Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Suatu Permintaan Maaf


__ADS_3

Hingga pada akhirnya, Mamah Nindy tetap saja pergi. Dengan alasan ia sudah mengurus semuanya.


"Bima, Mamah harus pergi ya? karena sudah terlanjur bayar dan mengurus visa. Sayang juga kan, jika tidak jadi pergi. Uang akan terbuang sia-sia."


Bima pun pada akhirnya membiarkan Mamah Nindy pergi begitu saja. Karena Mamah Nindy juga menunjukkan bukti Visa serta surat yang diperlukan untuk pergi ke negara Jepang telah ada ditangan.


"Ya Allah bagaimana caraku untuk bisa merubah sifat mamahku yang terus saja foya-foya, padahal kondisi kami sedang tidak memungkinkan seperti ini," gumamnya.


Seperginya Mamah Nindy, Bima melanjutkan niatnya mencari pekerjaan karena ia tidak ingin berlama-lama menganggur. Setiap perusahaan ia jelajahi kembali dengan harapan ia akan mendapatkan pekerjaan yang layak.


Tetapi hampir semua perusahaan hanya menawarkan kedudukan sebagai seorang staf biasa. Bima lagi-lagi gengsi, karena ia mantan bos. Masa iya turun menjadi seorang karyawan biasa.


Tetapi sejenak ia juga berpikir lagi, jika ia terus saja memilih pekerjaan, yang ada nantinya tak akan mendapatkan pekerjaan yang layak.


"Untuk sementara way aku terima saja dech, dari pada aku nganggur tak punya kerjaan sedangkan tabungan juga sudah menipis. Untuk batu loncatan, siapa tahu saja suatu saat nanti ada pekerjaan yang lebih baik."


Hingga pada akhirnya Bima menerima pekerjaan sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan yang lumayan besar. Ia kini mengesampingkan rasa gengsinya, dari pada nganggur.


*******


Beberapa hari kemudian...


Mamah Nindy sudah pulang dari bepergian ke negara Jepang. Tetapi ia merasa aneh karena di pelataran kontrakan tidak ada mobil justru yang ada sebuah motor matic.


"Bima, mana mobilmu? kok mamah nggak lihat, dan itu motor siapa?" tanya Mamah Nindy menyelidik.

__ADS_1


"Mobil sudah aku jual, dan gantinya ya itu motor," ucap singkat Bima.


"Apa? kenapa kamu jual mobilnya,m lantas jika kita pergi-pergi naik apa?" tanya Mamah Nindy, ia lupa jika Bima telah membeli motor matic.


"Astaga... Mamah! apa nggak melihat aku sudah membeli motor, itu lumayan bisa untuk transportasi dari pada pesan tadi dan lain sebagainya."


Mamah Nindy mengerucutkan bibirnya," motor, masa iya mamah naik motor? nggak mau! seharusnya kamu mengatakan dahulu jika ingin menjual mobilnya, jangan semaumu sendiri seperti itu!"


"Aku melakukan semua ini juga karena Mamah. Memangnya Mamah bicara dulu padaku saat akan pergi ke negara Jepang? mamah itu memutuskan apa-apa sendiri bukan?" ucap Bima mulai terbakar emosi.


"Lah Mamah, kan pergi pakai uang sendiri bukan minta sama kamu!" celotehnya membuat amarah Bima semakin memuncak.


"Aku juga jual mobil sendiri, bukan mobil mamah. Kalau mamah masih bersikap loe gue seperti ini, ya sudah mamah sebaiknya hidup sendirian saja. Kita hidup masing-masing saja. Aku malah ringan, nggak terbebani! mamah nggak tahu diri, apa nggak mikir kondisi keuangan kira sedang susah tetapi semaunya sendiri!"


"Jika mamah nggak pergi ke negara Jepang, uang kan bisa di gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Dan mobil tak perlu di jual! masa iya mau enaknya sendiri, nggak mau kerja sama dengan anak? seharusnya mamah iba melihat aku seperti ini, semua kejadian ini juga karena ulah mamah!"


Sejenak pikirannya traveling memikirkan tentang, Kiara dan baby-nya.


"Kenapa tiba-tiba di otakku terlintas wajah Kiara? apakah memang bayi itu anak kandungku, tetapi memang pada saat itu di tes DNA hasilnya memang positif anakku. Tetapi aku tidak mengakuinya. Apakah karena aku telah berbuat seperti ini pada Kiara dan bayinya? hingga pada akhirnya nasibku sekarang seperti ini?"


"Ya Allah, kenapa aku teringat terus pada Kiara. Apakah memang aku harus meminta maaf kepadanya ya? sepertinya memang aku harus meminta maaf padanya."


Bima pun beranjak bangkit dari pembaringan. Ia pun segera melangkah keluar dari kamar dan melaksanakan niatnya untuk pergi ke rumah Kiara saat itu juga. Mamah Nindy yang sedari tadi duduk di ruang tamu terus saja menatap ke arah Bima. Ia pun lekas mengejar langkah kaki Bima menuju ke pelataran rumah.


"Bima, kamu mau ke mana? kok buru-buru sekali?" tanyanya tetapi Bima tak menjawab, ia hanya melirik sinis ke arah Mamahnya.

__ADS_1


"Astaga, di tanya bukannya menjawab malah diam saja. Aneh banget, semakin hari semakin berani saja pada orang tua," gumamnya kesal.


Bima memang sengaja tak mengatakan kemana ia akan pergi, karena ia tahu jika Mamahnya tahu ia akan ke rumah Kiara. Pasti akan melarang Bima.


Bima melajukan motor maticnya ke rumah Kiara dengan kecepatan sedang. Hingga beberapa menit saja telah sampai di pelataran rumah Kiara. Kebetulan sekali, Kiara sedang bersantai di teras halaman bermain dengan, Baby Alvaro dan ibunya.


Kiara dan ibunya merasa heran pada saat melihat kedatangan, Bima.


"Bu, ada apa ia datang kemari setelah apa yang ia lakukan pada kita?" tanya Kiara lirih seraya menatap ke arah Bima.


"Entahlah, Ibu juga tidak tahu. Sudah kamu nggak usah khawatir, duduk saja yang tenang bersama Alvaro. Biar ibu yang menghadapinya, jika ia macam-macam akan Ibu hajar!"


Ibu Darti menghampiri Bima untuk menanyakan apa maksud kedatangannya," untuk apa kamu datang kemari, apa ingin membuat masalah lagi? apa masih kurang kamu menyakiti Kiara dan anakmu, sehingga kamu ingin menyakitinya lagi?"


"Bu, tolong janganlah berpikir negatif dulu kepadaku. Aku justru datang ke sini untuk meminta maaf pada Kiara dan juga Ibu. Aku mohon izinkan aku untuk sejenak bertemu dengan Kiara," pinta Bima memelas.


"Ninta maaf katamu, tumben kamu sadar hingga ingin minta maaf pada Kiara," ejek Bu Darti tersenyum sinis.


Kiara penasaran dengan apa yang dikatakan oleh ibunya dengan Bima, hingga ia pun memutuskan untuk menghampiri keduanya.


"Ada apa sih, Bu? apa dia kurang ajar lagi ya, biar aku yang hadapi saja."


Kiara menyerahkan baby Alvaro ke gendongan Bu Darti.


Dan Bu Darti segera berlalu pergi membawa Baby Alvaro masuk ke dalam rumah. Sedangkan Kiars berdiri tegak di hadapan, Bima.

__ADS_1


"Kiara, aku datang kemari bukan ingin mencari masalah denganmu. Tetapi aku ingin minta maaf padamu atas apa yang dulu pernah aku lakukan padamu dan anak kita," ucapnya yang membuat Kiara sempat terperangah dan memicingkan alisnya heran.


Kiara sama sekali tidak percaya dengan permintaan maaf Bima.


__ADS_2