Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Bima Sakit


__ADS_3

Sejak saat itu, Mamah Nindy terus saja berpikir bagaimana mencari cara yang jitu untuk bisa menyingkirkan Kiara.


"Hem, coba saja jika aku masih punya kekayaan. Nggak akan sesusah ini untuk bisa menyingkirkan Kiara. Karena jaman sekarang yang paling utama adalah uang. Dengan uang yang banyak bisa membeli segalanya termasuk membeli tenaga orang untuk menyingkirkan seseorang," batin Mamah Nindy.


Dia kini sudah miskin, dan uang yang dia miliki sudah menipis hingga tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tetapi sejenak ia berpikir dan tersenyum.


"Oh iya, kenapa aku tidak mencuri uang punya Bima saja ya? jika seperti ini kan pasti aku akan bisa melakukan segala macam cara."


Satu Jam Kemudian..


Mamah Nindy telah mempunyai pikiran jahat, dan ia ingin benar-benar mencuri uang milik Bima. Ia mencari waktu yang tepat yakni pada saat Bima sedang pergi bekerja. Tetapi pagi itu, Bima tak juga keluar dari kamarnya.


"Aduhh...kenapa Bima tidak keluar dari kamarnya ya? biasanya dia sudah pergi untuk bekerja."


Mamah Nindy melangkah menuju ke arah kamar Bima, dan ia lekas mengetuk pintu kamarnya saat itu juga. Ternyata pintu kamar Bima tidak terkunci, hingga Mamah Nindy nyelonong masuk begitu saja. Dia menghampiri Bima yang masih tertidur dengan selimut tebal.


"Astaga.. Bima! ternyata kamu belum bangun, sudah siang seperti ini. Padahal ini cuaca panas, mamah saja keringetan kok kamu masih saja selimutan? bangun oi!" Mamah Nindy mengguncang tubuh Bima, hingga pada akhirnya Bima membuka matanya.


"Mah, bikin kaget saja dech! aku itu sedang kurang sehat, masa mamah nggak paham dengan anak sendiri! seperti apa jika sakit dan seperti apa jika sehat!" ucap Bima ketus tetapi lirih.

__ADS_1


Sejenak Mamah Nindy menyentuh kening Bima," astaga... badanmu panas sekali. Sebaiknya kita ke dokter saja, Bima. Dari pada nanti kamu bertambah parah, yang ada mamah yang repot. Dan juga bila kamu sakit, nggak ada dong yang mencarikan uang untuk mamah," ucap Mamah Nindy langsung panik.


Dengan sangat kesusahan, Mamah Nindy membantu mengangkat tubuh Bima. Menopangnya dan mengajaknya melangkah ke luar. Karena kebetulan rumah kontrakan dekat dengan rumah sakit besar, hingga mereka tak perlu waktu lama untuk bisa lekas sampai di rumah sakit dengan naik becak.


Bima langsung diperiksa oleh dokter," saudara terlalu kecapean dan terlalu banyak pikiran. Serta pola makan tidak teratur. Saran saya, stabilkan kondisi badannya. Jangan terlalu di forsir kerjanya, dan makanlah teratur karena anda sudah terkena asam lambung akut."


Bima hanya menganggukkan kepalanya pelan, dan dokter langsung menuliskan sebuah resep obat yang harus di tebus oleh Bima ke bagian farmasi. Hal inilah membuat Mamah Nindy kesal, karena dia belum melancarkan aksinya malah Bima sakti dan harus mengeluarkan uang untuk biaya pengobatan.


"Sialan banget, apes benar nasibku ini. Belum juga aku ambil uang Bima, malah sudah terpakai untuk biaya berobat. Seharusnya Bima itu tak perlu sakit," batinnya kesal.


Saat itu juga Mamah Nindy menebus resepnya ke bagian farmasi. Dan itupun di beri uang pas oleh Bima, karena Bima tahu tabiat Mamahnya yang suka bohong dan juga boros.


"Sejak jatuh miskin, Bima semakin perhitungan padaku. Bahkan untuk beli obat sendiri, dia memberikan uang pas. Pintar juga bertanya terlebih dahulu pada dokter kira-kira ongkos tebus obatnya berapa. Hingga aku tak bisa meminta uang lebih," batin Mamah Nindy kembali menggerutu di dalam hatinya.


"Kiara, kini kamu telah menjadi milik pria lain. Ini karena kesalahanku sendiri yang tak bisa menjadi suami yang bertanggung jawab. Kini aku baru sadar jika apa yang aku lakukan selama ingin salah."


"Aku tak pernah percaya padamu, tetapi malah aku percaya pada Mamah. Semuanya hancur lebur tak bersisa, bahkan aku pula yang telah membuat anak kita meninggal dunia."


Perlahan air mata Bima tertumpah, dengan pandangan matanya kosong entah kemana. Selagi terys merenungi diri sendiri, datanglah Mamah Nindy dengan membawa kantung kresek berisikan obat untuk Bima.

__ADS_1


"Bima, kenapa kamu menangis? anak lelaki kok cengeng, memalukan sekali! hanya sakit asam lambung saja sedih. Seharusnya tak perlulah sedih seperti itu, yuk kita pulang. Dan hentikan tangismu itu, apa kamu nggak malu di lihat banyak orang? mamah saja malu," ocehnya kesal.


Saat itu juga Bima perlahan bangkit dari duduknya dan ia melangkah perlahan di tuntun oleh Mamah Nindy. Hingga depan pelataran rumah sakit, Mamah Nindy melambaikan tangannya ke arah tukang becak yang kebetulan sedang tidak ada penumpangnya.


Bima dan Mamah Nindy pulang dengan naik becak. Karena melihat langkah Bima masih terlalu lemas dan lambat.


Setelah sampai di depan rumah kontrakan, Mamah Nindy meninggalkan Bima begitu saja tanpa ia lupa memberikan obat yang ada di tangannya ke dalam tangan Bima," nih obatnya nanti diminum rutin, di situ sudah ada aturan minumnya. Sekalian tuh becaknya dibayar!"


Mama Nindy melangkah cepat masuk ke dalam rumah sedangkan Bima lekas meraih dompetnya di kantong celananya untuk membayar si abang becak yang telah menunggu dari tadi dengan wajah murungnya dan penuh kegurutuan di dalam hatinya.


"Seharusnya dari tadi bayar becaknya nya dulu, baru ngobrol. Bikin aku harus menunggu lama saja,padahal aku juga ingin mencari penumpang yang lain. Kayak gini menyita waktuku saja!" batin si tukang becak kesal.


Setelah mendapatkan ongkos becaknya, si tukang becak tersebut langsung pergi dari pelataran rumah kontrakan Bima. Sementara Bima perlahan masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai dan lemas karena kondisi tubuhnya yang saat ini sedang tidak sehat.


Bima melangkah ke dapur untuk mengambil air minum guna meminum obatnya.


"Tega banget mamah, di saat aku sakit seperti ini bukannya mengurusku. Malah dia sama sekali tak peduli denganku. Padahal selama ini aku selalu menomorsatukan Mamah."


"Hingga rumah tanggaku juga hancur karena mamah. Tetapi mamah sama sekali tidak peduli dengan diriku ini."

__ADS_1


Terus saja Bima berkeluh kesah di dalam hatinya. Ia benar-benar menyayangkan atas sikap Mamah Nindy yang terlalu cuek padanya. Ia sama sekali tidak menyangka jika seorang ibu yang selalu ia banggakan dan hormati serta hargai segala keputusannya malah kini tak peduli dengannya.


Setelah meminum obatnya, Bima pun melangkah pergi dari dapur dan kembali ke kamarnya. Ia pun merebahkan tubuhnya lagi. Ia mencoba memejamkan matanya, untuk beristirahat kembali.


__ADS_2