Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Alvaro Meninggal


__ADS_3

Selagi Bima diam saja, ponsel Arya berdering yang ternyata adalah panggilan telepon dari Kiara.


📱" Ada apa sayang?"


📱" Mas, buruan ke rumah sakit. Alvaro kritis, dan aku cuma sendirian. Aku bingung, mas."


Setelah memberi tahu perihal tentang Alvaro, Kiara langsung mematikan panggilan teleponnya. Begitu pula dengan Arya, dan ia hanya melirik sinis pada Bima yang sedari tadi tak bergeming sama sekali. Hanya diam saja tak berkata apa pun.


"Bima, kamu memang benar-benar boneka mamahmu. Tak punya prinsip dan pendirian sendiri, lihat saja kelak kamu pasti akan menyesal dengan apa yang telah kamu perbuat pada anakmu sendiri!"


Setelah mengatakan hal itu, Arya berlari kecil menuju ke mobilnya dan lekas melajukannya dengan kecepatan lumayan cepat ke rumah sakit.


Bima tetap terdiam, tetapi di dalam hatinya berkecamuk rasa ingin pergi. Hingga pada akhirnya Bima pun berlari ke arah motornya dan pada saat dirinya akan menyalakan mesin motornya, Mamah Nindy menghadangnya," Bima kamu mau kemana? sudah jelas anak itu bukan anak kandungmu, untuk apa kamu kesana?"


"Minggir, mah. Keyakinanku mengatakan bahwa anak itu anak kandungku!"


Bima pun tetap pergi tak menghiraukan larangan Mamah Nindy.


Sementara saat ini orang tua dan adik Kiara juga sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, setelah mendapatkan trofi dari Kiara.


"Ayah, ibu kok khawatir sekali dengan kondisi Alvaro. Padahal baru saja kira dari sana, dan dokter sempat mengatakan kondisi sudah stabil walaupun meo butuh sumsum tulang belakang secepatnya,' ucap Bu Darti gelisah.


"Kita berdoa dan positif thinking saja, Bu. Semoga kondisi cucu kita nggak apa-apa. Dan kita berharap saja semoga Arya mampu membujuk Bima untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada Alvaro," ucap Ayah Darwo mencoba untuk menenangkan hati istrinya walaupun dirinya sendiri juga merasa gelisah.


Beberapa menit kemudian...


Arya telah sampai di rumah sakit, tetapi ia melihat sang istri sedang menangis histeris sambil memeluk seseorang yang di tutup kain kafan.

__ADS_1


"Sayang....


'Mas... Alvaro mas.. Alvaro sudah pergi... mas."


Tangis Kiara tak terpecahkan, Arya pun memeluknya dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang, aku minta maaf. Ini semua salahku yang tak bisa membujuk Bima untuk cepat datang kemari. Aku tidak akan mengampuni diriku sendiri," Arya merutuki diri sendiri seraya terus memeluk istrinya.


"Mas, aku tak menyalahkanmu dan aku tahu seperti apa dirimu. Jangan menyalahkan diri sendiri, mas," ucap Kira di sela isak tangisnya.


Arya tak kuasa untuk menangis, baru kali ini ia bisa menangis. Ia mengingat saat kebersamaannya dengan Alvaro. Terbayang jelas di pelupuk matanya saat ia bermain dengan si kecil baby Alvaro, tawanya yang selalu membuat Arya juga selalu ikut tertawa.


"Ya Allah, ini benar-benar tidak adil bagi kami terutama bagi istriku. Ini tidak adil karena Alvaro masih terlalu kecil untuk Engkau ambil dirinya. Tapi kami bisa apa? jika Engkau sudah berkehendak apapun bisa terjadi setiap saat setiap waktu," batin Arya terus saja memeluk Kiara seraya terus mengusap Surai hitam istrinya.


Selama di dalam hidup, Arya tidak pernah menitikkan air mata. Baru kali ini, di saat Alvaro telah tiada untuk selamanya, ia sangat kehilangan anak yang bukan darah dagingnya tetapi sudah ia anggap anaknya sendiri.


Tak berapa lama....


"Inalillahi wa inalillahi rojiun, ayah cucu kita yah."


Tak kuasa air mata Bu Darti tertumpah saat itu juga. Apa yang sempat ia khawatirkan menjadi kenyataan.


Sontak saja Ayah Darwo dan adik Kiara juga ikut menangis histeris. Dan sejenak Ayah Darwo celingngukan," Arya, dimana Bima? apakah...


"Maafkan aku, ayah. Tak berhasil membujuk Bima untuk bersedia datang kemari. Ia bahkan sama sekali tidak berkata apapun. Bahkan pada saat aku pergi setelah mendapatkan telpon dari, Kiara. Bima masih saja diam tak bergeming sama sekali."


Mendengar yang dikatakan oleh Arya, ayah Darwo pun mengepalkan tinjunya. Ia begitu marah mengetahui sikap Bima yang terlalu tega terhadap anak kandungnya sendiri. Di saat Alvaro benar-benar membutuhkan pertolongan dirinya.

__ADS_1


"Kejam sekali, dia! biar ayah beri pelajaran Bima!"


Pada saat Ayah Darwo akan melangkah pergi, Kiara melarangnya," nggak perlu ayah, percuma saja. Toh jika ayah datang kesana dan Bima bersedia kemari itu sudah tidak ada gunanya dan terlambat. Karena Alvaro sudah tidak. Biarkan saja, ayah. Aku yakin suatu saat nanti, Bima akan merasakan apa yang aku rasakan, ayah. Sebaiknya kita lekas urus saja pemakaman, Alvaro."


Hingga pada akhirnya, Ayah Darwo mengurungkan niatnya untuk menemui Bima. Ia pun menuruti kemauan, Kiara. Saat itu juga jazad Alvaro di bawa pulang oleh keluarga Kiara.


Dan pada saat mereka melangkah keluar dari pintu rumah sakit, mereka berpapasan dengan Bima. Semua menatap sinis kearahnya, terutama Arya. Belum juga salah satu dari mereka bicara, Bima sudah berbicara terlebih dahulu pada saat melihat Ayah Darwo menggendong seseorang yang di tutupi kain kafan.


"Kiara, apakah itu?... Kiara, itu bukan.."


Lidah Bima tercekat tak bisa melanjutkan ucapannya dan matanya berkaca-kaca.


"Untuk apa kamu datang kemari, hah? sudah terlambat tahu! kamu lihat itu! dia itu anakmu! anak yang selalu kamu tolak, dan di saat masa kritisnya pun, kamu masih juga menolaknya hingga pada akhirnya ajal menjemputnya!" bentak Kiara dengan deraian air mata.


Bahkan ia sama sekali tidak peduli, pada saat semua orang yang ada di rumah sakit yang sedang hilor mudik menatap ke arahnya. Bahkan ada yang berbisik-bisik, membicarakan apa yang barusan di katakan oleh Kiara.


"Kiara, aku minta maaf. Tadi aku....


"Ah, sudahlah! lagi pula kata maafmu itu tidak akan membuat anakku hidup kembali. Dan selamanya aku tidak akan memaafkan dirimu! aku yakin suatu saat nanti kamu akan merasakan apa yang saat ini sedang aku rasakan!" bentak Kiara.


"Arya, sebaiknya kita lekas pergi. Kasihan Kiara jika harus terus terkuras emosinya karena Bima. Lagi pula kita harus lekas mengurus pemakaman, Alvaro," pinta Ayah Darwo.


Arya pun merangkul Kiara dan membawanya melangkah pergi dari hadapan Bima. Begitu pula dengan adik dan orang tua Kiara, mereka juga tak menghiraukan Bima sama sekali.


Bima tersungkur di lantai, ia pun menitikkan air matanya.


"Ya Allah, ampuni hamba. Karena hamba terlalu lama berpikir dan terlalu meragukan anak kandung sendiri. Hingga pada akhirnya seperti ini, hamba terlambat memberikan pertolongan pada anak hamba," batin Bima terus saja merutuki diri sendiri.

__ADS_1


Setelah sejenak menangis, Bima pun bangkit dan ia pun lekas mengejar kepergian Kiara dan keluarganya. Ia ingin menyaksikan proses pemakaman anaknya.


Bima mengikuti laju mobil yang di tumpangi oleh Kiara dan keluarganya.


__ADS_2