
Setelah mendapatkan sarapannya, Bima lantas pulang dengan wajah masih saja murung selepas bertemu dengan, Meymey. Ia begitu kesal kenapa wanita yang sangat ia cintai bisa berbuat menjijikan seperti itu.
Bima sarapan tanpa ada rasa nikmat, hingga ia pun menghentikan waktu sarapannya tersebut.
"Hem.. padahal lapar sekali. Tetapi mendadak menjadi kenyang, hanya gara-gara teringat tingkah Meymey itu!" batinnya seraya diam di teras halaman rumah kontrakan.
"Bima, kamu sarapan sendiri? kenapa nggak mengajak mamah? mana jatah sarapan untuk mamah."
Mamah Nindy celingukan mencari makanan yang masih utuh.
"Beli sendiri dong, memangnya mamah ini anak kecil yang semuanya harus di siapkan oleh orang tuanya," ejek Bima kesal.
"Astagaa...Bima! semakin hari bukannya kamu semakin sadar jika kamu ini telah bersalah dan berdosa pada mamah, tetap kamu malah semakin menjadi seperti ini!" bentak Mamah Nindy.
"Mah, nggak usah menyinggung salah dan dosa. Jika mamah sendiri hingga sekarang juga belum sadar akan kesalahan dan juga dosa mamah pada Kiara dan anaknya!"
Setelah mengatakan akan hal itu, Bima bangkit dari duduknya tanpa membawa sarapan yang barusan ia beli. Bima melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.
Sementara Mamah Nindy melirik ke atas meja dimana ada sarapan Bima yang masih tersisa.
"Dari pada aku harus mengeluarkan uang untuk membeli sarapan. Mending aku makan saja sisa sarapan dari Bima. Toh ia itu anak kandungku sendiri, nggak apa-apa dech. Lagi pula nasi dan lauk pauk masih banyak. Sayang juga jika di buang begitu saja."
Batin Mamah Nindy seraya melahap sisa sarapan dari Bima.
Hanya dalam waktu beberapa detik saja, sarapan itu sudah ludes habis tak tersisa. Sementara Bima, di dalam kamarnya tiba-tiba merasa lapar lagi. Hingga ia memutuskan untuk mengambil sarapannya.
__ADS_1
"Sialan, sudah sampai di kamar dan akan mandi untuk segera berangkat bekerja. Eh malah ini perut masih terasa lapar. Jika begini sebaiknya aku habiskan saja sarapan tadi."
Bima melangkah ke teras halaman, tetapi sudah tidak ada sarapannya. Justru ia di buat geram pada saat melihat Mamah Nindy sedang menggenggam keresek dan sendok.
"Mah, apa yang mamah pegang itu? mana sarapan punyaku, apakah yang di keresek itu berisi sarapanku?" tanya Bima seraya tatapan matanya terus saja mengarah ke tangan Mamah Nindy.
'Ini sampah, sarapanmu dari pada di buang mubazir ya lebih baik mamah makan dan yang di kantong kresek ini adalah bungkusnya."
Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Mamahya, Bima merasa kesal sekali," lancang sekali sih,mamah! itu kan sarapan punyaku, kok main embat saja sih!"
"Bima, kenapa kamu selalu saja meributkan hal sepele sih? lagi pula ini bukan salah mamah, karena mamah pikir sudah di buang dan nggak di makan sama kamu! bukannya kamu tahu jika mamah paling nggak suka membuang makanan!"
Mamah Nindy membentak Bima seraya melangkah pergi begitu saja dari hadapan anaknya tersebut, seraya tetap memegang keresek berisikan sampah bekas sarapan Bima.
Ibu dan anak ini selalu saja tak akur sejak hidup mereka jatuh miskin. Apa lagi kemiskinan itu karena kesalahan dari Mamah Nindy, hingga Bima sudah begitu sangat kecewa pada Mamahnya sendiri.
Bima merutuki diri sendiri dan ia melangkah masuk ke dalam rumah kembali menuju ke kamarnya. Akan tetapi langkahnya terhenti oleh Mamah Nindy.
"Apa lagi sih, mah? awas nggak usah halangi jalanku karena aku harus segera bersiap-siap akan pergi kerja," ucap Bima kesal.
"Kamu masih bisa bertanya apa lagi! mana jatah bulanan untuk mamah?" Mamah Nindy menengadahkan tangan kanannya.
"Enak saja minta uang! mulai sekarang tidak ada lagi yang namanya jatah bulanan untuk mamah! pake saja uang mamah, kan masih banyak!" bentak Bima.
"Bima, apa kamu nggak sadar dengan apa yang selama ini kamu lakukan pada mamah, hah? kamu ini sudah bertindak di luar batas tahu nggak! apa kamu nggak takut azab yang kan di berikan oleh Allah pada seorang anak yang durhaka pada ibunya!"
__ADS_1
Bima hanya tersenyum sinis pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh Mamah Nindy," apa aku nggak salah dengar ya? ucapan seorang wanita berdosa meskipun itu seorang ibu, tidak akan di ijabah oleh Allah. Mamah pintar sekali menggurui, dengan mengatakan aku ini banyak dosa. Tetapi mamah sendiri tidak bisa mengoreksi diri sendiri. Jika mamah selama ini juga banyak dosa! sudahlah aku malas berdebat di pagi hari yang hanya membuat mut aku hilang!"
Dengan sangat kasar, Bima menyingkirkan Mamahnya. Karena ia sudah tak ingin melayani perkataan Mamahnya yang menurutnya selalu saja membuatnya marah.
Bima masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya secara keras dan kasar hingga membuat Mamah Nindy terlonjak kaget.
Mamah Nindy hanya bisa menghela napas panjang dan juga mengusap dadanya," untung saja aku nggak punya riwayat penyakit jantung. Jika punya, mungkin aku saat ini dead!"
Beberapa menit kemudian...
Bima sudah siap dengan seragam kantornya, ia lekas melangkah pergi dari rumah kontrakan tersebut dengan melajukan motor maticnya.
Melihat Bima sudah pergi, Mamah Nindy tersenyum sinis. Ia pun melancarkan aksinya untuk segera datang ke rumah Kiara.
Dia memesan ojek, dan hanya beberapa menit saja ia sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Kiara. Tetapi kali ini ia tidak bisa masuk seenaknya.
"Astaga...kenapa aku nggak bisa masuk ya? Padahal waktu itu aku masuk tinggal masuk, nggak seperti ini."
Tetapi Mamah Nindy tak lantas menyerah begitu saja. Ia lekas mencet bel pintu gerbang. Dan berlarilah security yang saat ini sedang bertugas, menuju ke pintu gerbang. Ia mengintip dari celah lubang kunci.
"Heh, ada apa ya ibu datang kemari pagi-pagi seperti ini?" tanya security.
"Aku ada perlu sama majikanmu si Kiara! cepat buka pintunya atau aku dobrak!" ancam mamah Nindy yang membuat si security tertawa ngakak.
"Heh, wanita tua! kamu pikir aku takut dengan ancaman mu! coba saja kamu dobrak sekarang juga dech. Aku ingin tahu apakah bisa kamu mendobrak pintu gerbang yang kokoh ini?" ejek Security.
__ADS_1
"Heh, kamu ini cuma kacung dan kelas rendahan! tapi masih saja berani padaku, hah? kamu belum tahu ya siapakah aku ini sebenarnya?"ucapnya lantang.
"Haha...aku sudah tahu kok. Karena majikanku yang telah memberi tahu. jika kamu ini wanita tua yang suka sekali berbuat ulah!" bentak security.