Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Bima Bertemu Milka


__ADS_3

Bima pun mulai bekerja kembali dengan penuh semangat yang baru, hati yang baru dan jiwa yang baru. Ia telah berjanji di dalam hatinya untuk merubah diri menjadi lebih baik dan ia juga akan berusaha untuk meminta maaf kepada Kiara atas apa yang pernah ia lakukan di masa lalu kepadanya.


"Sebelum aku mendapatkan permintaan maaf dari Kiara, aku tidak akan tenang. Pokoknya aku akan terus berdoa dan berusaha untuk bisa meluluhkan hati Kiara, bukan dalam arti meluluhkan untuk mendapatkannya kembali, tetapi aku ingin meluluhkannya supaya Kiara mau memaafkan atas segala kesalahanku di masa lalu."


"Ya Allah, aku mohon bantuan dariMu supaya Engkau melembutkan hati Kiara, dan memberikan pintu maafnya kepadaku. Karena aku yakin selama aku berpegang teguh dan percaya kepadaMu pasti Engkau akan membuat suatu kemujizatan karena tidak ada yang mustahil bagiMu ya Allah."


Di dalam hati Bima sesekali melafalkan doa, karena hanya satu keinginan dia di dalam kehidupannya yakni ingin benar-benar bisa mendapatkan pintu maaf dari, Kiara.


Kini Bima sudah tidak memperdulikan lagi gunjingan para teman-temannya yang ada di kantor. Ia berusaha tabah menerima semua hinaan dan ejekan dari para temannya yang sama-sama bekerja sebagai staf biasa.


"Aku akan berusaha bersabar menerima semua ejekan dari teman-temanku di kantor ini, karena aku sadar aku pantas mendapatkan semua ini atas perlakuan burukku di masa lalu," batin Bima seraya menghela napas panjang.


Walaupun kerap kali ia hampir saja terbawa arus emosi. Tetapi ia selalu mengucap istighfar di dalam hatinya, hingga ia selalu bisa meredam emosinya.


"Memang sangat susah untuk memperbaiki diri, dan membuat orang percaya padaku jika aku ini sudah benar-benar berubah. Tapi aku tidak akan parah semangat begitu saja."


"Orang yang imannya tinggi saja mendapatkan ujian, apa lagi aku orang yang penuh dosa dan punya banyak salah di masa lalu."


"Aku seharusnya bersyukur karena Allah masih memberiku kesempatan untuk bisa berubah menjadi lebih baik. Allah tidak menurunkan tulah kepadaku."


Terus saja Bima menggerutu di dalam hatinya di sebuah ruangan khusus untuk pertemuan rapat atau meeting. Karena pagi ini akan kedatangan seorang presiden direktur perusahaan tersebut. Selama Bima bekerja menjadi seorang karyawan biasa, ia belum pernah sekalipun bertemu dengan atasan utamanya.


Dia hanya tahu direktur utama perusahaan tersebut. Tetapi ia sama sekali tidak penasaran atau ingin bertemu dengan presiden direktur di perusahaan tersebut.


Bima hanya fokus kerja dan kerja saja. Apalagi dia sama sekali tidak dekat dengan semua temannya, karena semua temannya justru sering membuly dirinya saja.


Beberapa Detik Kemudian...

__ADS_1


Datanglah presiden direktur perusahaan tersebut, yang ternyata adalah seorang wanita yang cantik jelita dan usianya masih muda.


Bima terperangan pada saat melihat presiden direktur tersebut, karena ia telah mengenalnya, wanita yang pernah ada di masa lalunya.


"Milka"


Batin Bima seraya celingukan malu.


"Astaga... jadi selama ini aku bekerja di perusahaan milik Milka? kenapa aku tidak tahu ya? aku pikir perusahaannya bukan yang ada di sini, setahuku di jalan Anggrek."


"Apa jadinya jika mereka tahu aku bekerja di sini hanya sebagai staf biasa. Aku pasti akan diajeknya, di bulinya dan betapa malunya aku."


Bima terus saja menggerutu di dalam hatinya ia mulai khawatir akan hal yang bakal terjadi jika Milka melihat ke arahnya.


"Semoga saja Milka tidak melihat ke arahku, karena jika ia tahu bahwa aku bekerja di sini bisa jadi aku akan dipecatnya," batin Bima seraya terus menunduk karena ia tidak ingin Milka melihat wajahnya.


"Hai Mas, kenapa dari tadi yang lain mendengarkan apa yang aku jelaskan dan memperhatikan tetapi kenapa mas malah menunduk terus ya," tegur Kiara seraya berusaha menengok wajah Bima.


Tetapi Bima terus saja menunduk tak menjawab apa yang barusan dikatakan oleh Milka, hingga kembali Milka pun berkata," sepertinya aku mengenal dirimu."


DEG!


Jantung Bima berdegup kencang seperti genderang yang mau perang. Tiba-tiba ia panik, tangannya gemetaran karena khawatir Milka akan mengatakan hal buruk tentang dirinya di hadapan semua karyawan yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Hai Mas, tolong angkat wajahmu dan tolong bisakah hargai saya yang sedang menjelaskan perihal tentang perusahaan ini. Karena ini adalah hal penting, tolong lihat ke depan ke arah layar. Jangan terus menunduk seperti ini. Jika Mas ingin terus bekerja di kantor saya, tolong hargai saya sebagai pemilik perusahaan ini!" bentak Milka kesal.


"Jangan, Bu. Saya butuh pekerjaan ini."

__ADS_1


Spontanitas Bima langsung menengadahkan wajahnya.


Milka membola pada saat melihat wajah pria yang sempat ia marahi," astaga...Mas Bima?"


Bima hanya tersenyum tersipu malu di sertai sebuah anggukan kepalanya. Ia tak dapat berkata lagi. Sementara semua karyawan juga sempat heran bagaimana bisa presiden direktur perusahaan tersebut mengenal Bima yang hanya karyawan biasa.


Karena para karyawan Milka tidak ada yang tahu jika Milka pernah menjalin hubungan dengan Bima.


Milka pun kembali ke depan dan menjelaskan ulang kinerja perusahaannya yang baru. Dan juga ada beberapa peraturan baru yang harus semua karyawan patuhi.


Satu jam lamanya, meeting di laksanakan. Dan pada saat telah usai semua karyawan di minta kembali ke ruangannya masing-masing. Hanya Bima saja yang di minta tetap duduk di tempat.


"Mas Bima, apa kabarmu? kok aku baru tahu mas bekerja di sini? memang sudah berapa lama bekerja di sini? lantas apa yang terjadi dengan perusahaan, mas?"


Serentetan pertanyaan keluar dari mulut Milka. Sebenarnya Bima enggan untuk menceritakan kisah hidupnya yang mengalami kepahitan kepada Milka, karena ia akan merasa malu.


Tetapi jika ia tidak bercerita pasti Milka akan semakin memojokkan dirinya untuk menceritakan segalanya, hingga pada akhirnya ia pun bercerita.


Tanpa ada rasa malu lagi Bima menceritakan bahwa sebenarnya perusahaan yang dia pimpin bukanlah miliknya, melainkan milik dari orang lain yang sempat dirampas oleh ibunya. Dan orang tersebut telah mengambilnya kembali. Hingga sejak saat itu Bima menjadi miskin dan tidak punya apa-apa lagi.


"Mungkin semua yang terjadi dalam kehidupanku adalah sebuah karma atas perbuatanku kepada Kiara dan almarhum anakku," ucap Bima.


"Jadi, kamu sudah tahu kalau Alvaro meninggal? tetapi kok aku nggak melihatmi datang untuk ikut proses pemakaman?" tanya Milka penasaran.


"Aku nggak di izinkan karena pada saat almarhum Alvaro butuh sumsum tulang belakangku, pada saat itu aku tidak datang ke rumah sakit."


Tiba-tiba air mata Bima menetes mengenang almarhum Alvaro.

__ADS_1


__ADS_2