri akan aku lakukan. Jika hal itu menyangkut suatu kejahatan!"
"Semoga saja anak buahku mampu mengalahkan pembunuh bayaran itu, Sehingga tidak ada korban nyawa."