
Sirna sudah harapan Meymey untuk bisa menikah dengan, Joni. Ia begitu kecewa badan sakit hati atas perlakuan Joni terhadap dirinya. Pemikiran terhadap Joni selama ini salah.
"Ternyata selama ini aku hanya di jadikan sebagai alat untuk ajang balas dendam bagi, Mas Joni. Aku pikir, ia benar-benar tulus ikhlas cinta dan sayang padaku. Jahat banget dia, setelah apa yang aku lakukan untuk dirinya. Kini aku di buang begitu saja olehnya."
"Hem, nggak apa-apa dech. Toh aku masih punya Mas Bima, jadi aku tidak bahkan begitu kecewa padanya. Aku bisa bergantung hidup padanya."
Saat itu juga, Meymey berlalu pergi dari kantor Joni. Dan saat ini Lisa sedang menata semua berkas nya yang di rusak oleh, Meymey.
"Sialan, Si Meymey! semua berkas ini rusak olehnya. Tapi nggak apa-apa, yang terpenting aku telah menang karena aku yang telah berhasil mendapatkan hato, Mas Joni. Dan Meymey kini tersingkir begitu saja. Hebatnya diriku yang mampu mengalahkan sainganku hanya dengan sekali tepuk saja."
Saat ini Meymey dalam perjalanan menuju ke kantor Bima. Ia ingin mulai bersikap manis padanya. Setelah beberapa hari lalu ia berskmap kasar padanya.
"Jika saja aku tak memberikan bukti kecurangan itu pada, Joni.. Mungkin saat ini aku bisa kuasai sendiri semua kekayaan Bima. Lantas apa yang harus aku lakukan jika seperti ini? karena aku yakin secepatnya Joni pasti akan menggunakan bukti-bukti itu untuk menjatuhkan Bima."
"Aku harus bergerak lebih cepat dari Joni. Supaya kerja kerasku selama ini tidaklah sia-sia. Seenaknya saja, aku yang sudah payah mendapatkan bukti itu. Joni yang menikmati hasilnya."
"Aku tidak rela hal itu terjadi, apa lagi saat ini Joni dengan terang-terangan memperlihatkan perselingkuhannya dengan, Lisa! huh, kurang ajar mereka! lihat saja ya, aku akan bakas apa yang telah kalian lakukan padaku!"
Terus saja Meymey menggerutu di dalam hatinya, ia benar-benar kesal mengingat kejadian barusan. Di depan mata, Joni bercumbu mesra dengan Lisa.
Tak berapa lama, Meymey telah sampai di kantor Bima. Kedatangan Meymey di pagi hari membuat Bima sempat memicingkan alisnya.
__ADS_1
"Meymey, ada apa kamu datang ke kantor sepagi ini?" tanyanya heran.
"Nggak ada apa-apa, mas. Aku hanya bosan saja di rumah karena selalu saja mamahmu memusuhiku. Seharusnya aku yang memusuhi dirinya," ucap Meymey mulai menghasut Bima.
"Memang apa lagi yang di perbuat oleh, Mamah? padahal aku sudah berkali-kali menasehatinya untuk tidak menggangu dirimu," ucap Bima.
Meymey mengarang cerita jika setiap Bima ada di kantor. Mamah Nindu tets saja menyalahkan dirinya atas sikap Bima yang sekarang dingin padanya.
"Hem, memang mamah itu seperti itu. Mungkin sudah saatnya aku harus bertindak keras padanya, supaya tidak menggangu dirimu. Karena aku tak ingin kejadian yang telah menimpa Kiara, kini menimpa dirimu, sayang. Aku tak ingin perceraian yang pernah aku alami bersama Kiara, kini aku alami juga denganmu. Aku nggak ingin bercerai dari mu, karena aku sangat sayang dan cinta padamu."
Meymey sangat bangga dan tersanjung pada saat mendengar kata-kata manis dari Bima. Dan ia pun telah berhasil dengan hasutannya.
"Sudahlah, sayang. Tak usah bersedih lagi, bagaimana kalau sekarang juga kita jalan-jalan ke mall. Sudah lama aku nggak mengajakmu berbelanja. Karena aku beberapa waktu lalu telah tertipu oleh klien baruku sebesar dua ratus juta," ucap Bima.
Saat itu jga Bima bangkit dari duduknya seraya meraih tangan Meymey dan menuntunntw keluar dari ruangannya.
Meymey sama sekali tidak peduli dengan cerita dari Bima barusan. Hingga ia tak merespon dengan bertanya balik. Ia hanya ber hooh ria saja. Setelah itu melenggang anggun bersama dengan, Bima.
Sementara saat ini Mamah Nindy di kejutkan dengan kedatangan tamu yang tak asing lagi.
"Layla? aku pikir kamu telah mati atau menjadi gembel bersama anakmu," ejek Mamah Nindy.
__ADS_1
"Setelah sekian lama nggak bertemu, aku pikir sifatmu telah berubah. Ternyata masih saja sama seperti dulu. Oh ya, sifat seseorang tidak akan berubah hingga ia mati sekalipun. akunnsru ingat akan hal itu," ucap Layla.
"Dari mana kamu tahu tentang rumahku ini?" tanya Mamah Nindy heran, karena selama ini ia selalu saja berpindah-pindah rumah hanya untuk menghindari kejaran dari, Layla.
"Kamu tak perlu tahu aku bisa tahu dari mana. Yang jelas aku datang kembali karena ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku dan anakku. Karena ahli waris yang sesungguhnya adalah anakku, bukan anakmu!" ucap lantang Layla.
Mamah Nindy sama sekali tidak gentar dengan apa yang barusan di katakan oleh, Layla. Justru ia tersenyum sinis padanya," kamu tidak akan bisa mengambil semua yang sudah menjadi milikku dan anakku. Apa lagi semua sudah di wariskan pada anakku okrh mendiang suamiku."
"Kita lihat saja, dulu memang kamu yang menang. Tetapi kali ini aku yang akan menang, dan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikk anakku! bahkan aku akan buat anakmu menjadi benci padamu!" ancam Kayla.
Di dalam hati Mamah Nindy sebenarnya ada rasa khawatir akan ancaman dari, Layla. Tetapi ia sengaja bersikap biasa saja supaya tak tetky dirinya gugup di hadapan, Layla.
Satu hal yang Mamah Nindy takutkan yakni Bima akan tahu jika dirinya bukan anak kandung dari mendiang suaminya yang baru.
"Jangan sampai Layla datang menemui Bima dan mengatakan segalanya padanya jika dia bukan anak kandung dari almarhum papahnya. Karena itu akan membuat hati Bima hancur dan lantas membenciku. Aku harus segera mencari tahu dimana saat ini Layla bertempat tinggal. Setelah itu barulah aku bisa dengan mudah menyingkirkan dia dan anaknya," batin Mamah Nindy.
Dia pikir akan mudah mencari tahu tentang keberadaan rumah, Layla. Karena sudah dari awal, Layla dan Joni Sengaja menyembunyikan keberadaan rumah mereka. Karena Ksyka sudah hapal dengan akal licik dari, Mamah Nindy.
Setelah sejenak datang ke rumah Mamah Nindy untuk memberikan satu ancaman, Layla pun segera pergi begitu saja.
Seperginya Layla, barulah Mamah Nindy mondar mandir gelisah. Ia mencari cara untuk bisa mengetahui dimana saat ini Layla tinggal. Ia sengaja tidak memberi tahu pada, Bima tentang hal ini.
__ADS_1