
Pagi menjelang Bima sudah siap dengan surat pengunduran dirinya yang akan ia berikan secara langsung kepada Milka, karena dia tidak ingin selalu di teror oleh ancaman dari Papahnya Milka dan juga Joni.
"Aku bukannya pengecut atau takut pada ancaman papahnya Milka dan Joni, hanya saja aku tak ingin membuat suatu keributan. Karena aku sudah berjanji di dalam hati untuk benar-benar berubah, dan aku ingin hidupku tenang tidak selalu kepikiran dengan segala permasalahan yang pelik."
"Rasanya tidak tenang bekerja, tidak bisa konsentrasi jika sesekali mendapatkan teror dari kedatangan papahnya Mika atau Joni, lebih baik aku resign saja. Mengalah lebih baik daripada terus-menerus berdebat dengan kedua orang itu."
"Tok tok tok tok tok"
Bima mengetuk pintu, ruang kerja Milka.
"Masuk!"
Terdengar suara Milka dari dalam ruangan.
Bima pun membuka perlahan pintu ruang kerja Milka, dan ia langsung duduk di hadapan Milka.
"Mas Bima, pagi sekali kemari? ada apa?"
Milka merasa heran dengan kedatangan Bima.
"Milka, aku hanya ingin memberikan ini padamu."
Bima meletakkan surat pengunduran diri di meja.
"Apa ini, mas?" Milka meraihnya.
"Itu surat pengunduran diri dariku, aku memutuskan untuk risgn dari kantor ini," ucap Bima.
"Mas, kenapa kamu ingin risgn? jangan katakan jika semua ini pasti karena papahku, ya kan?"
__ADS_1
Bima tersenyum kecut," ya Milka, aku bukan takut dengan segala ancaman dari papahmu. Tetapi aku hanya ingin hidup tenang. Kamu nggak usah mengatakan apa pun pada papahmu ya."
"Lantas, jika Mas risgn dari kantorku. Akan kerja dimana?" tanya Milka terus saja menatap ke arah Bima.
"Entahlah, Milka. Tetapi kamu nggak usah khawatir, aku juga sudah menyiapkan CV untuk melamar pekerjaan ke kantor lain. Aku yakin pasti di terima. Terima kasih ya Milka, atas segala kebaikanmu Selena ini. Dan sekali lagi aku minta maaf atas kesalahan dan dosaku di masa lalu padamu. Kalau begitu aku permisi dulu."
Namun pada saat Bima akan bangkit dari duduknya sejenak Milka menahannya," tunggu dulu Mas, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Hingga akhirnya Bima duduk kembali, karena ia ingin mengetahui apa yang akan dikatakan Milka kepadanya.
"Memangnya apa yang ingin kamu katakan, Milka?" Bima menjadi penasaran.
Milka perlahan membuka laci mejanya dan memberikan amplop coklat yang tebal berisikan uang untuk Bima," ini uang pesangon untukmu, Mas. Bisa kamu gunakan untuk kebutuhan sehari-hari sebelum kamu mendapatkan pekerjaan yang pasti."
Milka meletakkan amplop tersebut di depan, Bima.
"Tidak usah, Milka. Di sini aku yang mengundurkan diri bukan karena kamu yang memecatku jadi aku tidak berhak mendapatkan uang pesangon itu."
"Jangan seperti itu mas, aku ikhlas memberikannya padamu. Sebagai ungkapan rasa terima kasihku kepadamu, karena selama ini kamu bekerja di perusahaan aku dengan disiplin tanggung jawab dan jujur."
Milka menyodorkan kembali amplop tersebut ke hadapan, Bima.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan padamu, mas. Aku akan memberikan beberapa rekomendasi perusahaan kepadamu. Yang saat ini sedang membutuhkan karyawan. Kamu bisa mendaftar ke beberapa perusahaan milik teman-temanku ini."
Nanti aku juga akan menghubungi mereka untuk benar-benar melihat CV kamu dan aku juga akan merekomendasikan kepada mereka. Siapa tahu saja ada di antara para sahabatku ini yang bersedia memperkerjakanmu di perusahaan mereka.'
Mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Milka ada rasa tidak enak di dalam hati Bima. Tetapi jika ia menolak kebaikan Milka ia akan kesulitan dalam mencari pekerjaan seorang diri. Tetapi jika ada yang merekomendasikan nya, ia bakal bisa diterima di perusahaan tersebut.
Bima pun menerima sebuah kertas yang berisi beberapa nama perusahaan dan alamatnya lengkap yang diberikan oleh, Milka.
__ADS_1
Bahkan Bima juga menerima uang pesangon yang diberikan oleh Milka karena Milka terus saja memaksanya.
"Terima kasih, Milka. Untuk segala kebaikanmu padaku, aku yakin Allah pasti akan membalasnya dengan segala berkat rezeki yang melimpah."
"Amin... semoga risgnnya Mas Bima dari kantorku ini, justru akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Semangat selalu ya Mas Bima."
"Aku juga minta maaf atas segala perilaku dan tutur kata papah ku padamu, yang membuatmu harus risgn dari kantorku ini."
Bima pun menyunggingkan senyumannya pada Milka," tak usah minta maaf, Milka. Karena apa yang papahmu lakukan itu tidaklah salah. Jika awalnya aku tidak berbuat salah, pasti papahmu juga tidak akan berbuat seperti ini padaku."
Saat itu juga Bima berpamitan pada Milka dan lekas keluar dari ruang kerja Milka. Ada perasaan sedih di dalam hati Milka, karena selama ini kinerja Bima sangat bagus.
Dia benar-benar bekerja disiplin dan tak bermalas-malasan. Walaupun dia awalnya adalah seorang direktur dan di kantor Milka hanya sebagai karyawan biasa, tetapi Bima tetap bekerja dengan sepenuh hati. Walaupun awalnya banyak berkeluh-kesah.
Bima keluar dari kantor Milka, ia pun menuruti saran darinya untuk menyambangi satu persatu perusahaan rekomendasi dari Milka.
"Bismillah, semoga ada satu perusahaan yang bersedia menerimaku bekerja di kantor mereka. Aku serahkan semua ini padaMu, ya Allah. Bantu aku ya Allah," doa Bima di dalam hatinya.
Sementara seperhinya Bima datanglah papahnya Milka. Milka yang melihat kedatangan papahnya hanya bisa menatap tanpa rasa senyuman sama sekali.
"Kenapa kamu menatap Papah seperti itu, Milka? memangnya kamu nggak suka ya jika papah berkunjung ke kantormu ini?"
Milka tersenyum sinis menanggapi pertanyaan dari Papahnya," aku sudah tahu apa maksud dan tujuan papah yang sering datang ke kantorku ini. Papah datang kemari bukan ingin menjenguk diriku, tetapi hanya ingin memastikan apakah Mas Bima masih bekerja di sini atau tidak."
"Papah tak perlu khawatir, sekarang papah sudah bisa bernapas lega dan tak usah marah-marah lagi. Karena Mas Bima sudah risgn dari kantor ini."
Milka menyodorkan surat pengunduran diri yang diberikan Bima kepadanya barusan di hadapan Papahnya. Saat itu juga Papahnya membukanya dan membacanya ia pun tersenyum," baguslah kalau begitu, dengan seperti ini berarti Bima tahu diri juga. Tak usah aku terus-terusan menerornya untuk cepat minggat dari kantor ini."
Milka hanya diam saja mendengar ocehan dari Papahnya, ia juga tidak akan mengatakan apapun lagi tentang bantuannya kepada Bima. Karena ia tidak tega jika mendengar papahnya berulah lagi mengganggu kehidupan, Bima.
__ADS_1
Setelah puas mengetahui bahwa Bima telah resign dari kantor anaknya, papah nya Milka pun berlalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata lagi kepada Milka.