Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Di Labrak


__ADS_3

Setelah mengucapkan kata terakhir kepada orang tuanya, Milka pun berlalu pergi dari hadapan orang tuanya. Karena ia tidak ingin mendengar lagi tentang Joni, karena di dalam hatinya ia sama sekali tidak ada rasa suka kepadanya.


"Heran aku dengan mamah dan papah, begitu besar harapan mereka untuk melihat aku bisa bersanding dengan Joni. Padahal aku sama sekali tidak ada getaran rasa cinta sedikitpun padanya."


"Aku juga heran kepada Joni, seringkali dia datang ke rumah atau bahkan ke perusahaanku yang lama, hanya untuk bertemu denganku dan menyambungkan segala usahanya."


"Aku sudah punya segalanya, jadi aku tak perlu memikirkan tentang harta benda. Mungkin Joni mengira aku akan tertarik padanya jika ia memamerkan segala harta bendanya padaku."


Sementara orang tua Milka saat ini sedang berdiskusi di teras halaman rumah, mereka benar-benar tidak menyukai keberadaan Bima di perusahaan baru milik, Milka.


"Mah, ini tidak bisa di biarkan. Papah akan menyelidiki dimana rumah Bima yang sekarang dan akan membuat suatu perhitungan. Karena Papah yakin ini adalah suatu trik dari Bima untuk mendekati anak kita kembali."


"Papa yakin Bima sengaja mendaftar kerja di perusahaan baru Milka, supaya ia bisa mendekatinya kembali, dan menjalin hubungan dengan anak kita lagi. Papah sama sekali tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi lagi, karena selamanya papah telah membencinya!"


Papah Milka mengepalkan tinjunya dan menggertakkan giginya karena ia benar-benar tidak mengharapkan jika suatu saat nanti Milka jatuh cinta kembali kepada Bima yang telah menipu dirinya di masa lalu.


Saat itu juga Papahnya Milka menghubungi beberapa anak buah kepercayaannya untuk menyelidiki di mana saat ini tempat tinggal, Bima. Karena esok pagi ia akan menyambangi rumah Bima dan akan memberinya pelajaran supaya tidak mengganggu, Milka.


****


Esok hari yang telah ditunggu oleh Papahnya Milka telah tiba. Kebetulan pagi ini hari libur kerja sehingga Milka tetap di rumah masih tertidur nyenyak. Pagi-pagi sekali papah Milka pergi bersama sopir pribadinya menyambangi rumah, Bima.


Kinerja para anak buah pilihan Papahnya Milka memang sungguh luar biasa, dan tidak diragukan lagi. Hanya dalam beberapa jam saja mereka telah berhasil menemukan keberadaan rumah Bima yang baru.


Beberapa menit kemudian..

__ADS_1


"Astagaa...jadi ini rumah baru Bima? Hem...pantas saja dia berusaha mendekati anakku lagi! ini benar-benar sudah keterlaluan!" batinnya kesal pada saat dirinya melihat rumah kontrakan Bima.


Tok tok tok tok tok


Ayah Milka mengetuk pintu rumah Bima dengan sangat kasar.


Untung saja Bima dan Mamah Nindy sudah bangun. Kebetulan Bima sedang bersantai di dalam kamarnya, begitu pula dengan Mamah Nindy.


Baik Mamah Nindy maupun Bima, secara bersamaan langsung melangkah keluar dari kamar menuju ke arah pintu ruang tamu. Mamah Nindy dengan gerak cepat terlebih dahulu membuka pintu tersebut.


Bima yang sempat melihat tamu yang datang terperangah, akan tetapi ia langsung menyapanya," Om, mari masuk silakan duduk."


"Tidak perlu! untuk apa aku duduk di kursi yang keras seperti itu, nanti yang ada aku sakit tulang!" Papahnya Milka memilih berada di terasa halaman.


Bima dan Mamah Nindy melangkah keluar untuk mengetahui apa maksud kedatangan Papahnya Milka.


Dengan penuh ramah, Bima tersenyum seraya mengulurkan tangannya ingin menyalami papah Milka, tetapi papahnya Milka tak menyambut tangan Bima, ia justru melirik sinis.


"Tak usah berbasa-basi dengan menanyakan banyak hal kepadaku, aku datang ke sini dengan satu hal saja."


"Bima, aku tidak suka ya jika kamu bekerja di perusahaan baru milik Milka. Aku minta kamu segera mengundurkan diri dari kantor anakku!"


Mendengar apa yang dikatakan oleh papahnya Milka, Bima pun memicingkan alisnya karena ia tidak tahu kenapa beliau menginginkan dirinya untuk risgn dari perusahaan baru milik Milka.


"Maaf ya Om, kenapa saya tidak diizinkan bekerja di perusahaan milik Milka? sedangkan Milka saja tidak keberatan sama sekali jika saya bekerja di kantornya?" tanya Bima penasaran.

__ADS_1


"Kamu nggak usah berpura-pura lagi, Bima. Aku sudah tahu apa maksud dan tujuanmu bekerja di perusahaan baru milik milik, Milka."


"Aku tahu kamu bekerja di perusahaan milik Milka, karena ingin mendekatinya lagi bukan? jangan harap aku akan memberikan celah padamu untuk bisa mendekati anakku lagi."


"Sudah cukup kebohongan dan sakit hati yang telah kau berikan kepada Milka. Aku tidak ingin anakku menderita lagi olehmu, apalagi kondisi ekonomi sudah bangkrut. Hingga kamu tinggal di rumah kontrakan kumuh seperti ini."


Mendengar penghinaan yang dilontarkan oleh papah Milka, tiba-tiba membuat Mamah Nindy naik pitam, dan ia pun mengatakan banyak hal kepada Papahnya Milka.


"Sombong sekali sih jadi orang! baru saja punya kekayaan yang nggak seberapa, mengejek anak aku seenaknya! memangnya wanita di dunia ini cuma anak situ doang, tidak kali. Lagi pula aku yakin Bima bisa mendapatkan wanita yang lebih kaya daripada anak anda."


"Jangan mentang-mentang anak saya kerja di perusahaan anak anda, hingga A


anda mengira bahwa anak saya ingin mengelabui anak anda!"


Mamah Nindy benar-benar sudah tidak bisa mengontrol emosinya, hingga ia mengucapkan banyak hal yang seharusnya tidak ia katakan kepada Papahnya Milka. Walaupun Bima terus saja menasehatinya, memberikan kode supaya berhenti dalam berbicara, tetapi hal itu tidak mempengaruhi Mamah Nindy. Terus saja ia mengomel panjang lebar tak jelas juntrungannya.


"Mah cukup mah, tolong diam! sebaiknya Mamah masuk saja, karena hanya akan memperkeruh suasana!" bentak Bima.


"Bima, mamah ini membelamu. Kenapa malah kamu membentak mamah dan mengusir mamah? ya sudah hadapi sendiri orang sombong di depanmu itu!"


Mama Nindy melirik sinis ke arah Papahnya Milka, seraya ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan lagi, Bima.


Sementara Bima mencoba mengajak bicara Papahnya Milka dari hati ke hati. Bahkan Bima berusaha berkata sopan dan pelan, walaupun di dalam hatinya sudah tidak ingin menahan rasa geramnya tersebut.


"Om, aku awalnya sama sekali tidak tahu jika perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan milik Milka. Dan aku murni bekerja untuk mencari uang, bukan untuk mencari perhatian atau berusaha mendekati Milka lagi. Tolong om percaya padaku."

__ADS_1


"Aku juga sadar diri kok, om. Jika saat ini aku sudah miskin dan tak punya apa-apa lagi yang bisa aku banggakan. Dan aku juga sadar diri, jika aku ini tidak layak untuk Milka."


"Aku mohon pengertian dari, om. Dan jangan salah paham padaku, om."


__ADS_2