
Sesampainya di rumah, papahnya Milka mendapatkan teguran dari istrinya," Papah, dari mana sih? pergi kok nggak pamit, sampai mamah mencari kesana kemari. Mamah telpon,beh ternyata ponsel Papah tertinggal di meja ruang tamu."
"Aku habis keluar sebentar, mah. Di ajak Joni, makan di sebuah cafe. Nggak enak kan, jika aku menolaknya?" jawabnya berbohong, padahal ia sendiri yang mengajak Joni ke cafe.
"Lantas, mana Joninya? kok nggak ada?" istrinya celingukan keberadaan Joni.
"Langsung pulang, mah. Katanya sih ada kepentingan, hingga tak ingin berlama-lama di sini," kembali lagi suaminya berbohong.
Istrinya hanya berhooh ria, ia pun melangkah masuk ke dalam kamarnya. Tapi tidak dengan suaminya, yang kini malah duduk di ruang tamu seraya melamun. Tiba-tiba ia ingat pada istri sirinya yang telah ia sakiti begitu saja, dan ditinggalkan begitu saja tanpa ada kabar sama sekali.
"Bagaimana kabar, Marni saat ini ya? pada saat terakhir, aku talak ia dan aku pergi begitu saja. Apakah saat ini, Marni sudah bersuami? kenapa tadi aku nggak tanyakan hal ini pada, Joni?'
"Aku juga heran dengan diriku sendiri. Kenapa juga aku membuka aibku sendiri di hadapan, Joni?"
"Bagaimana ya, jika Joni mengadu atau mengatakan aibku pada orang lain atau bahkan pada istri dan anakku?"
Terus saja, Papahnya Milka merasa cemas. Ia menyesal karena telah menceritakan semua aibnya sendiri pada, Joni. Tetapi semuanya sudah terlanjur, ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Bodohnya aku, seharusnya aku katakan saja jika Milka tak punya saudara kembar. Aaahnhhh sialan sekali!"
Terus saja Papahnya Milka merutuki dirinya sendiri.
********
Pagi menjelang....
Kiara ingin sekali berjalan-jalan ke alun-alun. Jam enam pagi, ia segera melakukan niatnya itu. Tanpa lupa ia mengajak, Arya. Karena dirinya sedang hamil, ia tak ingin pergi seorang diri.
"Mas Arya, ayok lekas bangun. Aku ingin jalan-jalan ke alun-alun. Katanya sedang ada bazar barang-barang murah. Aku kan nggak pernah pergi-pergi ke tempat seperti itu. Kayaknya seru kalau melihat bazar di alun-alun."
"Selama ini kita selalu berbelanja di pusat perbelanjaan seperti supermarket atau mall. Sesekali aku ingin ke alun-alun, di sana banyak sekali para pedagang dan kebetulan sedang ada, bazar."
Mendengar rengekan dari Kiara akhirnya Arya pun segera bangkit dan mencuci mukanya dan gosok gigi. Setelah itu Kiara meminum teh hangat dengan sedikit gula yang telah disediakan oleh Kiara.
"Ayo sayang, kita pergi sekarang juga."
Dengan penuh kasih, Arya merangkul istrinya.
__ADS_1
Sebenarnya Arya, masih sangat mengantuk. Tetapi ia tak berkeluh kesah pada saat Kiara menginginkan dirinya menemani untuk pergi ke alun-alun kota.
Perjalanan ke alun-alun hanya butuh waktu beberapa menit saja. Setelah meletakkan mobil di parkiran alun-alun, mereka lekas berjalan mengitari alun-alun tanpa mengenakan alas kaki.
Dan pada saat Kiara dan Arya berhenti di depan bazar perabot rumah tangga. Keduanya sempat terhenyak kaget, melihat sang pedagang tersebut.
"Wajahnya mirip sekali dengan Milka, tetapi wanita ini rambutnya cuma sebatas bahu sedangkan Milka rambutnya lebih panjang," batin Kiara.
"Ya ampun...apakah meminta ini yang pernah diceritakan oleh Joni padaku waktu itu ya? bagai pinang di belsh dua, wajahnya benar-benar mirip dengan Milka. Sepertinya memang ini yang di maksud oleh Joni. Ya benar sekali, SPG perabot rumah tangga," batin Arya.
"Halo, Mbak-Mas. Silakan dipilih-dipilih, harga promo, diskon diskon diskon ayo dipilih."
Mayang menawarkan dagangannya pada Arya dan Kiara. Karena rasa penasaran dirinya, Kiara meminta nomor ponsel Mayang.
"Mba, boleh saya minta nomor ponselnya? siapa tahu saja suatu saat nanti saya akan membeli perabot yang Mbak jual ini," ucap Kiara.
"Kenapa nggak dibeli sekarang saja tah, Mbak. Baiklah, akan saya beri nomor ponsel saya. Mana ponsel Mbak, biar saya catat langsung di ponsel anda."
Saat itu juga Kiara mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada, Mayang. Hanya beberapa detik saja, Mayang telah mencatat nomor ponselnya ke ponsel milik, Kiara.
"Nama saya Mayang, Mbak. Ini ya sudah aku catat di ponsel, Mbak."
"Ok, terima kasih ya Mayang. Namaku, Kiara. Aku pasti akan chat kamu nanti ya, jika waktu sudah santai."
Setelah itu Kiara berpamitan pada Mayang untuk pulang. Pada saat Kiara dan Arya berada di dalam mobil sejenak Arya mengatakan tentang Mayang pada istrinya.
"Sayang, kamu tahu nggak? wanita yang mirip sekali dengan Milka itu kenalan dari Joni. Pada waktu kemarin dia datang ke rumah, dia curhat tentang wanita yang mirip sekali dengan Milka, dia memberitahu jika namanya Mayang dan sempat menunjukkan fotonya," ucapnya.
"Lho, kenapa Mas Arya tidak menceritakan hal ini padaku? biasanya kan kalau Joni mengatakan apapun, Mas Arya selalu cerita juga padaku."
Kiara memicingkan alisnya.
"Maaf sayang, aku lupa untuk mengatakannya padamu. Aku baru ingat pada saat tadi melihat, Mayang."
"Lantas untuk apa kamu meminta nomor ponsel, Mayang? apakah ingin tahu tentang jati diri, Mayang lebih lagi?"
Kiara pun mengacungkan kedua ibu jarinya kepada Arya," pintar suamiku ini. Tapi nggak usah mengatakan pada Joni tentang hal ini ya, mas?"
__ADS_1
"Ya, sayang. Aku nggak akan mengatakan apapun pada Joni. Tapi kan Mayang bisa saja mengatakannya pada Joni? karena dia kenal Joni," ucap Arya.
"Biarkan saja, yang terpenting Mas Arya nggak usah mengatakan apapun pada, Joni."
Arya pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
****""""
Esok harinya....
Rasa penasaran Kiara terhadap Mayang begitu besar. Hingga ia pun segera menghubungi nomor ponsel, Mayang. Dia berpura-pura ingin membeli beberapa perabot rumah tangga.
Kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke dalam nomor ponsel Mayang.
📱" Hallo, Mba Kiara?"
📱" Hallo juga, Mbak Mayang. Aku ingin membeli beberapa perabotnya, apakah aku bisa ke rumah Mba sekarang juga?"
📱" Bisa banget Mbak, datang aja ke rumahku. Aku tunggu ya, nanti aku kirim alamat rumahku deh."
Saat itu juga Mayang menuliskan alamat rumah dan mengirimkannya notifikasi chat pesan ke nomor ponsel Kiara. Setelah mendapatkan alamat rumah Mayang, Kiara langsung pergi ke rumahnya dengan mengajak serta Arya.
"Sebegitu penasarannya kamu dengan Mayang, sayang?" tanya Arya di sela dirinya mengemudikan mobil.
"Iya kok, Mas. Aku penasaran sekali dengan Mayang, ingin mengetahui lebih lanjut tentang keluarganya. Karena wajahnya begitu mirip dengan, Milka. Bagai pinang dibelah dua benar-benar mirip sekali," ucap Kiara.
Tak berapa lama, sampai juga Kiara dan Arya di depan rumah, Mayang yang tak begitu besar. Rumah yang sangat sederhana, hanya di tempati oleh Mayang dan ibunya saja.
"Mba Kiara, mari masuk yuk?" ajak Mayang.
"Kok sepi sih, Mayang?" tanya Kiara celingukan.
"Di rumah ini cuma ada aku dan ibuku saja, dan kebetulan ibuku saat ini sedang kurang sehat," ucap Mayang seraya tersenyum.
"Lantas, mana ayahmu? maaf ya, jadi kepo?" tanya Kiara.
__ADS_1
"Ayahku kebetulan sudah meninggal dunia, pada saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar," ucap Mayang.
Mereka pun bercengkrama panjang lebar. Baru bertemu sudah akrab saja. Dan bahkan Kiara memborong dagangan Mayang atas izin dari Arya. Karena sepasang suami istri ini iba dengan kehidupan Mayang yang harus berjuang sendiri demi dirinya dan ibunya.