
Milka hanya bisa menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya pada saat melihat kepergian Papahnya dari ruang kerjanya.
"Memang apa yang dilakukan Papah itu tidak ada salahnya, tapi juga tidak ada benarnya. Semua yang dilakukan papah gara-gara kesalahan yang pernah Mas Bima lakukan dahulu. Padahal saat ini aku bisa merasakan jika Mas Bima benar-benar berubah, dia tidak seperti dulu lagi. Semoga saja selamanya Mas Bima berubah menjadi orang yang baik, dan semoga saja salah satu temanku menerimanya bekerja di perusahaannya. Kasihan juga jika dia harus menganggur kembali."
Selagi pikirannya tertuju pada Bima, tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka oleh seseorang yang tak asing lagi yakni Joni."
"Haduh.. dia lagi dia lagi, pasti niatnya kemari juga sama seperti Papah. Hanya ingin mengecek apakah Mas Bima masih bekerja di kantor ini atau tidak," batin Milka tak suka melihat kedatangan Joni.
"Apa nggak bisa ya, mengetuk pintu dulu? main nyelonong saja, nggak punya rasa sopan santun sama sekali," tegur Milka ketus.
"Maafkan hamba, Tuan Putri." Joni terkekeh, ia pun berbalik arah mengulangi keluar dari arah pintu dan mengetuk pintu ruang kerja tersebut.
Setelah itu Joni duduk di hadapan Milka dengan terus menatapnya tanpa berkedip. Hal ini membuat Milka ilfil dan tak suka dengan tetapan nakal dari Joni," bisa nggak jangan menatapku seperti itu? aku tidak suka cara kamu menatap diriku."
"Astaga... salah lagi. Apa nggak bisa sedikit bersikap manis padaku, Milka. Apa-apa aku salah di matamu. Jika kamu pernah di kecewakan oleh pria, janganlah melimpahkan kesalahan pria itu padaku. Karena tusak semut pria itu sama, jadi jangan kamu sama ratakan."
Perkataan dari Joni membuat Milka semakin tak suka padanya," apa maksud perkataanmu itu? aku juga sudah tahu kok, kamu datang kemari hanya ingin mengecek apakah Mas Bima masih bekerja di sini atau tidak, iya kan?"
"Memangnya aku salah ya, jika aku cemburu pada Bima? karena aku benar-benar cinta dan sayang padamu, Milka. Rasa cemburu ini wajar kan?". ucap Joni.
__ADS_1
"Cemburu kamu bilang? memang aku ini siapamu, hingga kamu cemburu? kita sama sekali tidak ada hubungan apa pun, hanya sebatas kenal biasa. Kenapa kamu harus cemburu? belum menjadi kekasih saja sifatnya sudah buruk seperti ini, apa lagi jika aku benar-benar telah menjadi kekasihmu," ejek Milka kesal.
"Apa maksud perkataanmu itu, Milka?" tanya Joni merasa tidak tahu.
"Masa iya kamu tidak tahu apa yang barusan aku katakan? kamu belum jadi pacarku saja sudah cemburuan seperti ini, apalagi jika aku benar-benar sudah menjadi pacarmu, bisa-bisa kamu ini bersikap posesif terhadapku," ucap Milka kesal.
"Astaga.. sampai sejauh itu pikiranmu terhadapku, Milka. Aku cemburu pada Bima karena ada alasannya, dia itu pernah menjadi pacarmu. Makanya aku cemburu dan khawatir jika suatu saat nanti kamu akan kembali lagi padanya, sementara aku benar-benar tulus cinta kepadamu," ucap Joni.
"Mas Joni, aku mohon kepadamu tak usahlah kamu memaksakan rasa cintamu itu kepadaku. Karena aku benar-benar tidak mempunyai rasa cinta sedikitpun kepadamu. Aku mau dekat denganmu hanya sebatas teman, itupun karena kamu itu teman dari Kiara-Arya."
"Aku tidak mau menerimamu bukan berarti karena aku benci dengan semua lelaki, atau aku trauma dengan kegagalanku dalam menjalin hubungan percintaanku. Aku tidak menerimamu, karena memang tidak ada getaran rasa cinta sedikitpun kepadamu. Jadi aku mohon maaf dan aku mohon sekali padamu Mas Joni untuk tidak terus-menerus mendekati aku seperti ini. Karena aku merasa tidak nyaman dan sangat terganggu."
"Aku tahu itu...jika kamu saat ini belum bisa mencintaiku. Tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan bisa menerimaku
dan mencintaiku sepenuh hatimu," ucap Joni dengan percaya dirinya.
"Terserah apa penafsiranmu terhadapku Mas Joni. Tetapi asal kamu tahu saja, aku tidak akan menghiraukanmu seperti pada awalnya, karena aku tidak ingin kamu salah paham dengan kebaikanku, dengan perhatianku. Aku tidak ingin memberikan harapan palsu kepadamu, makanya aku mengatakan semuanya hari ini."
Milka sengaja ti the point, karena selama ini dia mencoba bersikap baik pada Joni, tetapi di salah artikan. Hingga kini Milka mengatakan semuanya pada, Joni.
__ADS_1
"Pulanglah, Mas Joni. Karena aku harus bekerja dan tidak ada waktu untuk ngobrol lebih lsma lagi denganmu!" usirnya seraya mulai membuka berkas yang ada di hadapannya.
Dengan sangat terpaksa akhirnya Joni pergi meninggalkan ruang kerja Milka. Ia begitu kecewa dengan semua perkataan yang barusan dilontarkan oleh Milka.
"Kenapa malah jadi seperti ini ya? semakin ke sini malah Milka semakin jauh padaku. Bukannya semakin mendekat, dia semakin menjauh. Apakah aku harus menyerah saja? rasanya lelah sekali untuk bisa mendapatkan hatinya," gerutunya di dalam hatinya.
Joni mulai berputus asa, dia sudah tidak yakin lagi dengan dirinya sendiri. Setelah mendengar pengakuan Milka yang sesungguh, bahwa dirinya sama sekali tidak ada rasa suka apa lagi rasa cinta pada Joni. Ia merasa sudah pupus dan musnah harapannya untuk bisa meluluhkan hati Milka.
Baru kali ini dia merasakan begitu sulit untuk bisa mendapatkan hati seorang wanita. Padahal biasanya wanita yang mengejar-ngejar dia. Tetapi tidak dengan Milka, dia benar-benar wanita yang lain daripada yang lain.
"Oh iya, maksud dan kedatanganku ini memang sebenarnya untuk mengecek, apakah memang Bima masih ada di sini? semuanya terlupakan begitu saja gara-gara Milka," batin Joni.
Dia pun membalikkan tubuhnya melangkah ke ruang kerja Bima. Tetapi sebelum ia sampai, ada seorang karyawan menegurnya," mencari Mas Bima ya mas? dia sudah risgn tadi pagi."
"Masa sih, mba?" Joni merasa tidak percaya.
"Iya, mas. Beneran kok, karena sebelum pergi Mas Bima sempat pamit pada karyawan yang lain termasuk saya," ucap wanita itu.
Joni pun bisa tersenyum di dalam hatinya, mendengar Joni telah risgn. Ada rasa senang tapi ada rasa percuma saja. Karena ia sudah tahu jika Milka sama sekali tidak ada rasa cinta sedikitpun padanya.
__ADS_1
"Hem, syukurlah jika Bima sudah tidak ada di kantor ini. Berarti sudah hilang penghalangku, tetapi bagaimana caraku untuk bisa mendapatkan hati Milka? dia begitu keras hati, tidak seperti wanita pada umumnya. Padahal aku ini ganteng, kok Milka nggak melirikku sedikitpun ya?" batin Joni.