Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Kebahagiaan Kiara


__ADS_3

Kiara merasa aneh pada sikap Milka yang tak percaya pada Papahnya sendiri," mas, kenapa Milka malah menyembunyikan Mayang dari papahnya ya? kalau menurutku lebih baik itu terbuka, Sam Mayang di bawa ke rumah di pertemukan dengan orang tuanya. Supaya lekas clear dan terselesaikan. Bukan malah seperti main petak umpet seperti ini."


"Sayang, biarkan saja dech. Untuk apa ikut pusing memikirkan kehidupan orang lain. Mungkin saja Milka ada cara tersendiri untuk mengungkapkan kebenaran tersebut. Intinya kita fokus saja pada kehidupan rumah tangga kita saja. Nggak usah memikirkan yang lain, walaupun Milka itu teman baikmu. Toh ini adalah masalah pribadi, jadi kita tak berhak ikut campur," ucap Arya menasehati istrinya.


"Hem, iya dech mas. Aku kan hanya menyampaikan pendapatku saja terhadapmu, kalau menurutku apa yang Milka lakukan itu salah," ucap Kiara.


"Ya memang daya pikir manusia itu kan berbeda-beda, sayang. Kalau kamu tripikal seseorang yang tidak bisa menyimpan suatu masalah berlarut-larut. Kamu lebih suka permasalahan itu segera diselesaikan, tidak seperti halnya dengan Milka yang memperpanjang permasalahan dengan cara menyembunyikan, Mayang. Kita doakan saja supaya permasalahan Milka segera terselesaikan,' ucap Arya.


"Mas, mendadak aku ngidam ingin jalan-jalan ke mall. Mau kan menemaniku?" rengek Kiara mengalihkan pembicaraan.


"Hem...aku pikir ngidam pentol yang banyak mie nya," goda Ryan terkekeh.


"Issttt... apaan sih Mas Arya? pentol apa, pentol korek?" Kiara terkekeh.


"Hust... jangan keras-keras nanti yang ada orang tua dan adik mu dengar loh."


Arya menempelkan jari telunjuknya ke bibir Kiara.


"Hem, tapi aku mau loh mas? hhi pentol kamu itu," Kiara menaik turunkan alisnya seraya tangannya nakal meraba benda tumpul yang ada di balik celana boxer Arya.


"Hem, ini siang-siang loh. Jika kita sedang melakukan itu, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu bagaimana?" ucap Arya sudah mulai tergoda dengan ajakan Kiara.


"Nggak bakalan, mas. Nggak akan ada yang berani ketuk pintu dch."


"Hem, let's go. Ayok kita lakukan, siapa takut?"


Keduanya saling berciuman bibir, saling bertukar saliva satu sama lain. Satu tangan Arya seperti biasa bergerilya di dia benda kenyal yang pucuknya telah mengeras. Arya meremas dua benda kenyal yang ada di dada Kiara, dengan sesekali memainkan pucuknya yang telah mengeras.


Tiada henti bibir Arya memagut bibir Kiara. Perlahan turun ke leher jenjang milik Kiara, di jilatinya leher dan cuping telinga milik Kiara.


Suara kenikmatan terdengar merdu dari mulut Kiara. Hal ini menambah Arya semakin berhasrat dan ia pun menyibakkan kaos yang di kenakan Kiara, dan membuka tutup dua gundukan kenyal yang ada di dadanya.


Di mainkannya pucuknya dengan lidahnya dan satu tangannya menyusup masuk ke rok yang digunakan Kiara. Permainan mereka terus saja panas dan semakin menggelora.


Hingga di siang itu terjadilah olsh raga ranjang antara Kiara dan Arya. Mereka begitu antusias melakukannya. Tetapi Arya melakukan dengan penuh lemah lembut karena Kiara saat ini sedang hamil. Walaupun antusias, Arya tetap berhati-hati melakukannya.

__ADS_1


Pelepasan demi pelepasan terjadi bukan hanya satu kali. Setelah benar-benar puas, mereka segera melakukan ritual mandi siangnya secara bersama-sama.


"Sayang, terima kasih ya. Kamu telah memuaskanku siang ini. Dan kini giliranku untuk menyenangkanmu dan calon anak kita. Yuk kita ke mall sekarang dan kamu bisa makan apa pun sepuasnya. Serta membeli apa pun yang kamu mau."


Saat itu juga, Arya merangkul Kiara melangkah menuju ke pelataran rumah dan membawanya ke mobilnya. Karena kebetulan sebelum mereka akan pergi, Arya telah memerintahkan sang security untuk memanasi mobilnya.


Saat itu juga, Arya mengemudikan mobilnya menuju ke mall yang tak jauh dari rumahnya. Hanya berjarak sepuluh menit saja mereka telah sampai di mall.


Saat mereka saling bercanda ria tertawa seraya melangkah dengan Arya merangkul Kiara. Tiba-tiba ada seorang pria yang tak sengaja menabrak Arya," maaf mas, saya ...eh kamu."


Arya dan Kiara diam saja pada saat melihat siapa yang ada di hadapan mereka berdua. Hingga Bima pun mengulang kata-katanya," Arya, aku minta maaf ya. Nggak sengaja karena aku gugup."


Tanpa ada rasa sungkan, Bima menangkupkan kedua tangannya di dada. Setelah itu dia pun berlalu pergi begitu saja. Mendadak Kiara diam, setelah bertemu dengan Bima. Dia sudah tidak bercanda lagi seperti tadi, hingga membuat Arya heran.


"Kamu kenapa, sayang? kok mendadak diam dan murung seperti ini, apa karena bertemu dengan Bima?" tanya Arya menyelidik.


"Iya, mas. Aku jadi ingat dengan almarhum Alvaro, entah kenapa di dalam hati ini belum sepenuhnya bisa memaafkannya."


Kiara tertunduk lesu seraya menghela napas panjang. Arya mencoba menghibur Kiara," sayang, jangan terlalu banyak memikirkan masa lalu. Sudahlah anggap saja tadi itu bukan Bima tapi angin lewat. Supaya kamu nggak sedih lagi. Ingat, ada ansk yang lain yang juga buruh dengan perhatianmu. Jika kamu sedih, anak yang ada di dalam kandunganmu akan ikut sedih."


"Astaghfirullah aladzim, iya mas. Benar sekali apa yang kamu katakan barusan. Terima kasih ya, mas. Telah mengingatkanku, dan aku minta maaf karena terlalu kekanak-kanakan hingga masih saja menyimpan kesalahan orang lain," ucap Kiara.


"Aku nggak ingin membeli apa pun. Hanya ingin jalan-jalan dan makan siang di mall saja. Aku ingin makan di cafe yang dekat dengan mall ini," pinta Kiara.


"Kamu yakin, nggak ingin membeli barang seperti tas atau sendal atau pakaian? apa mau membeli perhiasan?"


Kembali lagi Arya menawarkan semua barang-barang, tetapi Kiara tetso saja tak mau," mas, aku nggak mau. Aku hanya ingin melihat-lihat di mall ini, setelah itu makan yang banyak dan yang enak-enak."


Saat itu juga Arya mengajak Kiara ke cafe di dekat mall tersebut. Dan pada saat di cafe, Kiara begitu sumringah. Ia memilih banyak makanan. Hal ini membuat Arya memicingkan alisnya," sayang, apa kamu yakin akan menghabiskan makanan sebanyak yang kamu pesan itu?"


"Hem, mas Arya. Yang akan makan itu bukan cuma aku saja, tapi anakmu yang ada di dalam perut ini juga ikut makan," rajuk Kiara.


"Hey, nggak usah manyun seperti itu. Aku hanya bercanda kok, justru aku sangat senang jika kamu makan banyak."


Beberapa detik kemudian...

__ADS_1


Makanan yang telah di pesan oleh Kiara sudah terhidang di meja. Kiara langsung makan dengan lahapnya, sementara Arya hanya senyam senyum pada saat melihat aksi makan Kiara. Hal ini membuat Kiara sejenak berhenti makan dan menatap ke arah, Arya.


"Mas, kenapa kamu senyum-senyum seperti itu? apakah aku lucu ya? kenapa nggak ikut makan? ayok donk temani aku makan supaya aku lebih bersemangat dan anak kita pasti akan sangat senang."


Sesekali Kiara menyuapi Arya, begitu pula dengan Arya. Mereka saling suap menyuap, bahkan tanpa ada rasa sungkan Arya sesekali mengusap perut Kiara.


Hal ini sempat di lihat oleh Bima yang pada saat itu juga sedang makan siang di cafe itu seordng diri. Ia sengaja tak mengajak Mamah Nindy. Karena tak ingin mamahnya membeli banyak barang.


"Ya Allah, bahagia sekali Kiara. Kenapa aku iri sekali dengan kebahagiaan mereka berdua? jika dulu aku tak melakukan kesalahan pasti saat ini aku berbahagia dengan istri dan anakku. Semua hancur karena kebodohanku yang tak percaya dengan istriku tetapi lebih percaya pada, Mamah. Ini juga kesalahan mamah, bukan sepenuhnya kesalahanku. Astaghfirullah aladzim, kenapa aku menjadi seperti ini?" batin Bima terus saja menggerutu di dalam hatinya.


Bahkan kerap kali, Bima membayangkan ada di posisi Arya. Ia yang sedang makan bersama dengan Kiara. Kerap kali ia tanla sadar tersenyum sendiri, dan kerap kali pula ia tersadar dari lamunannya tersebut.


"Astaghfirullah aladzim, kenapa aku seperti ini. Nanti di kira aku gila senyam senyum sendiri. Entah kenapa aku memposisikan diriku masih menjadi suami Kiara," batinnya seraya celingukan khawatir ada yang mengetahui sikapnya barusan.


"Untung saja tidak bada orang yang menatapku dan tidak ada orang di sekitarku. Jika ada yang memperhatikanku, pasti aku di sangka gila nggak waras."


Saat itu juga Bima pun tak lagi berkhayal tentang dirinya lagi. Ia fokus dengan menyantap makanannya. Dan sesegera mungkin pergi dari cafe itu, tanpa lupa memesan untuk di bawa pulang. Untuk Mamah Nindy.


Bima mengemudikan mobilnya arah pulang. Tetapi pikirannya masih saja tertuju pada kejadian di cafe tadi. Dia tetap saja teringat wajah Kiara yang sangat bahagia bersama dengan suaminya.


"Ternyata Kiara sedang hamil lagi. Semoga saja selalu di berikan kesehatan untuk ibu dan janinnya. Di murahkan rezekinya dan bahagia selalu."


Doa Bima di dalam hatinya.


Tak berapa lama, Bima telah sampai di rumah. Dan ia segera memberikan makanan untuk mamahnya dan juga untuk Eli.


Tetapi pada saat Bima memberikan makanan untuk Eli, Mamah Nindy protes.


"Bima, untuk kamu juga memberikan makanan enak itu untuk pembantu? sama saja kamu ini menyamakan mamah dengan pembantu! cepat minta kembali makanan itu, atau tidak Mamah nggak akan makan!"


Tetapi ancaman itu tidak berpengaruh pada Bima," silahkan saja mamah. nggak makan. Tetapi aku tidak akan meminta kembali makanan yang telah aku berikan pada, Mba Eli. Mba, bawa saja makanan itu dan segera makan ya? nggak usah pedulikan Ama yang barusan di katakan oleh Mamahku," ucap Bima


"Baiklah, terima kasih ya Den Bima".


Eli menyeringai sinis melirik ke arah Mamah Nindy, setelah itu dia pun berlalu pergi dari sembari kegirangan menatap makanan yang ada di tangannya.

__ADS_1


Hal ini membuat Mamah Nindy sangat kesal pada Bima," kenapa sih kamu membela pembantu sialan itu!"


"Cukup ya, mah! mau sampai kapan mamah akan terus berkeras hati seperti ini?" bentak Bima kesal.


__ADS_2