
Berkat bantuan dari Milka, pada akhirnya Bima mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada saat bekerja di perusahaan Milka.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Atas rezekimu ini, atas kesempatan yang Engkau berikan kepadaku sehingga aku masih diperkenankan untuk menjadi seorang direktur di sebuah salah satu perusahaan yang direkomendasikan Milka kepadaku," Bima mengucap syukur di dalam hatinya.
"Engkau telah memberikan pertolongan kepadaku lewat Milka, semoga kebaikannya mendapatkan ganti yang berlipat-lipat," batin Bima.
"Aku akan menelpon Milka, untuk memberikan kabar baik ini kepadanya. Supaya ia tidak gelisah memikirkanku telah mendapatkan pekerjaan kembali atau belum."
Saat itu juga Bima meraih ponselnya, untuk menelpon Milka. Panggilan telepon yang masuk ke dalam nomor ponsel Milka, lekas diangkat olehnya.
📱" Halo Mas Bima, apakah ada suatu masalah?"
📱" Nggak ada masalah sama sekali Milka, justru aku ingin memberitahu kabar baik kepadamu. Berkat pertolonganmu yang telah memberikan rekomendasi beberapa perusahaan milik temanmu, pada akhirnya aku diterima di salah satu perusahaan tersebut dan langsung mendapatkan kedudukan sebagai seorang direktur."
📱" Alhamdulillah... aku ikut senang mendengarnya, Mas. Semoga semakin hari semakin sukses. Dan jangan pernah kamu ulangi kesalahan dulu yang pernah kamu lakukan. Hanya itu saja pesan dariku."
📱" Terima kasih, Milka. Atas segala kebaikanmu, aku yakin suatu saat nanti Allah akan membalas kebaikanmu dengan berlipat-lipat kebaikan pula."
📱" Sama-Sama Mas Bima, semoga doanya berbalik kepada Mas juga Semangat selalu ya dalam bekerja."
Setelah sejenak menelpon Milka untuk memberitahu kabar bahagia yang telah ia dapatkan, Bima pun lekas menutup panggilan telepon tersebut. Begitu pula dengan Milka, mereka melakukan aktivitasnya kembali.
"Terima kasih ya Allah, akhirnya pertolonganku untuk Mas Bima tidak sia-sia. Karena ada salah satu perusahaan temanku yang mau menerima dirinya bekerja. Dengan begini hatiku tenang mendengarnya," gumamnya tersenyum.
Kini Milka sudah tidak gelisah lagi, tidak seperti pada mulanya di mana ia memikirkan akan kemana Bima bekerja setelah risgn dari perusahaannya.
Sore menjelang, Milka pulang dalam suasana hati yang gembira. Hal ini membuat kedua orang tuanya merasa heran dan juga penasaran, apa yang telah membuat Milka sebegitu riangnya tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Milka, apa yang membuat hatimu sepertinya senang sekali di sore ini?" tanya Papahnya.
"Nggak ada apa-apa, pah. Bukannya setiap hari wajahku seperti ini, kenapa masih saja dipertanyakan," ucap Milka sekenanya.
"Biasa bagaimana? hari ini kamu terlihat sangat berbeda dari biasanya kok. Kamu tidak bisa membohongi papah dan Mamah. Memangnya kami tidak boleh ikut merasakan kebahagiaanmu? sehingga kamu menyembunyikan sesuatu yang telah membuatmu menjadi bahagia seperti ini, ucap papahnya lagi karena masih merasa penasaran.
"Sudahlah, pah. Kenapa sih kamu ingin tahu saja apa yang telah membuat Milka sebahagia itu? bukannya kita juga harus senang melihatnya ceria tidak seperti hari-hari yang lalu," tegur mamah Milka.
"Istri sama anak memang sama saja."
Setelah mengucapkan kata terakhir, papahnya Milka masuk ke dalam rumah dengan melirik sinis ke arah Milka dan istrinya. Sementara istrinya hanya bisa menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Milka, mamah juga penasaran seperti papahmu. Sebenarnya apa sih yang telah membuat dirimu sebahagia ini?"
Ternyata mamahnya masih saja penasaran dengan perubahan yang terjadi pada Milka sore hari ini.
"Masa sih, hanya seperti itu? jangan-jangan kamu telah jatuh cinta dengan seseorang, atau bahkan telah mempunyai seorang kekasih hati tapi kamu tidak mengatakan hal itu pada mamah dan papah."
Sang Mamah belum juga percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Milka, ia terus saja membujuk Milka untuk mengatakan sejujurnya yang telah membuat hatinya begitu riang dan gembira. Milka pun diam saja, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya melangkah masuk rumah berlalu dari hadapan mamahnya.
"Anak-anak zaman sekarang memang aneh, suka sekali menyembunyikan hak pribadi dari orang tuanya. Tidak seperti masa remajaku dulu, di mana aku selalu terbuka dan jujur pada orang tuaku. Tidak ada yang disembunyikan sama sekali olehku. Hal sekecil apapun selalu aku ceritakan kepada orang tuaku tapi tidak dengan, Milka saat ini."
"Jangan sampai hal yang memalukan terjadi. Seperti pada remaja di sekitar rumah ini. Dimana tahu-tahu hamil. Ih amit-amit, kenapa aku tiba-tiba berpikiran negatif seperti ini ya?"
Terus saja Mamahnya Milka menggerutu di dalam hatinya, gara-gara tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Milka.
Dia pun melangkah masuk, menyusul suami dan anaknya yang telah terlebih dahulu masuk.
__ADS_1
*****
Sementara di dalam kamarnya, Papah Milka tiba-tiba ingin menelpon Joni.
"Apa mungkin Milka telah resmi menjadi pacar Joni? coba aku tanyakan saja padanya, dari pada aku terus saja gelisah di buatnya."
Saat itu juga Papahnya Milka menelpon nomor ponsel Joni. Kebetulan Joni sedang memainkan ponselnya hingga ia langsung bisa merespon panggilan telepon yang masuk ke nomor ponselnya.
📱"Halo om, ada apa ya?"
📱" Maaf ya, om sudah mengganggu waktu istirahatmu. Om hanya ingin tahu saja, apakah ada perkembangan dari hubunganmu dengan Milka?"
📱" Masih seperti biasa, om. Malah Milka semakin bersikap dingin padaku, padahal Bima sudah risgn dari kantornya. Aku pikir dengan begitu, Milka akan bisa membuka hatinya untukku, tetapi tidak om."
📱" Oh jadi seperti itu. Om kita kalian sudah resmi pacaran. Ya sudah kamu yang sabar saja dalam menghadapi Milka. Om juga tidak akan tinggal diam, akan berusaha membujuk Milka supaya mau membuka hatinya untukmu."
📱" Serius om, terima kasih ya om. Semoga saja usaha on, berhasil. Sehingga aku lekas bisa menikah dengan Milka."
📱" Iya serius, tapi semua tidak instan. Butuh waktu dan perjuangan, jadi bersabarlah.'
📱" Baiklah, om. Aku akan bersabar demi rasa cintaku pada Milka."
Setelah cukup lama saling bicara di dalam panggilan telepon. Mereka serentak mematikan panggilan telepon tersebut. Papah Milka sejenak mengerutkan keningnya, karena ia bingung dengan raut wajah Anaknya.
"Aku pikir Milka sudah bisa menerima Joni. Ternyata apa yang aku pikirkan salah besar. Keras hati juga sih Milka!" gumam Papahnya.
"Padahal aku sudah cocok sekali dengan Joni. Masih muda sudah sukses dan juga tampan. Kenapa Milka sama sekali tidak tertarik ya pada Joni. Kan rasanya aneh juga."
__ADS_1
Papahnya terus saja menggerutu di dalam hatinya, ia bingung harus membujuk Milka seperti apa lagi, supaya bersedia menerima cinta Joni.