Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Rasa Penasaran Terjawab


__ADS_3

Kiara belum menemukan hal yang luar biasa," aku pikir Mayang ada hubungannya dengan Milka. Sepertinya hanya perasaanku saja dech. Mungkin kebetulan saja, Mayang mirip dengan Milka. Tetapi biarlah, nggak apa-apa. Setidaknya aku bisa kenal dengan seseorang yang mirip dengan, Milka."


Pada saat Kiara akan berpamitan pulang, Ibunya Mayang memanggil dirinya. Dan ada hal yang tak terduga yang telah terjadi.


"Mayang....."


"Mba Kiara, sebentar ya. Ibuku memanggil."


Saat itu juga Mayang masuk ke dalam kamar Ibunya. Karena kebetulan ruangan tersebut sempit hingga terlihat sekali kamar Ibunya. Bahkan pada saat Mayang berbicara dengan ibunya, Kiara dan Arya bisa mendengarnya dengan jelas.


"Ada apa, Bu?"


"Mayang, ada hal penting yang ingin ibu ceritakan padamu. Tolong dengarkan baik-baik ya, nak."


Saat itu juga ibunya bercerita tentang masa lalunya kepada Mayang. Dan bahkan ia menunjukkan foto pengantin dirinya bersama dengan Papahnya Milka.


"Apa, jadi aku ini bukan anak kandung ayah? dan aku punya saudara kembar?"


"Iya, nak. Maafkan ibu ya, sudah menyembunyikan rahasia ini begitu lama. Ini juga atas permintaan dari almarhum ayahmu dulu. Supaya ibu menutup rapat-rapat masa lalu kelam, ibu."


"Ibu mengatakan hal ini karena ibu merasa umur ibu tidak akan lama lagi. Jika nanti ibu telah tiada, ibu ingin kamu sudah bertemu dengan ayah kandungmu."


Semua pembicaraan tersebut sempat terdengar oleh Arya dan Kiara.


"Mas, ini yang aku curigai. Makanya aku ingin mengenal Mayang lebih dekat lagi. Apa mungkin ya, mas. Jika Mayang itu saudara kembar dari Milka?" bisik Kiara pada suaminya.


"Bisa jadi seperti itu, nanti kita cari tahu lebih lanjut tentang hal ini pada, Mayang," Arya balas bisikan dari Kiara.


Setelah cukup lama Mayang dan Ibunya bercengkrama. Hingga pada akhirnya, Mayang keluar dari kamarnya dan menemui Kiara dan Milka.


"Maaf ya, Mbak-Mas. Aku agak lama ngobrol sama ibu."


Mayang menangkupkan kedua tangannya di dada, merasa tak enak hati.


"Nggak apa-apa, Mayang. Oh ya, kalau boleh tahu ibumu sakit apa? kenapa nggak di bawa ke rumah sakit saja?" tanya Kiara merasa tak tega.


"Sakit tua, mbak. Sebentar-sebentar sakit, sebentar-sebentar sehat. Ibu nggak pernah mau ke rumah sakit, walaupun aku selalu mengajaknya. Katanya nggak apa-apa, nanti juga sembuh," ucapnya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita bawa saja ke dokter? biar kami yang membayar biayanya," saran Kiara.


'Tak usah, mbak. Merepotkan saja," tolak Mayang secara halus.


"Mayang, jika ibumu di bawa ke rumah sakit. Pasti bisa di periksa secara intensif dan bisa terdeteksi apa yang menyebabkan beliau sakit. Supaya tidak sebentar sakit sebentar sembuh," saran Arya.


"Sebentar, aku tanyakan dulu pada ibu?" Mayang pun melangkah masuk kembali ke dalam kamar ibunya untuk mengatakan niat baik Arya dan Kiara.


"Nak, ibu nggak ingin di bawa ke ruma sakit. Karena umur ibu memang tidak akan lama lagi. Ibu sudah pernah ke dokter pada saat kamu bekerja, dan ibu sudah tahu apa penyakit ibu yang sebenarnya."


'Lantas apa penyakit ibu dan kenapa ibu nggak jujur padaku?"


"Ibu kena kanker stadium akhir, hidup ibu nggak akan lama lagi. Jadi percuma saja jika ibu di bawa ke rumah sakit. Hanya akan menghabiskan uang saja."


"Mayang, bisakah ibu bertemu dengan tamumu itu? ibu ingin mengatakan hal penting pada mereka."


Mayang pun memanggil Arya dan Kiara untuk menemui ibunya.


'Nak, terima kasih ya. Atas niat baik kalian berdua. Tetapi nggak udah repot-repot, hanya satu pinta ibu."


"Walaupun dulu Ayahnya pernah berbohong pada ibu. Jika saudara kembar Mayang telah meninggal dunia."


"Tapi ibu tahu jika ia bohong. Ibu tahu karena ada seseorang yang memberi tahu pada ibu. Saudara kembar Mayang ditukar dengan bayi yang telah meninggal dunia."


"Ibu juga tahu jika bayi itu bukan anak ibu, karena anak ibu punya tanda lahir.. Sedangkan bayi yang meninggal itu sama sekali tidak punya tanda lahir."


Panjang lebar, ibunya Mayang bercerita tentang masa lalunya pada Arya dan Kiara.


"Nak, ibu benar-benar minta tolong pada kalian berdua karena selama ini Mayang sama sekali tidak punya sahabat baik. Karena kondisi ekonomi kita yang seperti ini, hingga tidak ada yang mau berteman dengan, Mayang."


Arya dan Kiara benar-benar begitu iba pada Mayang. Mereka pun semakin penasaran dengan ayah kandung dan saudara kembar Mayang.


"Baiklah, Bu. Kami akan bantu Mayang untuk bisa menemukan saudara kembarnya dan syeh kandungnya. Tetapi bolehkah kami tahu bagaimana wajah ayah kandungnya supaya kami lebih mudah dalam proses penyelidikan ini," ucap Kiara.


Saat itu juga Mayang menunjukkan foto pengantin ibunya dan suaminya pada Kiara. Begitu Kiara melihatnya, ia pun terhenyak kaget," astaghfirullah aladzim, Mas Arya ini kan Papahnya Milka. Jadi kecurigaanku selama ini benar adanya."


"Mba, kenal dengan ayah saya?" tanya Mayang sumringah.

__ADS_1


"Bukan kenal lagi, bahkan aku berteman dekat dengan saudara kembarmu, Mayang. Awal mula aku ingin kenal denganmu juga karena rasa penasaran wajahmu yang sangat mirip dengan, Milka," ucap Kiara.


"Alhamdulillah, jadi Mak Kiara tahu keberadaan mantan suami saya dan saudara kembar Mayang. Dengan begini, saya lega. Dan saya akan ikhlas jika Allah mengambil nyawa saya," ucapnya lirih.


"Astaghfirullah aladzim, ibu jangan berkata seperti itu. Karena aku nggak mau hidup seorang diri, aku ingin ibu selalu ada di sampingku. Ibu harus panjang umur."


Mata Mayang berkaca-kaca, ia sedang menahan supaya air matanya tak meleleh.


"Nak, ibu juga ingin seperti itu. Tetapi Allah berkehendak lain, ibu nggak bisa menolak kehendak dariNya. Ibu hanya bisa menitip pesan saja padamu. Jika suatu hari nanti, kamu bertemu dengan saudara kembarmu. Sampaikan salam sayang dari ibu ya."


Setelah mengatakan panjang lebar, tiba-tiba ibunya Milka kejang-kejang da tak berapa lama, ia menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Tangis Mayang sudah tak bisa di hindarkan lagi. Arya dan Kiara juga ikut terbawa suasana sedih tersebut.


Saat itu juga Arya pun membantu proses pemakaman Ibunya Mayang. Dia menelpon beberapa anak buahnya untuk segera datang. Para tetangga di sekitar Mayang juga ikut membantu proses pemakaman ibunya.


Beberapa jam kemudian selesai sudah proses pemakaman yang dilakukan oleh warga setempat dan juga bantuan dari beberapa anak buah Arya.


"Mas Arya-Mbak Kiara, terima kasih atas bantuan kalian. Mohon maaf karena kita baru kenal, tetapi aku sudah banyak merepotkan kalian berdua," ucap Mayang masih belum ikhlas ibunya meninggal.


"Mayang, tak usah sungkan dengan kami. Kami melakukan semua ini ikhlas, dan satu hal lagi bagaimana jika kamu tinggal di rumah kami saja supaya kamu tidak sendirian."


"Nanti kami akan mempertemukanmu dengan saudara kembarmu, yang kebetulan adalah teman baikku. Aku akan membantunya untuk memberikan pengertian supaya dirinya mau menerimamu."


"Aku yakin Milka bisa menerimamu dan mengajakmu untuk tinggal bersama, supaya kamu tidak kesepian lagi."


Sejenak Mayang hanya diam saja, seolah ia sedang berpikir apakah akan menolak ajakan baik Kiara ataukah menerimanya.


selagi Mayang diam saja, tiba-tiba Joni sudah berdiri di ambang pintu rumah Mayang.


"Arya-Kiara, kok kalian bisa ada di sini? Mayang, aku turut berdukacita ya. Kenapa kamu nggak menelpon aku, supaya aku bisa membantu mengurus pemakaman ibumu, Mayang."


"Maaf, Mas Joni. Aku nggak sempsy, pikiranku nggak karuan," ucap Mayang singkat.


Pandangan Joni beralih ke arah Arya dan Kiara," kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku, bagaimana kalian bisa ada di sini?"


"Ceritanya panjang jika diceritakan tidak cukup untuk satu hari. Kebetulan kami tidak sengaja bertemu Mayang di alun-alun pada saat dia berdagang perabot rumah tangga."


Sejenak Kiara menceritakan bagaimana dirinya bertemu dengan Mayang. Ia hanya mengambil cerita intinya saja supaya tidak terlalu lama menjelaskannya kepada Joni.

__ADS_1


__ADS_2