
Namun Papahnya Milka sama sekali tidak mendengarkan apa yang barusan di katakan oleh Bima.
"Aku sudah tak percaya dengan segala yang kamu katakan! setelah apa yang dulu pernah kamu lakukan pada, Milka! sekali pembohong, selamanya kamu pembohong!"
"Pokoknya aku nggak mau tahu ya, kamu harus segera risgn dari perusahaan Milla secepatnya! jika tidak aku akan membuatmu menderita! aku bisa melakukan apapun! camkan itu!"
Setelah mengatakan banyak hal dan memberikan ancaman pada Bima, Papahnya Milka lekas melangkah masuk ke dalam mobil dan meminta sang sopir segera pergi dari rumah kontrakan Bima.
Di dalam hatinya begitu kesal dan marah pada Bima. Sejenak ia pun teringat dengan apa yang pernah di lakukan Buka di masa lalu pada, Milka.
"Dia pikir aku ini anak kecil yang mudah di bohongi dengan kata-kata manisnya! dasar pembohong, makanya pintar sekali dalam bertutur kata! lihat saja ya, Bima! ancaman ini tidak main-main, jika kamu tetap bertahan di perusahaan baru milik Milka, aku akan bertindak kasar!" batinnya seraya mengepalkan tinjunya dan memukul-mukulkan pada jok mobil yang sedang ia tumpangi.
Sang sopir yang sempat melihat itu dari lirikannya lewat kaca spion mobil merasa heran dan penasaran. Tetapi ia sama sekali tidak berani untuk bertanya, karena ia sudah paham dengan tabiat majikannya itu. Jika sudah marah akan terlihat sangat garang dan menakutkan.
"Heh, apa kamu lihat-lihat! fokus saja dengan kerjaanmu tahu!" bentaknya hingga membuat sang sopir sempat terlonjak kaget.
"Astaghfirullah aladzim, ini orang sudah tua. Tetapi kok masih saja lantang banget suaranya," batin sang sopir.
Ia pun tak berani lagi melirik majikannya, ia fokus dengan kemudinya karena tak ingin mendapatkan bentakan lagi dari majikannya.
Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Karena tak ingin Milka tahu jika dirinya habis pergi pagi-pagi benar.
Seperginya Papahnya Milka, Bima menjadi dilema. Karena ia sudah kerasan bekerja di perusahaan Milka.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? jika aku risgn, aku belum tentu mendapatkan pekerjaan yang layak seperti di perusahaan Milka. Tetapi jika aku terus di sana bagaimana dengan ancaman dari papahnya Milka ya?"
"Aku bukan takut dengan ancamannya, teyali aku tidak ingin berselisih paham dengannya. Aku harus apa ya Allah?"
Terus saja Bima gelisah memikirkan cara yang tepat untuk bisa menyelesaikan permasalahan yang telah terjadi.
__ADS_1
Di lain tempat, Arya sedang kedatangan tamu yakni Joni. Ternyata Joni adalah rekan kerja Arya. Mereka telah lama bekerja sama dan menjalin persahabatan.
"Joni, bagaimana tahap pendekatan dirimu terhadap Milka?" tanya Kiara.
"Hem, susah sekali. Hingga saat ini aku belum berhasil juga untuk bisa dekat dengannya. Padahal dari awal aku bertemu dengannya di sebuah cafe, aku langsung jatuh cinta."
"Dan rasa cintaku ini bertambah besar pada saat aku bertemu lagi di acara resepsi pernikahanmu dulu dengan Arya."
"Aku bingung, harus bagaimana lagi cara yang aku lakukan untuk bisa meluluhkan dirinya. Kamu kan sahabatnya, Kiara. Kenapa kamu nggak bantu aku sih?"
Mendengar kata-kata dari Joni, membuat Kiara dan Arya terkekeh.
"Enak saja minta Istriku ini untuk membantumu. Itu sama saja kamu nggak mau berusaha dong? aku saja dulu berusaha mati-matian untuk bisa mendapatkan Kiara. Masa kamu tidak bisa sih, berusaha sendiri?" ejek Arya.
Joni pun mengerucutkan bibirnya pada saat mendengar apa yang barusan di katakan oleh Arya. Hatinya merasa sedikit tersentil.
Awalnya Kiara dan Arya juga tak tahu jika ternyata semua kekayaan yang dimiliki oleh Bima adalah milik Joni. Semua terkuak pada saat Joni dan Mamahnya datang di acara resepsi pernikahan Kiara dan Arya.
Dan setelah beberapa pekan, Arya pun bertanya pada Joni. Dari mana ia bisa kenal dengan Mamah Nindy. Dan pada saat itu juga, Joni pun menceritakan semuanya pada Arya hingga Arya dan Kiara kini telah tahu semua masa lalu Bima dan mamahnya.
Persahabatan antara Joni dan Arya terjalin sangat erat. Mereka benar-benar sudah seperti saudara. Bahkan kerap kali mamah Joni berkunjung ke rumah Kiara ataupun ke rumah orang tua Arya.
******
Esok menjelang.....
Dimana Bima sedang gundah gulana. Karena ia ingat akan ancaman dari Papahnya Milka. Padahal ia sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja, tetapi ia merasa ragu.
Ia duduk di tepi ranjang , seraya melamun sendiri. Hingga lamunan buyar tat kala mamah Nindy memanggil nya dengan lantang.
__ADS_1
"Bima, sudah siang. Kenapa kamu nggak berangkat juga sih, nanti terlambat loh."
Bima sama sekali tak menjawab perkataan lantang Mamahnya, ia pun bangkit dari duduknya dan lekas melangkah keluar dari kamarnya menuju ke pelataran rumah dimana motor maticnya sedang di panaskan mesinnya.
Saat itu juga, ia pun memutuskan untuk berangkat ke kantor. Walaupun di dalam hatinya masih ada rasa gundah gulana.
"Bismillah, semoga tidak ada halangan apapun ya Allah. Niatku bekerja bukan untuk mencari perhatian dari Milka atau bahkan ingin kembali pada nya," batin Bima.
Dengan langkah pasti, Bima melajukan motornya. Ia bahkan sama sekali tidak pamit pada Mamah Nindy. Karena kebetulan Mamah Nindy sedang pergi ke warung sebelah.
Tak berapa lama, sampailah Bima di perusahaan baru milik Milka. Ia pun melajukan motor maticnya menuju keparkiran khusus motor. Setelah itu ia melangkah pasti menuju ke kantor.
Tetapi belum juga ia masuk ke dalam kantor, langkahnya terhenti. Karena di hadapannya seseorang yang tak asing lagi menghadang dirinya.
"Kau?"
"Heh, kau? kenapa kamu ada di kantor Milka? tunggu-tunggu, jangan katakan jika kamu bekerja di kantor ini," ucapnya.
"Memangnya kenapa jika aku bekerja di kantor ini? aku sudah sejak lama kok, bekerja di sini," ucap Bima lantang.
"Astaga... apakah Milka tidak tahu jika kamu ini tukang tipu? aku tidak akan membiarkan kamu bekerja di kantornya, karena aku yakin kamu pasti punya niat yang tidak baik padanya," ucapnya ketus.
Milka yang baru saja datang, heran melihat dua pria yang ia kenal sedang bersi tegang tepat di depan pintu masuk kantor.
'Heh, kalian sedang apa di sini? apa kalian tidak lihat, mengganggu lalu lalang karyawanku yang lain yang akan masuk ke dalam kantor," tegur Milka.
"Milka, apa kamu mempekerjakan Bima?" tanya pria itu yang tak lai adalah Joni.
"Iya, benar. Memangnya kenapa sih? kok kamu kenal dengan, mas Bima?" Milka malah balik bertanya.
__ADS_1