
Bima sama sekali tidak menyangka jika Papahnya Milka begitu membenci dirinya bahkan terlihat sangat dendam padanya. Padahal dia sama sekali tidak pernah menyentuh seinci pun tubuh Milka.
"Om, duduklah. Semua kan bisa di bicarakan secara baik-baik. Tak perlu dengan amarah seperti ini. Lagi pula, pada saat dulu aku berpacaran dengan Milka, aku sama sekali tidak berbuat kurang ajar padanya."
"Om, boleh marah padaku. Jika aku ini telah nakal pada Milka. Tetapi aku sama sekali tidak melakukan apa pun padanya. Jika om tidak percaya, tanya saja pada Milka."
Bima mencoba untuk memberikan sebuah pengertian pada Papahnya Milka. Sementara Joni senyam senyum di balik pengintaian nya, hingga satu tepukan tangan mengagetkan dirinya.
"Mas Joni, sedang apa di balik tembok ruang kerja Mas Bima? oh sedang menguping pembicaraan antara Papah dan Mas Bima ya?" tegur Milka merasa tidak suka dengan apa yang telah di lakukan oleh Joni.
"Eh, anu.. enggak kok. Aku cuma kaget saja, ternyata papahmu juga kenal dengan Bima. Sudah cuma gitu saja kok."
Joni celingukan gugup seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Padahal kamu pamit pulang dari tadi loh, mas. Kok masih saja ada di dalam kantorku? jangan-jangan dari tadi ya, kamu mengikuti papah. Memangnya nggak ada kerjaan ya, jadi seperti ini kerjamu? ingin tahu saja urusan orang lain?"
Joni semakin malu mendapatkan kata-kata pedas dari wanita yang sangat ia cintai. Hingga pada akhirnya ia pun minta maaf dan benar-benar pamit pulang.
"Maafkan aku ya, Milka. Baiklah, aku akan kembali ke kantorku."
Joni melangkah pergi dengan beribu umpatan di dalam hatinya," sialan, kenapa aku tidak mendengar langkah kaki kedatangan Milka. Malu kan jadinya ketahuan menguping! ini semua gara-gara si brengsek Bima dech! tapi aku senang juga, setelah aku tahu Papahnya Milka ternyata membenci Bima. Aku bisa manfaatkan situasi bagus ini. Dengan begini aku hanya bisa mengasut Papahnya Milka saja, tanpa perlu aku kotori tanganku untuk menyingkirkan Bima."
Di otak Joni, sudah terbesit suatu rencana yang sangat jahat untuk Bima. Tetapi ia tidak akan memperalat Papahnya Milka untuk melakukan semuanya.
Sementara saat ini Milka sedang kesal karena dirinya melihat sendiri bagaimana tabiat papahnya yang selama ini ia banggakan dan hormati.
__ADS_1
"Astaghfirullah aladzim, papah! katanya balik ke kantor sendiri, malah ada di sini? pah, kenapa sih seperti ini pada Mas Bima?"
"Dia ini sudah berubah loh, pah. Tanpa sengaja aku melihat sendiri, dia rajin sholat. Dan sikap dia juga sekarang pendiam tak banyak kata."
"Tolonglah, pah. Jangan usik Mas Bima yang sedang bekerja. Dan biarkan dia tenang bekerja di kantorku ini."
"Papah nggak usah buat malu aku dengan tindakan Papah yang di luar batas ini."
"Tolong pengertian dari papah. Aku mohon dengan sangat, please."
Milka mencoba meluluhkan amarah Papahnya, tetapi tidak berhasil. Justru Papahnya semakin marah besar.
"Papah akan selalu mengecek kantor ini selama masih ada dia!" tunjuk kasar ya pada Bima seraya melotot.
"Astaghfirullah aladzim, Papah! harus dengan cara apa supaya aku bisa memberi pengertian pada, papah? jika kami ini tidak ada hubungan apapun selain atasan dan bawahan! hubungan kerja saja, papahku tersayangggggg......
"Milka, apa susahnya sih? kamu pecat dia, supaya hati papah tenang!" pinta Papahnya mulai bisa meredam emosinya.
"Maaf, pah. Aku tidak bisa memecat karyawanku tanpa sebab yang jelas. Jika karyawanku tidak punya salah sama sekali, untuk apa aku pecat? sama aja aku ini tidak konsekuen dong? sudahlah Papah, tak usah mempermasalahkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu di jadikan sebagai suatu masalah," ucap Milka.
Akhirnya Papahnya Milka pergi dari ruang kerja Bima, tanpa mengatakan sepatah kata lagi. Ia hanya diam seraya melotot ke arah Bima sebelum keluar dari ruangan tersebut.
"Jangan harap kamu telah menang ya Bima. Dan jangan harap, aku telah menyerah, karena aku masih akan datang dan selalu mengusik kehidupanmu selama kamu masih ada di dekat, Milka!"
Saru ancaman dari Papah Milka di dalam hatinya. Walaupun Milka telah menjelaskan sebegitu detailnya, bahwa dia sama sekali tidak ada hubungan spesial dengan Bima. Hal ini tak lantas membuatnya percaya begitu saja.
__ADS_1
Seperginya Papahnya, Milka pun meminta maaf pada Bima. Ia begitu tidak enak hati atas apa yang telah dilakukan oleh Papahnya.
"Mas Bima, aku minta maaf atas nama Papah. Tolong jangan di masukin ke dalam hati semua kata-katanya barusan ya? ini semua salahku, mas."
"Seharusnya aku tidak bercerita pada orang tuaku jika kamu kini ada di kantorku. Hingga pada akhirnya seperti ini."
"Padahal aku bercerita pada orang tuaku tentang perubahan positif yang aku lihat darimu, mas. Bukan maksud aku untuk terjadi hal seperti ini."
"Aku benar-benar minta maaf ya, mas."
Milka menangkupkan kedua tangannya di dada, memohon maaf dengan tulus pada Bima.
"Milka, tidak seharusnya kamu minta maaf seperti ini. Karena kamu sana sekali tidak bersalah, begitu pula dengan papahmu. Jika aku yang ada di posisi papahmu juga aku akan melakukan hal yang sama," ucap Bima tersenyum.
"Aku nggak apa-apa, dan sama sekali nggak marah pada papahmu atau pada dirimu. Justru aku yang seharusnya minta maaf padamu, atas apa yang pernah aku lakukan dulu. Hingga kesalahanku dulu, membuat kebencian di dalam hati papahmu."
"Oh ya, Milka. Mungkin ini hari terakhir aku bekerja di sini. Aku nggak ingin membuat masalah dengan Papahmu. Dan aku juga nggak ingin mengusik ketenangan Papahmu."
"Aku yakin, sebelum ini pasti papahmu tidak pernah marah-marah bukan? pasti dia selalu happy. Semua berubah tat kala aku muncul lagi di kehidupanmu, walaupun kemunculan diriku sebagai bawahanmu."
Milka justru sedih dan semakin bertambah bersalah pada saat mendengar Bima akan risgn.
"Mas Bima, aku mohon tak usah risgn. Aku sudah sangat cocok dengan kinerjamu, yang rapi, ulet, rajin, dan cekatan. Sulit bagiku jika harus mencari ganti pegawai seperti dirimu."
"Nanti aku pasti akan bicarakan lagi dengan papah. Supaya dia mau mengerti dan tidak emosi terus."
__ADS_1
Bima menyunggingkan senyuman," Milka, kamu tak perlu lagi mengatakan apapun pada Papahmu. Janganlah menentang orang tuamu. Aku tidak masalah jika harus risgn dari kantormu. Asalkan hubungan antara ayah dan anak kembali lagi seperti dulu."