
Sesampainya di pelataran rumah Kiara, mamah Nindy sempat melihat bendera putih terpampang.
"Hah, siapa kiranya yang meninggal dunia?" batinnya heran.
Saat itu juga Mamah Nindy melangkah begitu saja dengan penuh percaya diri menuju ke rumah Kiara.
"Bima! Bima! mamah tahu jika saat ini kamu ada di dalam! cepat keluar, dan kita pulang! untuk apa kamu ada di rumah ini!"
Mamah Nindy teriak hingga terdengar sampai di dalam rumah. Semua orang yang ada di dalam rumah segera keluar karena merasa terganggu dengan lantangnya suara Mamah Nindy.
"Mas, sepertinya itu suara mantan mamah mertuaku," ucap Kiara.
"Sayang, kamu mau kemana? sebaiknya biar aku saja yang menemuinya, kamu Istirahat saja," pinta Arya.
"Nggak mas, aku ingin tahu ada apa si nenek sihir datang kemari. Teriak panggil nama Bima pula."
Kiara sama sekali tak mengindahkan apa yang di katakan oleh suaminya. Ia tetap melangkah ke luar untuk menghadapi Mamah Nindy. Hingga pada akhirnya, Arya pun mengikuti langkah istrinya.
Bahkan mereka berpapasan dengan langkah kaki Riko dan orang tuanya yang merasa terganggu juga dengan teriakan Mamah Nindy.
Kiara membuka pintu rumahnya, dan belum juga ia bertanya pada Mamah Nindy. Terlebih dahulu Mamah Nindy mendorong tubuh Kiara, hingga terhempas. Untung saja ada Arya, hingga Arya reflek dan gerak cepat menangkap tubuh istrinya supaya tidak terjatuh.
Sementara Mamah Nindy, nekad masuk rumah Kiara seraya celingukan memanggil nama Bima. Ia sama sekali tidak ada rasa malu atau sopan santun.
"Bima, keluar kamu! mamah tahu jika saat ini kamu sedang bersembunyi di rumah ini! cepat keluar sekarang juga! apa kamu mau, mamah buat onar di rumah ini! cepat keluar Bima, jika kamu tak ingin melihat mamah, mengacak-acak rumah ini!"
__ADS_1
Mamah Nindy celingukan dan terus saja mencari keberadaan Bima. Sikap lancang Mamah Nindy membawa kecaman dari Ayah Darwo. Ia langsung menyeret paksa tangan Mamah Nindy untuk segera keluar dari rumah itu.
Dengan sangat kasar, Ayah Darwo melempar tubuh gemuk Mamah Nindy kepelataran dan ia hampir saja terpelanting,
"Heh, dasar kurang ajar kamu ya! aku tidak akan membiarkan ini terjadi begitu saja. Aku akan balas apa yang kamu lakukan! terutama kamu, Kiara! aku tidak akan tinggal diam, karena kamu, Bima saat ini entah ada di mana! sejak kedatangan selingkuhan dirimu itu!"
Terus saja Mamah Nindy mengoceh tiada hentinya hingga pada akhirnya ia diam pada saat Ayah Darwo menampar pipinya.
PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipi Mamah Nindy, sejenak ia mengusap pipinya yang sempat panas dan juga merah.
Mamah Nindy bukannya sadar akan kesalahannya, dia malah makin menjadi-jadi," heh, berani sekali ya kamu menampar aku! akan aku laporkan kamu ke kantor polisi!"
"Silakan saja kamu laporkan aku ke kantor polisi, sama sekali aku tidak takut dengan ucapan itu! harusnya kamu itu sadar diri, terlalu lancang masuk rumah orang tanpa permisi!" bentak Ayah Darwo.
Saat itu juga Riko merangkul kanan dan kiri orang tuanya melangkah masuk ke dalam rumah. Sedangkan saat ini Arya dan Kiara berdiri tepat di ambang pintu ruang tamu.
"Cepat anda pulang dan jangan datang lagi ke rumahku. Karena sejak putusnya hubungan aku dengan Mas Bima. Sejak saat itu juga kami tak pernah komunikasi.
Anda telah salah jika mendatangi rumah kami! apa lagi dengan koar-koar, teriak dan masuk rumah tanpa permisi!" bentak Kiara kesal.
"Halahhhh.. nggak usah munafik kamu! jika kamu memang sudah tak peduli dan tak memikirkan Bima lagi. Lantas untuk apa juga memerintahkan suamimu ini datang ke rumah?" ejek Mamah Nindy sama sekali tidak ada rasa takutnya.
"Heh, Tante! aku datang kerumahmu itu atas kemauan aku sendiri! bukan Kiara yang memerintah! justru Kiara yang melarangku!" bentak Arya seraya tangannya mengepalkan tinjunya.
__ADS_1
Kiara sempat melihat kemarahan yang terpancar pada wajah, Arya. Dan iapun menggenggam jemari Arya yang sedang terepal. Karena Kiara tak ingin suaminya lepas kontrol dan melakukan tindakan yang tidak diinginkan.
"Pergilah! karena Bima mu itu tidak ada di sini! apa mau aku kasuskan ke kantor polisi!" bentak Kiara.
Hingga pada akhirnya Mamah Nindy pergi tanpa ada kata yang terucap sama sekali. Hanya di dalam hatinya tetap saja menggerutu mengingat saat ini Bima tak juga pulang ke rumah.
"Jika Bima tidak ada di rumah ini, lantas kemana ia pergi saat ini ya?" tanyanya dalam hati.
Mamah Nindy kembali memesan taksi online untuk pulang ke rumah. Karena pikirannya terlalu buntu dalam mencari keberadaan, Bima.
Seperginya Mamah Nindy dari rumah Kiara, ia mengatakan satu hal kepada suaminya," mas, coba kamu nanti pagi hubungi security kita. Masa iya dua-duanya tidak ada yang bertugas jaga, hingga kita kecolongan si nenek sihir datang kemari."
"Iya sayang, nanti pagi aku akan menanyakan kepada kedua security kita. Kenapa salah satu diantara mereka tidak ada satupun yang datang," ucap Arya.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam dan beristirahat."
Saat itu juga Arya menutup pintu ruang tamu dan menguncinya. Setelah itu ia merangkul istrinya mengajaknya melangkah menuju ke kamar.
Tak berapa lama Mamah Nindy telah sampai di pelataran rumah kontrakannya. Ia memicingkan alisnya pada saat melihat sebuah motor matic sudah ada di depan pintu kontrakan rumahnya.
"Akhirnya Bima pulang juga," batinnya seraya melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan tersebut.
Dia begitu heran pada saat melihat Bima yang sedang melamun di ruang tamu," Bima, darimana saja kamu? Mamah mencarimu ke rumah Kiara, tapi nggak ada. Kenapa wajahmu kusut sekali seperti itu? dan kenapa kamu terlihat sangat sedih? apa yang telah terjadi padamu, Bima? coba kamu ceritakan pada, mamah. Siapa tahu, mamah bisa bantu kamu menyelesaikan permasalaham yang sedang kamu hadapi saat ini."
"Astaga, mamah masih juga belum sadar dengan apa yang telah mamah lakukan saat ini? aku habis dari makam! secara tidak langsung, Mamah yang telah membunuh anak kandungku, dengan mamah melarang aku mendonorkan sum-sum tulang belakangku untuk anak kandungku sendiri?" umpat Bima kesal.
__ADS_1
"Jadi anak Kiara telah mati? pantas saja tadi di depan rumahnya, ada bendera putih.," ucap Mamah Nindy tanpa ada rasa bersalah.
Dia malah terlihat sangat senang mendengar kabar duka tersebut. Hal ini membuat hati Bima semakin bertambah sedih. Tetapi ia tak berkata apapun, karena baginya percuma saja.