
Sikap diamnya Kiara membuat Bu Darti semakin bertambah penasaran. Ia pun tak menyerah begitu saja, terus saja memojokkan Kiara dengan berbagai pertanyaannya.
"Kiara, kamu tak usah lagi menyembunyikan permasalahan yang telah sedang terjadi antara dirimu dan Arya. Janganlah bertindak seperti pada saat kamu masih bersama dengan Bima. Segala permasalahan kamu tanggung sendiri."
"Sikapmu terhadap Arya juga tidak baik. seharusnya jika kalian ada permasalahan diselesaikan dengan jalan damai. Berbicara dari hati ke hati, jangan seperti ini. Permasalahan yang kalian alami tidak akan pernah terselesaikan."
Setelah panjang lebar Bu Darti menasehati Kiara, akhirnya anak sulungnya ini menceritakan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Arya.
Bu Darti pun tersenyum setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh Kiara. Hal ini justru membuat Kiara membikinkan alisnya," ibu, kenapa malah tersenyum seperti itu? memangnya apa yang aku barusan katakan itu sebuah lawakan atau lelucon?"
"Astaga Kiara, kamu ini sudah pernah menikah dan juga sudah punya anak. Berarti bukan gadis lagi tetapi sifatmu ini polos sekali seperti masih remaja saja," goda Bu darti terkekeh.
Kiara semakin tidak mengerti dengan apa maksud yang dikatakan oleh Bu Darti kepadanya," kok malah Ibu semakin ke sini ngomongnya nyeleneh seperti itu sih, aneh banget? topik pembicaraan keluar dari jalur apa yang sedang kita bicarakan."
"Kiara sayang, apa yang kamu lakukan terhadap Arrya itu suatu bukti bahwa kamu sudah mulai merasakan adanya getar cinta, karena kamu punya rasa cemburu padanya," goda Bu Darti terkekeh.
Kiara pun tersipu malu mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Bu Darti. Kini ia sudah paham dan mengerti apa yang dimaksud dengan perkataan dari ibunya tersebut. Rona wajahnya berubah merah bak kepiting rebus.
"Menurut saja dengan apa yang barusan Ibu katakan padamu. Jangan bersikap acuh tak acuh lagi pada Arya. Ibu bisa melihat ketulusan yang terpancar dari wajah, Arya. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
Bu Darti terus saja menasehati anak sulungnya supaya jangan keterusan bersikap dingin pada, Arya. Ibu Darti bhsa melihat pada wajah Arya, jika ia begitu cinta pada Kiara.
"Baiklah, Bu. Aku akan menuruti kemauan ibu, mulai besok aku tidak akan bersikap dingin pada Mas Arya.
__ADS_1
Bu Darti senang mendengar apa yang barusan di katakan oleh, Kiara. Memang Kiara adalah anak yang selalu patuh terhadap orang tuanya.
Hingga pagi menjelang....
Pada saat di kantor, Kiara sudah berusaha bersikap biasa kembali. Kiara melangkah menuju ke ruang kerja Arya dengan membawa berkas yang sudah di selesaikan.
"Duduklah, kebetulan sekali kamu datang kemari," pinta Arya seraya menatap ke arah Kiara, sementara Kiara justru tertunduk malu.
Kiara duduk di hadapan Arya, tapi terus saja Kiara tertunduk. Hal ini membuat Arya genss di buatnya. Arya sudah bisa menebak jika Kiara sudah tidak marah lagi padanya.
"Mas..ini berkas yang sudah selesai aku cek."
Kiara membuka pembicaraan, ia meletakkan berkas itu di meja.
Secepat kilat, Arya meraih jemari tangan Kiara yang masih memegang berkas yang akan di letakkan di meja. Jantung Kiara berdegup kencang, dan ia tak bisa menolak saat jemarinya di genggam oleh, Arya.
"Kiara, kenapa kamu terus saja tertunduk? pandanglah wajahku sejenak saja, supaya aku tahu pasti jika kamu sudah tidak cemburu dan tidak marah lagi padaku," pinta Arya.
"Yeh, GeEr. Siapa pula yang cemburu kepadamu?" elak Kiara sudah tidak tertunduk tetapi ia menatap ke lain arah.
"Hem, jika memang kamu tidak cemburu padaku. Kamu pasti berani menatap ke arahku, tetapi kamu sama sekali tak berani menatap ke arahku kan? Kiara, aku tahu dan bisa merasakan jika saat ini kamu sudah bisa membalas rasa cintaku ini," ucap Arya terus saja memojokkan Kiara.
"Mas, tolong lepaskan pegangan tanganmu. Karena aku harus kembali ke ruanganku, masih banyak yang harus aku kerjakan."
__ADS_1
Namun Arya tak menghiraukan apa yang barusan di katakan oleh Kiara. Ia tetap saja menggenggam jemari tangan, Kiara.
"Aku tidak akan melepaskannya untuk sesaat pun. Karena aku sangat cinta padamu, Kiara. Dan sampai kapanpun takkan aku lepaskan begitu saja."
"Mas, tanganmu ingin lohhhh yang aku maksud. Genggaman jemarimu ini," ucap Kiara kembali.
"Sama saja, Kiara. Genggaman tanganku juga tak akan aku lepaskan jika kamu tak mengatakan yang sejujurnya tentang hatimu padaku. Katakan saja tak usah malu, jika di dalam hatimu sebenarnya sudah bisa merasakan getaran cinta padaku."
Arya terus saja membujuk Kiara untuk berkata jujur tentang isi hatinya tersebut. Hingga pada saat Kiara akan mengatakan yang sesungguhnya tiba-tiba pintu ruang kerja yang terbuka, di ketuk seseorang. Hingga dengan sang terpaksa, Arya melepaskan genggaman tangannya pada, Kiara.
Kiara lekas pergi dari ruang kerja, Arya. Sementara karyawan yang telah mengetuk pintu tersebut di dalam di izinkan masuk oleh, Arya.
"Astaga...ada saja gangguan pada saat aku ingin tahu kebenaran tentang isi hati Kiara padaku," batin Arya kesal.
Kini Arya fokus dengan karyawannya tersebut. Sementara Kiara saat ini sudah berada di ruang kerjanya sendiri. Ia tersenyum sendiri pada saat mengingat perlakuan Arya padanya.
"Hem untungnya saja salah satu karyawan datang. Hingga aku tak mengatakan isi hatiku ini pada, Mas Arya. Aku malu jika mengatakan rasa cintaku ini pada, Mas Arya. Tetapi bagaimana bisa, Mas Arya tahu tentang isi hatiku ini? Padahal aku belum mengatakan apa pun, dia sudah peka dan bisa menebaknya," batin Kiara.
Kiara sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa cinta yang telah tumbuh pada Arya. Karena Arya telah mengetahui terlebih dahulu tentang perasaan dirinya.
Kedua insan sedang jatuh cinta, tetapi belum bisa menyatu.
Hingga tak terasa sore menjelang, pada saat Arya akan kembali menemui Kiara. Ia terlambat karena Kiara kini sudah pulang terlebih dahulu. Ia sengaja melakukan hal itu karena tak ingin Arya terus saja meminta dirinya untuk mengungkapkan perasaannya pada Arya.
__ADS_1
"Hem, kamu sudah tak bisa lagi menghindar dariku, Kiara. Aku bisa menemukan dirimu di rumah mu. Nanti malam aku akan datang ke rumahmu, dan aku yakin kamu sudah tidak akan bisa lagi untuk mengelak," batin Arya senyam senyum sendiri.
Arya lekas meminta asisten pribadinya untuk melajukan mobilnya arah pulang. Karena ia ingin segera sampai di rumah. Dan sudah tak sabar untuk menunggu waktu malam menjelang Isa datang. Dimana ia akan ke rumah Kiara. Kini sorot mata Arya penuh dengan kegembiraan, sudah tidak murung lagi.