Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Jatuh Miskin


__ADS_3

Mamah Nindy mati kutu, di dalam hatinya ia mengumpat.


"Astaga... aku pikir waktu itu Layla sudah membakar semua bukti-bukti itu pada saat aku mengancamnya akan membuang anaknya ke dalam jurang," batin Nindy.


Layla tersenyum sinis pada saat dirinya melihat wajah tegang Nindy," kenapa, diam? kamu pasti heran bukan, kenapa aku masih menyimpan semua bukti kejahatanmu. Padahal aku sempat membakar semuanya di hadapanmu dulu? aku itu nggak sebodoh dan nggak sepasrah yang kamu kira. Tanpa sepengetahuanmu, aku telah menduplikat semua bukti ini."


Bima semakin kesal pada saat mengetahui semua bukti itu. Ia tak menyangka jika mamah yang selama ini ia banggakan dan selalu di nomor satukan ternyata berbuat sejauh itu pada orang lain.


"Mah, kenapa diam saja? apalsh benar semua yang dikatakan oleh Tante itu?" tegur Bima lantang membuat Nindy terlonjak kaget.


"Aduh... bagaimana ini? aku sudah tidak bisa lagi berkata-kata, karena memang bukti sudah mengarah padaku. Lantas apa yang harus aku perbuat saat ini? dan apakah aku harus jujur pada Bima tentang apa yang telah aku perbuat dahulu?" batin Mamah Nindy bingung.


Bima semakin kesal pada saat melihat sikap diamnya Nindy, yang tak juga mau berkata.


"Mah, jawab! kenapa malah diam saja! baiklah, diamnya mamah sudah salah satu jawaban yang pasti. Yakni mamah memang telah melakukan kejahatan di masa lalu yang benar-benar tak bisa di tolerir!" bentak Bima kesal.


Pada saat Joni akan mengatakan sesuatu, Layla menahannya supaya tidak berkata terlebih dahulu. Tetapi untuk sejenak melihat pertunjukan yang terjadi antara ibu dan anak tersebut. Hingga Joni pun mengurungkan niatnya tersebut. Ia menuruti kemauan Layla, dan melihat pertunjukan apa yang akan terjadi antara ibu dan anak tersebut.


"Mah! kenapa Mamah melakukan hal sekeji itu? kenapa mah?" tanya Bima sangat kesal dan malu dengan kejahatan yang telah dilakukan oleh Mamah Nindy di masa lalu.


"Bima, mamah minta maaf. Mamah memang melakukan semua itu. Tetapi semua yang Mamah lakuksn demi dirimu, nak. Supaya kamu tidak menderita," ucap Mamah Nindy membela diri.


"Apa, mah? mamah beralasan ini demi aku? apa Mamah tidak berpikir! mamah telah membuat anak lain juga menderita karena ulah mamah! malu aku punya seorang ibu jahat seperti dirimu! pantas saja Joni berbuat jahat padaku karena ulah mamah ini!" bentak Bima dengan napas yang memburu.


"Bima, sudah jelas kan semua yang aku katakan barusan tidak bohong," ucap Layla.

__ADS_1


"Iya, Tante. Aku minta maaf atas perbuatan jahat mamdh di masa lalu. Aku akan kembalikan semua yang seharusnya menjadi milik, Joni. Tapi maaf, terlebih dahulu aku harus membayar segala kerugian dari para pengusaha yang telah aku curangi. Tapi Tante dan Joni nggak usah khawatir. Aku punya tabungan pribadi yang cukup untuk membayar semua kerugian itu. Jadi perusahaan aman, tidak akan bangkrut," ucap Bima.


"Tolong izinkan aku untuk menyelesaikan permasalahanku dulu ya. Setelah itu aku akan pergi secepatnya dari rumah ini dan dari perusahaan yang seharusnya menjadi milikmu, Joni."


Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Bima membust hati Joni lega.


"Alhamdulillah... aku pikir perusahaan almarhum papah akan bangkrut setelah Bima berbuat curang. Ternyata ia punya tabungan banyak yang bisa ia gunakan untuk mengembalikan semua kerugian yang telah ia lakukan pada para kliennya," batin Joni.


Setelah permasalahan tersebut selesai, Joni dan Layla pamit pulang. Mereka tak ingin berlama-lama lagi ada di rumah tersebut.


Seperginya Joni dan Layla, Bima pun melangkah akan masuk menuju ke kamar. Tetapi langkahnya terhebat oleh, Mamah Nindy.


"Bima, Mamah minta maaf. Tolong jangan seperti ini pada mamah."


Sementara saat ini Meymey sedang berkemas-kemas akan pergi dari rumah Bima setelah ia mendengar semua pembicaraan antara Bima dan Mamah Nindy dan juga Joni dan Layla.


Bima heran melihat istrinya yang sedang berkemas tersebut," Meymey, kamu mau kemana?"


"Aku mau pergi, mas. Aku sudah tahu semuanya, karena barusan aku tak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan dua tamu tadi," ucap Meymey seraya terus saja berkemas.


"Pergilah! dasar wanita matre!" bentak Bima kesal.


Dia saat ini benar-benar di ambang kehancuran di dalam kehidupannya. Ia sama sekali tidak menyangka dengan apa yang telah dilakukan oleh mamahnya. Kini kehidupannya sudah bisa ia tafsirksn sendiri.


Dia akan miskin dan tak punya apa-apa lagi, setelah memberikan semua harta warisan kepada, Joni dan Layla. Sementara tabungan pribadinya juga akan habis untuk membayar semua kerugian para pengusaha yang menjadi kliennya.

__ADS_1


Saat itu juga, Meymey pergi tanpa berpamitan sama sekali pada Bima atau pada Mamah mertuanya.


Bima melamun sendiri di dalam kamarnya. Ia membayangkan segala apa yang telah terjadi barusan. Hanya dalam sekejap saja, karirnya hilang. Keuntungan ratusan milyar yang ia dapatkan dari cara kotor juga tidak bertahan lama. Karena harus ia kembalikan pada pemiliknya.


********


Esok menjelang, Bima mulai menepati janjinya pada para pengusaha yang telah ia rugikan dengan segala kebohongan dirinya.


Dia mendatangi satu persatu kantor mereka dan mengembalikan uang yang ia ramoas secara menipu. Hingga siang hari, ia baru selesai dengan semua para pengusaha tersebut.


Kini ia pun melajukan mobilnya menuju arah pulang untuk mengemasi semua barang-barangnya dan akan segera pergi dari rumah mewah itu serta menyerahkan perusahaan pada, Joni. Karena memang ia yang seharusnya menjadi hak waris perusahaan tersebut.


"Aku masih ada tabungan sedikit, bisa aku gunakan untuk mencari sebuah kontrakan ya walaupun kecil. Tapi nggak apa-apa, setidaknya ada tempat untuk berteduh. Tidak kepanasan atau kehujanan. Untuk pekerjaan, aku tidak akan memikirkannya dulu. Kepala ini serasa mau pecah saja menghadapi masalah demi masalah ini," batin Bima.


Pada saat sampai di rumah, sudah ada Joni dan Layla. Karena memang Bima yang telah meminta mereka untuk segera datang.


"Tante-Joni, tunggu sebentar ya. Aku belum mengemasi semua pakaianku."


Bima lantas masuk ke dalam rumah dan segera mengemasi semua pakaiannya tanpa ia memperdulikan Mamah Nindy.


"Bima, apa kita benar-benar akan pergi dari rumah ini?" tanya Mamah Nindy di ambang pintu kamar Bima.


"Pertanyaan yang tak perlu sebuah jawaban. Silahkan saja jika Mamah tetap akan bertahan tinggal di rumah ini,' ucap Bima.


Mamah Nindy sudah paham dengan pernyataan Bima, ia pun tak ingin di Tinggalkan pergi oleh anak semata wayangnya tersebut. Ia segera melangkah ke kamarnya dan segera mengemasi semua pakaiannya. Dan juga perhiasannya.

__ADS_1


__ADS_2