
Eli berani menjawab setiap perkataan yang terlontar dari mulut Mamah Nindy, hal ini membuatnya semakin kesal kepadanya.
"Belum juga kamu mulai bekerja sudah berani ya membantah apa perkataan majikanmu!" ucap Mamah Nindy lantang.
"Maaf nyonya, saya di sini bukan membantah apa perkataan anda. Tapi saya hanya meluruskan kesalahpahaman dari anda. Jujur saya tidak terima dengan segala tuduhan anda, karena saya berada di sini benar-benar untuk bekerja bukan untuk menggoda lelaki!"
"Satu hal lagi yang perlu Nyonya ketahui, saya bekerja di sini dibayar oleh, Den Bima bukan oleh nyonya. Jadi saya sama sekali tidak takut dengan ancaman, nyonya. Saya justru bisa melaporkannya kepada Den Bima, tentang segala ancaman anda."
Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Eli, mamah Nindy semakin kesal.
"Benar-benar ya dasar pembantu tidak tahu diri? bagaimana pun aku ini ibu dari orang yang kelak membayarmu! jadi kamu juga harus patuh padaku juga! nggak usah banyak berkata!"
"Di sini saya nggak banyak kata, justry saya sedang istirahat tidak mengatakan apapun, nyonya yang tiba-tiba menuduh saya macam-macam," ucap Eli.
"Maaf ya Nyonya, saya mau istirahat."
Saat itu juga Eli menutup pintu kamarnya. Dia tak ingin meladeni omongan dari Mamah Nindy yang tak ada juntrungannya sama sekali.
Jika terus ditanggapi bisa sampai sore tidak selesai-selesai.
"Belum juga aku mulai bekerja sudah harus menahan rasa amarahku, tapi aku harus bisa bertahan di sini demi keluargaku yang ada di kampung. a
Aku yakin aku mampu menghadapi si nenek sihir itu, karena pada awalnya juga Den Bima sempat memberitahu tentang sifat buruk mamahnya lewat chat pesan whatsapp ke dalam nomor ponselku tanpa sepengetahuan mamahnya."
"Untung saja aku sudah diberi tahu terlebih dahulu, sifat buruk si nenek sihir itu. Sehingga tidak kaget pada saat mengalami hal seperti barusan."
Eli sudah siap dengan segala konsekuensinya, ia sudah yakon dengan diri sendiri mampu menghadapi Mamah Nindy.
********
__ADS_1
Di lain tempat saat ini Kiara sedang berbahagia karena dirinya di nyatakan hamil. Begitu pula dengan Arya, dia juga sangat bahagia mendengar kabar berita istrinya hamil.
"Sayang, Alhamdulillah. akhirnya kita akan punya anak."
Arya memeluk istrinya penuh cinta.
"Iya, mas. Ini sebagai ganti almarhum Alvaro, supaya aku tidak terus ingat dia. Dan aku lebih semangat untuk menjalani hidup ini."
"Semoga kali ini anak kita di beri kesehatan dan panjang umur ya, mas?"
ucap Kiara yang berharap hak baik terjadi pada calon bayinya.
"Amin, percaya saja pada Allah. Jika kali ini anak kita akan panjang umur dan juga sehat selalu," ucap Arya untuk meyakinkan istrinya.
Saat ini Kiara tengah hamil dengan usia kehamilannya yang baru memasuki satu bulan. Arya pun memberikan suatu saran supaya Kiara berhenti bekerja saja dan fokus dengan kehamilannya.
Kiara menuruti kemauan suaminya tersebut tanpa ada bantahan sama sekali, karena ia juga mengharapkan janin yang ada di dalam kandungannya selalu sehat.
"Dengan senang hati, Mas. Aku akan menuruti kemauanmu, aku sama sekali tidak terpaksa. Karena aku juga berharap anak kita selalu sehat. Lagi pula aku percaya kok, walaupun aku tidak bekerja, kamu bisa mencukupi segala kebutuhan keluarga," ucap Kiara dengan sangat yakinnya.
"Terima kasih ya, sayang. Kamu selalu saja patuh padaku dan tak pernah membantah apa pun yang aku sarankan. Aku bahagia memiliki istri sepatuh dirimu."
"Ingat ya, jika ingin beli apapun tak usah ragu dan sungkan untuk mengatakannya padaku. Karena aku akan selalu menjadi suami siaga bagimu. Walaupun aku sedang ada di kantor, jika aku sedang tidak sibuk katakan saja ya, sayang. Karena aku tak ingin anak kita ileran."
Suami istri ini tertawa ngakak hingga terdengar dari dalam rumah. Dan mengundang tanya bagi Ayah Darwo dan juga Ibu Darti.
"Ayah, sepertinya Kiara sudah bisa ikhlas dengan meninggalnya Alvaro. Hingga sudah bisa tertawa ngakak," ucap Bu Darti.
"Benar juga, Bu. Sepertinya memang Kiara saat ini sudah bisa merelakan kepergian Alvaro atau mungkin dia saat ini juga tengah bahagia," ucap Ayah Darwo.
__ADS_1
"Sebaiknya kita tengok saja dan tanyakan apakah yang membuat Kiara sebegitu bahagianya.
Suami istri paruh baya ini segera melangkah ke arah ruang tamu dimana anak dan menantunya sedang duduk bercengkrama.
"Wah, anak ayah dan ibu sepertinya sedang bahagia?" ucap Ayah Darwo terkekeh.
"Iya, ayah. Bukan hanya aku yang sedang bahagia, tetapi kami berdua. Karena barusan kami ke rumah sakit dan cek kesehatanku. Aku pikir aku sakit, tapi ternyata nggak, ayah. Justru saat ini aku sedang hamil dan umur kehamilanku baru berusia satu bulan," ucap Kiara menjelaskan dengan sangat antusias dan sangat bahagia.
"Alhamdulillah."
Ucap serentak Ayah dan ibu Kiara.
Mereka juga ikut senang mendengarnya, tentang kabar kehamilan Kiara. Keduanya berdoa di dalam hati supaya kali ini anak Kiara panjang umur dan sehat selalu selamanya.
"Kiara, sebaiknya kamu berhenti bekerja saja demi kesehatan anakmu," saran Ibu Darti.
"Iya, Bu. Baru saja kami sedang ngobrol tentang ini dan kata-kata ileran yang membuat kami tertawa ngakak," ucap Kiara terkekeh.
Bu Darti dan Ayah Darwo ikut terkekeh dan mereka pun berlalu dari hadapan anak dan menantunya.
"Kiara, aku berjanji di dalam hati. Tidak akan menyia-nyiakan dirimu dan akan selalu menjadi suami siaga. Aku nggak ingin kamu sedih seperti pada saat hamil, Almarhum Alvaro," batin Arya.
Arya memang berbeda dengan Bima, dia suami yang sangat tanggung jawab. Dari Kiara belum hamil pun, dia selalu perhatian pada istrinya dengan selalu memberikan kejutan-kejutan yang manis.
Orang tua Arya juga begitu baik dan sayang padanya. Tidak seperti Mamah Nindy. Perbedaan jauh bagai langit dan bumi. Selagi keduanya asik bercanda ria, pintu gerbang terbuka oleh security.
Dimana Joni datang dengan wajah kusutnya, seperti biasa. Dia curhat pada Arya dan Kiara tentang apa yang sedang ia rasakan saat ini.
Kiara dan Arya sama-sama memberikan sebuah saran supaya move on dari Milka.
__ADS_1
"Jika memang Milka sudah mengatakan hal itu, sebaiknya kamu mundur saja dan membuka hatimu utama wanita yang lain. Karena jika sudah seperti itu, kesempatan untuk dirimu bisa meluluhkan hati Milka sangat kecil."
"Kecuali seperti aku dulu, Kiara tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Dia hanya mengatakan belum siap saja," ucap Arya.