
Sesampainya Mamah Nindy di rumah, ia begitu kesal. Ia marah-marah sendiri karena tak berhasil mempermalukan Kiara di depan umum. Dia malah di permalukan oleh Joni dan ibunya di depan banyak orang.
"Sialan, bagaimana bisa ada Layla dan anaknya? gara-gara mereka berdua rencanaku untuk mempermalukan Kiara gagal total! coba saja jika tidak ada mereka, pasti aku akan berhasil dan bahagia," gumamnya kesal.
Kehidupan Mamah Nindy sudah menjadi miskin, tetapi ia masih saja bersikap sombong. Belum juga menyadari akan segala kesalahan dan dosa-dosanya di masa lalu. Entah sampai kapan dirinya akan selalu bersikap seperti itu.
*******
Waktu berjalan cepat sekali, saat ini Kiara dan Arya sedang honeymoon di negara Jepang. Sedangkan Baby Alvaro untuk sementara waktu di rawat oleh, Ibu Darti.
Kiara dan Arya sedang menikmati kebahagiaannya. Mereka menjelajahi semua tempat wisata yang ada di negara Jepang. Tidak ada satu tempat wisata pun yang terlewatkan oleh mereka.
"Sayang, terima kasih ya. Akhirnya kamu mau juga menikah dengan perjaka tua ini. Dan semoga rumah tangga kita langgeng selamanya dan hanya msut yang memisahkan kita berdua."
Arya memeluk mesra Kiara dari arah belakang.
Sedangkan Kiara menggenggam erat jemari Arya," Amin...aku jga berharap seperti itu, mas. Seharusnya yang mengucapkan terima kasih aku, bukan kamu mas. Aku kadang merasa tak layak untuk bersanding denganmu, karena aku cuma seorang janda beranak satu dan juga anak buahmu di kantor."
"Justru janda itu lebih menggoda, dan lebih lihai. Makanya aku minta kamu yang ajarin aku dalam permainan ranjang. Aku belum pintar sama sekali karena belum berpengalaman."
Perlahan Arya mulai menyelusuri tengkuk leher Kiara, membuat begitu banyak stempel kepemilikan, walaupun Kiara berkali-kali melarangnya dengan mencoba menghindar, tetapi apalah daya, Arya begitu erat dalam memeluk dirinya.
Tangan Arya mulai nakal merabs dua gundukan kenyal yang ada di dada istrinya. Meremasnya dan perlahan menyusup untuk bisa lebih leluasa memainkan pucuknya yang sudah mulai mengeras.
__ADS_1
Gelora cinta mereka sedang membara, rasa hati sudah tidak sabar untuk menuangkan segala rasa. Arya mengangkat tubuh Kiara, dan membaringkannya di kasur.
Perlahan ia mengecup lembut bibir Kiara nan tipis menggoda. Kiara tinggal diam, dia membalas mesra kecupan suaminya dengan membuka mulutnya, membiarkan lidah suaminya bebas menari-nari di dalam rongga mulut, Kiara.
Keduanya saling bertukar saliva, saking bergulat lidah. Tangan Arya juga tidak tinggal diam, ia terus saja menjelajah setiap inci tubuh indah Kiara.
Dan terjadilah sesuatu yang seharusnya memang terjadi diantara mereka berdua. Pergulatan dua insan yang sedang di mabuk asmara divaras sebuah kasur mewah yang ada di kansr hotel di negara Jepang.
Musim dingin membuat mereka lebih sering diam di dalam kamar. Dan aktif melakukan olah raga ranjang. Honey moon mereka berlangsung hanya satu Minggu saja. Baik Arya maupun Kiara telah sepakat untuk tidak berlama-lama di negara Jepang, karena segudang aktifitas yang telah siap menunggu mereka berdua.
Bahagia sedang dirasakan sepasang pengantin baru ini, akan tetapi kebahagiaan yang dirasakan oleh Arya dan Kiara justru membuat kebencian yang semakin mendalam bagi mantan kekasih Arya yang saat ini dalam proses pengobatan, yaitu Raras.
Raras juga mendengar kabar pernikahan dan resepsi yang mewah besar yang dilakukan oleh Arya.
"Aku juga sungguh tersiksa harus menahan rasa ingin bercinta, sudah sebulan ini aku dikurung oleh papah dan mengkonsumsi berbagai obat dari dokter."
"Mau sampai kapan dan mau berapa lama lagi aku harus mengkonsumsi segala obat-obatan Ini? dan juga harus menahan rasa ingin bercinta yang semakin hari semakin menggebu-gebu di dalam tubuhku ini. Aku sangat merindukan belaian lelaki. Tersiksa sekali tidak bisa menumpahkan segala rasa yang ada di diriku ini, tidak bisa aku lampiaskan hasrat ini."
Terus saja Raras menggerutu di dalam hatinya. Ia sudah tidak tahan lagi menjalani pengobatan tersebut. Tiba-tiba ia pun memutuskan untuk meminta keluar dari kamar tersebut.
"Tok tok tok tok"
"Pah-mah, tolong dong buka pintunya. Izinkan aku untuk sejenak keluar dari kamar ini. Susah sebulan aku berada di dalam kamar ini, aku bosan sekali. Aku bisa mati karena rasa suntuk!!"
__ADS_1
Rara terus saja berteriak dan terus saja mengetuk pintu kamarnya dari dalam, supaya orang tuanya segera membuka pintu kamarnya yang di kunci dari luar.
Teriakan Raras sempat terdengar oleh orang tuannya. Mamahnya merasa iba," pah, apa nggak sebaiknya sejenak kita izinkan Raras keluar dari kamar? sudah satu bulan loh, pah. Kita mengurung Raras di dalam kamarnya. Kasihan juga, pasti ia sangat bosan. Mamah bisa merasakan hal itu, pah. Mamah saja jika terlalu lama tidak keluar dari rumah juga bosan, apa lagi Raras yang malah di kurung di dalam kamarnya."
Raka melirik sinis pada istrinya," apa kamu mau, anak kita melakukan hal yang memalukan lagi? berhubungan intim dengan banyak pria. Lama-lama moralnya bisa rusak! kamu pikir sikapmu ini karena kamu sayang padanya? justru kami ini tidak sayang padanya!"
"Bukan begitu, pah. Mamah nggak tahu tega saja mendengar teriakan, Raras," ucap Istrinya.
"Sudahlah, mah. Aku pasti akan mengeluarkan Raras, jika dokter sudah menyatakan Raras sembuh total. Untuk saat ini biarkan saja Raras di dalam kamarnya, supaya ia cepst sehat. Kita bukan kejam atau jahat, tetapi ini demi kebaikan dan kesembuhan, Raras," ucap Raka kesal.
Setelah mendengar suaminya berkata panjang lebar. Sang istri pun kini hanya diam saja, ia tak berani membantah lagi. Ia mencoba untuk tidak mendengar teriakan dari Raras.
"Pag, coba papah datangi Raras. Dan beri ia pengertian supaya tidak berteriak terus menerus," pinta istrinya.
Hingga Raka pun yang sedang bersantai melangkah ke arah kamar Raras, dan membuka pintunya. Raras sangat senang sekali pada saat pintu kamarnya terbuka, dan ia pun langsung melangkah keluar, tetapi di hadang oleh, Raka.
"Mau kemana, Ras? papah membuka pintu kamarmu ini bukan berarti sudah membebaskan dirimu. Papah hanya ingin bicara denganmu. Papah minta padi, bersikaplah dewasa."
"Jangan terus berteriak, memalukan di dengar orang. Justru kami harus koreksi dirimu, hingga kamu bisa sembuh total."
"Papah mohon, dengarkanlah dan laksanakan apa yang papah sarankan ini."
Setelah mengatakan hal itu, Raka pun mengunci pintu kamar Rara kembali dari luar.
__ADS_1