
Semua pengusaha akhirnya menerima tenggang waktu yang diminta oleh, Bima. Dan saat itu juga mereka juga serentak pergi dari kantor Bima.
Dan tak berapa lama, datanglah Joni bersama dengan Layla ke kantor Bima. Bima begitu terkejut, pada saat melihat kedatangan Joni bersama dengan mamahnya. Ia heran untuk apa Joni datang ke kantor beserta dengan wanita paruh baya seusia Mamah Nindy.
"Nggak usah kaget seperti itu saat melihat kami. Kami bukan hantu jadi biasa saja expresi wajahmu itu," ucap Joni seraya duduk di hadapan meja kerja Joni bersama dengan, Layla.
"Pasti kamu heran bukan, dengan seseorang yang aku bawa ini? dia adalah mamahku. Seorang wanita yang harus menderita bertahun-tahun lamanya karena ulah dari Ibu kandungmu! secara tidak langsung mamahmu telah membuat hidup kami menderita untuk bertahun-tahun lamanya. Dan kami datang kembali untuk meminta hak yang seharusnya menjadi milik kami!"
Bima memicingkan alisnya pada saat mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Joni. Ia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Joni.
Kemudian Layla menceritakan semua tentang masa lalunya Bima.
Bima tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Layla tentang kejahatan yang dilakukan oleh Nindy. Hingga pada akhirnya Bima mengajak Layla dan Joni ke rumah untuk memperjelas tentang cerita tersebut. Karena Bima ingin mendengar langsung dari mulut Nindy.
Hingga saat itu juga mereka pergi ke rumah Bima. Hanya beberapa menit perjalanan, mereka telah sampai di rumah Bima.
Meymey yang sedang duduk di teras halaman rumah merasa kaget pada saat melihat siapa yang datang. Ia pun yang sedang duduk langsung berdiri dan terperangah tak bisa berkata menatap ke arah Joni dan Layla.
"Mey, kenapa kamu seolah kaget melihat mereka? apakah kamu mengenal mereka ya?" tegur Bima menyelidik ke arah Meymey.
"Siapa bilang aku kenal mereka, aku berdiri karena menghormat tamu yang baru datang. Masa iya aku diam saja saat melihat mereka. Mari silahkan duduk."
Saat itu juga Meymey masuk ke dalam rumah dengan hari yang berdebar-debar. Ia begitu penasaran dengan maksud dan tujuan Joni dan mamahnya datang ke rumah Bima. Tetapi ia tak berani untuk tetap berada di luar. Ia khawatir kebohongannya bisa terbongkar.
"Sebenarnya aku penasaran dengan kedatangan Mas Joni dan Tante Layla. Yang aku tahu memang Mas Joni dendam pada Bima. Tetapi aku tahunya dendam masalah kantor. Karena Mas Joni tidak pernah bercerita tentang dendam pribadi. Apakah ia datang ingin membongkar hari diriku yang sebenarnya? jika aku juga yang telah memberikan semua bukti kecurangan dan data para pengusaha yang di curangi oleh, Bima?"
__ADS_1
Batin Meymey semakin di liputi oleh resah dan gelisah. Ia benar-benar khawatir dan gelisah. Hatinya tak menentu, tetspi ia tak berani keluar dari kamarnya.
Sementara Bima sudah berada di depan pintu kamar, Mamah Nindy.
"Tok tok tok tok tok!
"Mah, buka pintunya. Di luar ada tamunya, Mamah. Sahabat baik Mamah yang sudah lama tak bertemu datang kemari."
Bima mengatakan hal itu sembari terus mengetuk pintu kamar, Mamah Nindy. Dan tak lama kemudian, pintu kamar di buka. Mamah Nindy mengusap-usap matanya karena ia baru saja tidur tetapi Bima telah membangunkan dirinya.
"Ada apa sih, Bima? mamah itu sedang tidur dan sedang mimpi indah, malah kamu ganggu dengan ketukan pintu yang begitu kerasnya.Aoa kamu nggak tanya siapa namanya? lantas bagaimana ia bisa datang bersama denganmu? bukannya kamu sedang ada di kantor?"
Serentetan pertanyaan keluar dari mulut Mamah Nindy.
"Mereka datang ke kantor terlebih dahulu dan mengatakan tak tahu rumah kita. Hingga aku antar saja mereka ke rumah ini,' jawab Bima singkat.
"Iya, cepat mah. Nggak usah bertanya terus, karena mereka sudah cukup lama menunggu."
Bima mulai emosi jiwa karena Mamah Nindy bukannya lekas melangkah ke ruang tamu. Tetapi malah terus saja bertanya yanh macam-macam. Saat itu juga Mamah Nindy melangkah menuju ke ruang tamu.
Meymey yang sempat mendengar percakapan antara Bima dan Mamah Nindy menjadi heran. Karena kebetulan kamar bersebelahan. Hingga Meymey sempat mendengar semua yang di katakan baik oleh Bima maupun oleh Mamah Nindy.
"Astaga...apa maksud dari perkataan Mas Bima ya? apa mungkin Mamah Nindy tahu tentang Tante Layla dan Mas Joni? kok aku menjadi semakin ingin tahu ya?"
Hingga pada akhirnya, Meymey melangkah ke luar dari kamarnya secara perlahan-lahan. Ia pun melangkah menuju ke ruang tamu, tetapi ia bersembunyi di balik tembok.
__ADS_1
Sedangkan Mamah Nindy begitu terkejut pada saat melihat siapa yang datang.
"Astaga...Layla dan itu? itu pasti anaknya."
Raut wajah Nindy berubah menjadi pias, dan terlihat sangat panik dan cemas. Keringat dingin mulai bercucuran keluar dari tubuhnya.
"Hay, Nindy. Aku datang lagi dan kali ini aku bersama anakku. Anak yang semasa di dalam kandungan sudah kamu rebut Papahnya dengan kamu mengambil posisiku secara paksa. Apakah kamu ingat bagaimana kamu menghasut suamiku jika anak yang aku kandung bukanlah anaknya? bahkan saat itu kamu juga yang telah merubah hasil tes DNA. Hingga pada akhirnya anakku ini harus kehilangan pengakuan seorang papah," ucap Layla dengan lantangnya hingga Meymey sempat mendengarnya di balik persembunyiannya, ia terperangah seraya menutup mulutnya sendiri dengan satu tangannya.
Meymey merasa kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Layla. Kini ia sudah tahu dendam yang terselubung pada diri Joni terhadap Bima adalah bukan dendam permasalahan kerjaan, tetapi dendam pribadi masa lalu.
Nindy gagap, ia mati kutu dan tak bisa bicara sama sekali. Hingga membuat Bima menjadi penasaran.
"Mah, apakah benar yang di katakan oleh Tante itu? dan apakah memang benar jika aku ini sebenarnya bukan anak almarhum papah? tetapi aku anak dari suami mamah yang pertama?"
Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Bima, Mamah Nindy semakin gemetaran dan semakin tidak bisa berkata-kata. Tetapi ia pun mencoba untuk menutupi rasa gugupnya.
"Bohong, apa yang dia katakan itu bohong. Kamu adalah anak dari Papahmu, nak. Justru wanita itu yang ingin merusak rumah tangga mamah di masa lalu. Dengan mengatakan kehamilannya adalah anak dari almarhum Papahmu," kilah Mamah Nindy.
"Baiklah, Nindy. Aku punya bukti kuat yang bisa membungkam mulutmu untuk tidak mengatakan suatu kebohongan lagi."
Layla mengeluarkan beberapa bukti itu. Yakni beberapa foto pernikahan Layla dan almarhum suaminya. Dan juga hasil tes DNA dari Joni serta Bima.
Karena tempo dulu, Layla sempat mencuri semple rambut Bima untuk di tes DNA. Serta bukti-bukti yang lain seperti foto pernikahan Nindy dan almarhum suaminya.
Dan juga ada sebuah rekaman dimana Nindy sedang ada di sebuah pemakaman menangis seraya mengusap perutnya sendiri. Ia mengatakan bingung, di saat dirinya di nyatakan hamil malah suaminya meninggal.
__ADS_1
"Dulu aku tak bisa mengungkapkan semua kebusukan dirimu, karena kamu selalu saja mengancamku dengan membawa anak buahmu untuk membunuh Joni. Bahkan beberapa kali kamu menculik Joni dan akan membuangnya ke jurang, jika aku tidak pergi jauh dari kehidupanmu dan almarhum Papahnya Joni."