
Tak berapa lama, sampailah mobil yang ditumpangi oleh Kiara dan keluarganya di pelataran rumah mewah Kiara. Ketika semua orang sedang turun, tiba-tiba Bima memberanikan diri mendekat. Arya yang sempat melihat akan hal itu menjadi sangat kesal dan marah.
"Heh, masih berani kamu datang kemari setelah apa yang kamu lakukan pada anak kandungmu sendiri? cepat pergi dari sini!"
Arya mendorong kasar tubuh Bima, tetapi Bima tetap saja dengan pendiriannya. Ia tetap saja maju, hingga Kiara yang ada di samping Arya ikut emosi," heh, pergi cepat! jika tidak mau pergi, kami akan teriak untuk memanggil warga setempat supaya kamu di keroyok!"
"Kiara, aku hanya ingin menghadiri pemakaman anakku saja. Aku mohon izinkan aku, Kiara. Tolong jangan hukum aku seperti ini," pinta Bima memelas seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Apa, anak? setelah Alvaro meninggal, baru kamu mengakuinya sebagai anak. Lantas dimana kamu, saat Alvaro sangat butuh dirimu? aku tidak pernah menghukum siapa pun, justru kamu yang telah menghukum anak kandungmu sendiri. Dari selama ia ada di dalam perut, kamu menolaknya. Kamu menghukum anakmu yang tak tahu apa-apa! pergilah, aku tak ingin melihat dirimu di sini, apa lagi di pemakaman anakku! selamanya ia bukan anakmu, karena kamu telah menolaknya mentah-mentah!" Kiara berteriak mengusir Bima.
Hingga pada akhirnya Bima pun pergi dari pelataran rumah Kiara, tetapi ia masih saja berdiri di luar pelataran rumah tersebut.
"Aku tidak akan pergi sebelum aku tahu dimana nantinya anakku di makamkan. Astaghfirullah aladzim, aku yang telah membunuh anak kandungku sendiri. Hanya karena aku selalu saja mendengar apa yang di katakan oleh Mamah, hingga aku tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh mantan istriku tentang anakku sendiri."
"Ya Allah, kini aku benar-benar baru sadar dan menyesal dengan apa yang telah aku lakukan pada anak kandungku sendiri. Padahal secara tidak langsung, anakku menghubungiku meminta bantuan. Hingga aku merasa tiba-tiba diri ini tak tenang dan selalu memikirkan dirinya."
"Wahai anakku, engkau sudah berusaha memintaku untuk segera datang, tetapi aku terlalu banyak pertimbangan dan terlalu banyak berpikir. Padahal jika memang aku tidak ada ikatan darah denganmu, mana mungkin aku ingin sekali bertemu denganmu."
"Wahai anakku, maafkan aku. Maafkan aku yang telah terlambat untuk menyelamatkan nyawamu. Padahal jika sedikit lagi aku datang dan tidak terlambat. Pasti saat ini kamu selamat dan tidak seperti ini."
"Secara tidak langsung aku yang telah membunuh anak kandungku sendiri. Aku seorang pembunuh, pembunuh yang kejam."
__ADS_1
Bima melelehkan air matanya, ia pun langsung jatuh terduduk begitu saja. Sepintas tiba-tiba ia teringat akan masa lalu dimana saat itu Kiara hamil, tetapi justru dirinya sama sekali tidak peduli dengan kehamilannya.
Bima terus saja menangis dan menangis. Bahkan ia sama sekali tidak peduli dengan tatapan para pejalan kaki yang sempat melintas di depan jalan setapak yang ada di depan rumah Kiara.
Satu jam kemudian....
Pemakaman siap di lakukan, karena almarhum Alvaro telah selesai di mandikan, di solati dan di doakan. Kini keluarga Kiara membawa jenazah Alvaro ke tempat pemakaman umum yang kebetulan tak jauh dari rumah Kiara.
Sejenak Bima bersembunyi pada saat melihat pintu rumah Kiara terbuka dan semua keluar dari rumah. Karena Bima tak ingin dirinya di usir kembali.
Karena tempat pemakaman umum tidak jauh, hingga kemudian Kiara memutuskan berjalan kaki saja. Kebetulan di makam telah ada beberapa orang penggali kubur dimana mereka sudah di beri tahu terlebih dahulu jika ada jenazah balita yang akan di makamkan di tempat pemakaman umum tersebut. Hingga beberapa penggali kubur segera menyiapkan luangnya.
Perlahan tapi pasti, jenazah Alvaro di masukkan ke dalam liang yang tak begitu besar. Karena Alvaro masih balita.
Arya terus saja mengusap pucuk rambut Kiara seraya memeluknya untuk menenangkan istrinya tersebut.
Sementara Bima terus saja melihat di balik persembunyiannya. Ia menunggu waktu yang tepat untuk bisa menemui anaknya di makam. Hingga beberapa menit kemudian, semua yang ada di makam satu persatu berlalu pergi meninggalkan makam.
Begitu pula dengan Kiara dan keluarganya. Dan setelah suasana di makam sepi, barulah Bima keluar dari persembunyiannya. Ia melangkah menghampiri makam, Alvaro.
Dia bersimpuh di depan makam anaknya, sembari tak kuasa menahan air matanya. Terus saja ia menangis histeris. Ia benar-benar sudah merasakan penyesalan yang mendalam.
__ADS_1
"Apa yang di katakan oleh suami Kiara benar adanya. Kini aku sudah mulai merasa menyesal karena kesalahan dan dosaku ini. Ya Allah, kenapa aku begitu bodoh dan selalu saja tak bisa memutuskan apa-apa sendiri?"
"Ya Allah, kenapa aku selalu saja menuruti apa yang di katakan oleh Mamah, meskipun itu adalah hal yang salah?"
"Seharusnya aku bisa mengingatkan akan kesalahan mamahku, bukan malah aku selalu saja menuruti semua yang diinginkan oleh mamah."
"Nak, maafkan atas segala dosa dan kesalahan yang pernah papah lakukan. Jika waktu bisa di putar pasti Papah tidak akan melakukan kesalahan yang fatal seperti ini."
Terus saja Bima merutuki diri sendiri di depan makam, almarhum Alvaro. Air mata terus tertumpah membasahi gundukan tanah dimana Alvaro di kubur.
Bima bahkan tak peduli lagi dengan dirinya. Ia terus saja menangis dan menangis seraya memeluk batu nisan bertuliskan Alvaro.
Sampai waktu sore menjelang, Bima masih saja ada di makam tersebut. Bahkan tak terasa hingga menjelang malam, Bima masih ada di makam dan ia tertidur di makam Alvaro.
Sementara Mamah Nindy mulai kelimpungan karena Bima tak juga pulang.
"Aduh, apakah Bima benar-benar melakukan donor sum-sum tulang belakang untuk anak Kiara? apakah saat ini Bima sedang tergolek lemas karena telah jalani operasi pencangkokan itu? ini tidak bisa di biarkan, aku akan segera datangi rumah sakit. Dan jika perlu aku akan labrak habis-habisan si Kiara itu!" gumam Mamah Nindy kesal.
Saat itu juga Mamah Nindy memesan taxi on line untuk pergi ke rumah sakit. Tetapi setelah sampai di rumah sakit, ia tidak menemukan adanya Bima. Bahkan ia mendapatkan informasi jika hari itu tidak ada yang melakukan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang.
"Kemana Bima? padahal aku jelas mendengar jika anak Kiara di rawat di rumah sakit ini. Jika begini aku akan langsung ke rumah Kiara saja. Pasti saat ini Bima sedang ada di rumah Kiara!"
__ADS_1
Saat itu juga Mamah Nindy pergi dengan taxi kembali ke rumah Kiara dengan amarah yang meluap-luap.