
Esok harinya kondisi Bima belum sehat benar, tetapi Mamah Nindy justru terus mengomel.
"Bima, mau sampai kapan sakitmu ini hah? kalau kamu terus berbaring seperti itu, lantas siapa yang akan mencari uang untuk biaya hidup kita sehari-hari? apalagi arisan Mamah juga harus disetor masih kurang banyak!"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mamah Nindy membuat hati Bima semakin sedih.
"Mah, bukannya sudah tahu jika saat ini aku sedang sakit. Bahkan Mamah sendiri yang telah membawaku ke rumah sakit. Kalau aku sedang tidak sakit pasti aku akan lekas bekerja. Tolong bersabar sedikit dan tolong mengerti akan kondisiku saat ini, mah. Seharusnya Mamah itu peduli dan perhatian serta mengurus aku yang sedang sakit ini, bukan malah mengomel-ngomel dan bahkan tidak peduli sama sekali padaku."
Mamah Nindy tak merespon perkataan yang barusan diucapkan oleh Bima, ia justru berlalu pergi dari ambang pintu kamar Bima seraya terus saja mulutnya menggerutu bergumam tak jelas.
Bima hanya bisa menatap dengan sendih kepergian Mamah Nindy. Selama ia sakit, Mamah Nindy sama sekali tak mengurus dirinya, padahal di saat dulu kehidupan masih kaya raya, Mamah Nindy selalu perhatian dan peduli pada dirinya.
"Ya Allah, kenapa begini amat hidupku. Masa iya aku sakit seperti ini harus tetap mengurus diriku sendiri? jika aku tidak mencari makan sendiri, aku tidak akan pernah makan. Padahal aku harus tetap mengkonsumsi makanan secara rutin untuk menopang meminum obat," batin Bima.
Dia begitu sedih dan kecewa kepada ibu kandungnya sendiri yang sama sekali tidak ada rasa iba sedikitpun padanya, padahal kondisi dirinya saat ini sedang sakit. Rasa putus asa selalu kian mendera di dalam dirinya. Ia bukannya semakin bersemangat untuk lekas sembuh, tetapi ia malah semakin tidak bersemangat untuk menjalani kehidupannya.
Hingga pikirannya pendek dan ia memutuskan untuk bunuh diri saja dengan ia menggoreskan pisau ke salah satu pergelangan tangannya, karena kebetulan di dalam kamarnya tersebut ada sebuah pisau untuk mengupas buah.
Pisau yang telah di gunakan untuk mengiris nadinya terjatuh begitu saja ke lantai dan kebetulan saat itu Mamah Nindy melintas melewati ambang pintu kamarnywa, karena ia habis dari pelataran rumah. Ia pun penasaran dengan bunyi benda terjatuh dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Bima kembali.
__ADS_1
alangkah kagetnya Mamah Nindy pada saat ia melihat salah satu lengan Bima mengeluarkan darah segar dan menetes di lantai
"Apakah sebaiknya aku mengakhiri hidupku saja, supaya aku tenang dan tidak pusing memikirkan kehidupanku yang begitu banyak ujian dan permasalahan? sepertinya lebih baik aku memang mengakhiri hidupku saja. Mungkin dengan begitu aku akan bisa bertemu dengan anakku."
Pikiran Bima sudah tak pada tempatnya. Karena ia merasa hidupnya sudah tidak ada gunanya sama sekali. Tidak ada satu orang pun yang menyayangi dirinya, termasuk ibu kandungnya yang hanya memikirkan harta saja.
Hingga ia pendek akal dan ingin bunuh diri saja. Saat itu juga Bima meraih pisau yang biasa di gunakan untuk mengupas buah yang kebetulan ada di atas meja.
Bima menggoreskan pisau tersebut ke salah satu pergelangan tangannya, setelah itu pisaunya terjatuh ke lantai begitu saja.
Bunyi benda terjatuh terdengar hingga ke telinga Mamah Nindy yang kebetulan sedang melintas lewat ambang pintu kamar Bima kembali, Karena dia kebetulan habis dari pelataran rumah.
Mamah Nindy pun menjadi penasaran dengan bunyi benda yang terjatuh tersebut, hingga Ia memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kamar Bima guna mengecek benda apakah itu yang telah terjatuh ke lantai.
"Astaga Bima, apa yang telah kamu lakukan kenapa kamu berbuat nekat seperti ini?"
Wajah Mamah Nindy seketika itu juga berubah rona wajahnya menjadi panik tidak karuan. Tubuhnya gemetaran, keluarlah keringat dingin di dalam tubuhnya karena melihat begitu banyak darah segar yang mengalir deras dari salah satu pergelangan lengan Bima.
Sementara Bima sama sekali tidak peduli dengan tatapan ketakutan dari mamah Nindy, ia ingin menyusul anaknya sendiri yang telah tiada. Mamah Nindy semakin kesal dan marah melihat raut wajah Bima yang sama sekali tidak terpancar rasa ketakutan.
__ADS_1
Segera Mamah Nindy menelpon petugas ambulance untuk segera datang ke rumahnya. Ia terus saja mondar mandir melihat kondisi Bima saat itu.
Sementara Bima hanya tersenyum sinis ke arah Mamah Nindy," kenapa Mamah terlihat panik, bukannya Mamah senang jika hal buruk terjadi dalam kehidupanku ini," ucapnya lirih.
Beberapa menit kemudian ambulance tersebut telah sampai ke depan pelataran rumah kontrakan yang ditempati oleh Mamah Nindy dan Bima. Para petugas segera berlarian mencari keberadaan Bima yang saat ini tergolek lemas dengan kondisi darah terus saja mengalir dari salah satu pergelangan lengan Bima.
Salah satu petugas ambulance lekas menutup luka pergelangan tangan Bima supaya daab tidak terus mengalir. Setelah itu dia di bantu oleh beberapa petugas ambulance mengangkat tubuh Bima dan membawanya keluar dari kamar tersebut.
Bima lekas di masukkan ke dalam mobil ambulance dan segera di larikan ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan pertolongan medis.
Kebetulan dokter yang berjaga saat ini adalah dokter yang waktu itu memeriksa Bima pada saat dia sakit. Dokter ini begti terkejut melihat Bima yang sedang tergolek lemas tak berdaya dengan kondisi salah satu pergelangan tangannya tertutup perban darurat.
"Astaga...ibu. Apa lagi yang telah terjadi pada anak anda? bukannya kemarin dia dari sini, kenapa sekarang kesini kembali dengan kondisi seperti ini?"
Tanya dokter seraya melepaskan perban darurat tersebut. Dan ia segera mengobati luka di salah satu pergelangan Bima.
"Entahlah, dok. Tiba-tiba tadi saya melihat darah mengucur begitu derasnya dari pergelangan tangan kiri Bima. Dan saya langsung menelpon ambulance, karena saya khawatir dengan kondisi anak saya," ucap Mamah Nindy masih terlihat panik dan gugup.
"Astaga, saudara ingin mencoba bunuh diri? kenapa anda lakukan itu, Mas Bima? apa yang membuat anda pendek akal dan nekad seperti ini?"
__ADS_1
Dokter terus saja mengobati luka di pergelangan tangan kiri Bima dengan menjahit terlebih dahulu pergelangan yang terlihat sobek. Untung saja luka itu tidak terlalu dalam hingga tak sampai membuat urat nadinya putus.
Bima tersenyum sinis mendengar berbagai pertanyaan yang terlontar dari mulut sang dokter," untuk apa saya hidup, dok. Tidak ada yang peduli dengan saya, termasuk mamah. Di saat saya sakit, justru mamah terus saja marah-marah karena saya tidak lekas bekerja. Dia sama sekali tak mengurus saya."