
Malam yang telah di tunggu oleh Arya kini telah datang. Ia begitu senang karena akan ke rumah Kiara.
"Kali ini kamu nggak akan bisa menghindar lagi dariku, Kiara. Aku yakin saat ini kamu pasti akan jujur tentang isi hatimu padaku," batin Arya tersenyum sendiri.
Kali ini Arya datang ke rumah Kiara bersama dengan sopir pribadinya, karena ia tidak ingin kelelahan mengemudikan mobilnya setelah seharian bekerja di kantor. Hingga tak terasa kini, mobil yang ditumpangi oleh Arya telah sampai di pelataran rumah Kiara.
Kebetulan di teras halaman orang tua Kiara sedang bersantai. Hingga mereka berdua bisa melihat kedatangan, Arya. Sang ayah menyambut Arya sedangkan sang Ibu melangkah masuk ke dalam rumah untuk memberitahu kepada Kiara tentang kedatangan, Arya.
"Kiara, Arya telah datang. Cepat kamu temui dirinya dan jangan menghindar lagi. Ibu nggak mau jika kamu menghindari Arya seperti yang sudah-sudah. Ingat pesan ibu ya."
Hingga dengan terpaksa, Kiara pun melangkah untuk menemui Arya. Walaupun di dalam hatinya ia sungkan untuk menemui, Arya. Karena ia tahu jika Arya akan meminta kejujuran padanya tentang isi hatinya saat ini.
"Mas Arya, sudah lama?" sapa Kiara.
"Baru saja," ucap Arya tersenyum manis pada Kiara.
Melihat Kiara telah datang, Ayah Darwo pun melangkah masuk ke dalam rumah. Karena ia tak ingin menggangu urusan anak muda.
"Semoga saja Mas Arya tidak menanyakan hal yang pernah ditanyakannya pada saat ada di kantor," batin Kiara gelisah.
"Kiara, aku yakin di dalam hatimu sedang gelisah memikirkan apa yang akan aku katakan, iya bukan?" tanya Arya seraya Menaik turunkan alisnya menatap ke arah Kiara.
"Pede banget sih kamu, Mas. Belum tentu aku sedang memikirkan akan apa yang ingin kamu katakan padaku," ucap Kiara manyun.
"Mas Arya, tahu saja apa yang saat ini ada di dalam pikiranku seperti cenayang saja," batin Kiara.
__ADS_1
Arya terus saja menatap ke arah Kiara, hingga Kiara menjadi salah tingkah di buatnya. Ia benar-benar merasa tak karuan.
"Kiara, aku memang datang kemari untuk melanjutkan pertanyaanku yang tadi siang. Tolong jawab pertanyaan itu sekarang juga, Kiara? jangan kamu sembunyikan rasamu padaku, seperti aku juga tak menutupi rasaku padamu, bukan?" bujuk Arya terus saja tak berhenti menatap ke arah Kiara.
Sementara Kiara tak berani menatap ke arah Arya, sejak ia merasakan getaran cinta. Ia sudah tak berani menatap Arya terlalu lama.
"Kiara, aku bisa kok merasakan perubahan yang terjadi pada dirimu. Dimana dulu kamu selalu sanggup menatapku. Tetapi kini kamu tak bisa menatapku lama, kamu selalu saja menatap ke lain arah," goda Arya terkekeh.
Sejenak Kiara hanya diam saja, ia gengsi untuk mengatakan bahwa dirinya memang sudah mulai merasakan getaran cinta pada, Arya.
"Kiara, aku mencintaimu dan kini rasa cintaku sudah terbalaskan olehmu. Lantas untuk apa kamu menutupi hal ini? karena ini yang telah aku tunggu sejak lama, yakni kamu membalas rasa cintaku padamu. Ayohlah, Kiara. Jangan kamu sembunyikan lagi esa cintamu ini padaku."
Karena Arya terus saja membujuk Kiara, hingga pada akhirnya Kiara pun berkata jujur padanya.
"Iya, mas. Aku sudah bisa merasakan getaran cinta seperti yang kamu rasakan. Sejak datangnya mantan pacarmu itu. Padahal aku ingin membenci dirimu, tetapi semakin aku mencoba untuk benci dirimu, malah rasa ini ....
Kiara pun menganggukkan kepalanya seraya tersipu malu.
"Yes...ini yang sudah lama aku harapkan darimu. Cintaku yang dulu bertepuk sebelah tangan, kini sudah tak lagi. Alhamdulillah ya Allah, aku sang senang sekali. Ehh... bukan hanya senang, tetapi aku sangat bahagia sekali."
Arya tak sadar ia berdiri setaya berjingkrak-jingkrak kegirangan karena rasa cintanya pada Kiara kini telah terbalaskan.
"Lantas apakah dengan adanya rasa cintamu ini, kamu sudah siap untuk menikah denganku?" tanya Arya sumringah.
"Ist, Mas Arya. Memang sudah tak sabar ya, ingin menikah?" tanya Kiara.
__ADS_1
Arya memang sudah tak sabar ingin menikahi Kiara secepatnya. Ia tak ingin menunggu lama lagi. Karena baginya sudah cukup terlalu lama, menunggu rasa cintanya terbalaskan oleh Kiara.
"Jujur, memang aku sudah ingin menikah denganmu. Aku memang tak ingin menunggu terlalu lama lagi. Kita sudah sama-sama cinta, lantas apa lagi yang kamu tunggu?"
"Tapi aku juga tidak akan memaksa dirimu untuk segera menikah denganku. Aku hanya mengatakan apa yang aku inginkan di dalam hatiku ini. Aku tidak ingin munafik, Kiara."
Mendengar apa yang di katakan oleh Arya, sejenak Kiara kembali terdiam. Sebenarnya ia sudah bisa menikah, karena masa Iddahnya telah terlewatkan.
"Kiara, aku tidak akan mengatakan banyak kata-kata manis dan janji-janji manis. Tetapi aku akan membuktikan dengan segala tindak tandukku padamu. Insyaallah, aku tidak akan seperti Bima," ucap Arya mencoba meyakinkan Kiara.
"Baiklah, mas. Aku akan menerima pinanganmu, aku juga tidak ingin mengecewakan dirimu yang sudah terlalu lama menunggu diriku," ucap Kiara.
"Serius, Kiara? apakah kamu mengatakan hal ini bukan karena merasa tidak enak padaku? apakah kamu tulus ikhlas mengucapkan hal ini, bukan karena keterpaksaan? karena aku tak ingin kamu terpaksa, jika kamu belum siap aku juga tidak akan memaksa dirimu," ucap Arya menatap sendu ke arah Kiara dimana Kiara hanya sesekali menatap ke arah Arya.
"Mas, aku tulus ikhlas mengatakan ini dari dalam hatiku. Bukan karena unsur keterpaksaan semata,' ucap Kiara meyakinkan Arya.
"Baiklah, Kiara. Secepatnya aku akan mengajak orang tuaku untuk datang melamar dirimu dan sekaligus menentukan waktu yang tepat untuk kita segera menikah," ucap Arya sangat antusias sekali.
Mereka kini bercengkrama panjang lebar, dan Arya juga sempat turut makan malam di rumah Kiara. Setelah selesai makan malam, Arya juga mengatakan kepada orang tua Kiara. Jika dalam waktu dekat, dirinya akan datang dengan orang tuanya untuk melamar Kiara.
Orang tua dan adik Kiara sangat senang mendengar aka yang barusan di katakan oleh, Arya.
"Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya Kiara akan berbahagia juga. Setelah apa yang ia alami dengan pernikahan dirinya yang telah lalu," batin Bu Darti.
Ayah Darwo juga merasakan bahagia di dalam hatinya. Mereka yakin jika kali ini, Kiara akan berbahagia selamanya bersama dengan Arya. Karena sifat Arya sangat berbeda jauh dengan Bima.
__ADS_1
Setelah cukup lama berada di rumah Kiara, Arya pun berpamitan pulang pada Kiara dan juga orang tuanya.
Sepanjang perjalanan pulang, Arya tisda hentinya terus saja tersenyum. Ia benar-benar sedang merasakan bahagia.