
Sejenak Bima menceritakan semuanya kepada Milka tanpa ada rasa sungkan sama sekali. Ia ceritakan bahwa dirinya benar-benar bodoh dan menyesal karena datang terlambat ke rumah sakit.
"Aku sangat menyesal, tetapi penyesalanku ini tidak ada gunanya. Karena anakku sudah tiada dan hal ini yang membuatku selalu di hantui rasa berdosa dan bersalah."
"Aku juga tak bisa mendapatkan pintu maaf dari Kiara karena memang permintaan maafku itu tidak akan mengembalikan Alvaro menjadi hidup lagi."
"Mungkin selamanya aku akan dihantui oleh rasa bersalah dan rasa berdosa, bukan hanya kepada Alvaro tapi terutama kepada Kiara yang telah begitu aku lukai sejak menikah denganku dulu."
Tanpa sadar Bima terus saja menangis tersedu-sedu di hadapan Milka, tanpa ada rasa malu sedikitpun. Karena ia benar-benar telah menyesali segala perbuatannya di masa lalu. Tetapi nasi sudah menjadi bubur dan tak akan lagi kembali bisa menjadi sebuah nasi. Penyesalan hanyalah tinggal penyesalan yang tak berujung sama sekali karena penyesalan yang saat ini Bima rasakan tidak ada gunanya.
Milka yang melihat kesedihan yang saat ini sedang dirasakan oleh Bima, ia pun merasa iba.
"Aku melihat Mas Bima benar-benar telah menyadari akan segala kesalahannya di masa lalu. Jika memang dia hanya bersandiwara, tidak akan mungkin dia menangis sampai tersedu-sedu seperti itu," batin Milka.
"Sudahlah Mas Bima, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Kini saatnya kamu menata kehidupanmu untuk masa depanmu. Jika Allah berkehendak, pasti suatu saat nanti Kiara akan memberikan pintu maaf padamu. Yakinlah dan percaya saja suatu saat nanti keinginanmu untuk mendapatkan maaf dari Kiara akan terwujud."
Milka terus saja mencoba memberikan penghiburan kepada Bima, yang saat ini benar-benar sedang merasakan kesedihan yang mendalam mengingat segala kesalahan dan dosanya di masa lalunya.
"Terima kasih ya Milka, kamu telah begitu baik padaku. Awalnya aku pikir jika kamu mengetahui aku bekerja di kantormu ini, aku akan dipecat olehmu. Makanya aku sempat ketakutan pada saat pertama kali melihatmu ada di kantor ini." Ucap Bima seraya mengusap air matanya dengan tisu yang di berikan oleh Milka.
"Aku bukanlah tipe orang yang pendendam, Mas Bima. Walaupun dulu kita pernah bersama dan kamu telah mengecewakanku dengan kebohonganmu bukan berarti aku dendam padamu."
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak akan memecatmu dari kantor ini. Bekerjalah dengan baik, dan aku akan melihat kinerjamu di kantorku. Jika memang kinerjamu baik, aku pasti akan memberikan kedudukan yang lebih layak untukmu, mas."
"Aku juga sama sekali tidak mengetahui jika dirimu bekerja di kantorku ini, mas. Aku minta maaf karena baru tahu hari ini."
"Karena aku terlalu sibuk mengurus dua perusahaan sekaligus. Perusahaan ini juga perusahaan yang waktu itu aku bertemu denganmu."
"Hingga aku tidak begitu teliti setiap asisten pribadiku menerima karyawan baru, aku tidak pernah mengecek sendiri. Aku selalu percaya saja."
Mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Milka panjang lebar membuat hati Bima sedikit lega," terima kasih ya Milka, walaupun aku telah menyakitimu dengan segala kebohonganku, tapi kamu masih saja mau mempertahankan aku di perusahaanmu ini. Aku janji kepadamu, akan bekerja dengan sebaik-baiknya dan tidak akan mengecewakanmu. Aku minta maaf padamu untuk segala kesalahan dan dosaku di masa lalu."
"Mas Bima, bukankah tadi aku katakan padamu masa lalu biarlah berlalu. Tak usah diungkit kembali, hanya akan membuka luka lama saja. Tataplah ke depan karena aku juga telah memaafkanmu, tidak ada benci sedikitpun di hatiku," ucap Milka.
Di dalam hati Bima ada sedikit rasa penyesalan, kenapa dulu telah membohongi Milka tentang masa lalu dirinya dengan Kiara. Tetapi itu sudah berlalu, dan kini status mereka benar-benar sudah berbeda. Bima kini telah menjadi karyawan dari Milka.
Sejenak mereka bercengkrama tentang perusahaan Milka yang dulu badan yang sekarang. Dan bahkan Bima sempat bertanya apakah Milka sudah menikah atau masih sendiri.
"Milka apakah saat ini kamu sudah memiliki seorang kekasih atau sudah menikah? mohon maaf jangan salah paham jika aku menanyakan tentang hal pribadi."
Bima tersenyum malu seraya menangkupkan kedua tangannya di dada. Sebenarnya ia ragu untuk menanyakan hal itu tetapi di dalam hati nya penuh dengan rasa ingin tahu.
Sejenak Milka terkekeh pada saat melihat raut wajah Bima yang terlihat sangat panik," Mas Bima, biasa saja kali. Aku tidak akan marah, untuk saat ini aku masih sendiri dan belum ada niat untuk dekat atau berpacaran dengan seorang pria. Walaupun ada sih beberapa yang mencoba pendekatan padaku."
__ADS_1
Bima hanya ber hooh ria. Tala mengatakan hal lain. Dan ia pun meminta izin untuk kembali ke ruang kerjanya karena tak enak dengan para karyawan yang lain jika terlalu lama ngobrol dengan Milka. Ia juga tak ingin membuat marah direktur di kantor itu.
Milka mengizinkan Bima untuk kembali ke ruangannya. Dan ia juga melanjutkan pekerjaannya kembali.
*******
Sejak saat itu Bima menjadi lebih semangat lagi dalam bekerja. Karena dia benar-benar ingin membuktikan pada Milka, jika ia sanggup bekerja dengan baik. Apa lagi dia adalah mantan direktur utama di perusahaannya dulu.
Bima sudah tidak putus asa lagi, justru ia kini benar-benar bisa menata hidupnya lebih baik lagi. Dulu kala dia tak pernah ibadah. Sekarang dia justru tak pernah meninggalkan ibadahnya.
Perubahan positif yang terjadi pada diri Bima juga sempat di lihat oleh Milka. Dimana dia tidak sengaja melihat Bima sedang menunaikan sholat dhuhur di musholla dekat kantor.
"Ya Allah, Mas Bima ternyata memang benar-benar sudah berubah. Aku yakin jika ini bukan cuma sekedar pencintraan semata. Semoga saja kehidupan ke depannya dia semakin lebih baik," batin Milka.
Bahkan saat Milka berada di rumah dia sempat bercerita pada kedua orang tuanya tentang Bima. Justru orang tuanya malah tidak suka mendengarnya.
"Apa? jadi Bima saat ini bekerja di kantormu yang baru? jangan katakan jika kamu punya niat untuk kembali kepadanya," ucap Papahnya ketus.
"Iya, Milka. Mamah juga Ngga akan setuju jika ternyata kamu kembali kepada Bima. Kenapa kamu nggak mencoba membuka hatimu untuk Joni saja. Dia itu lebih baik dari pada, Bima," ucap Mamahnya.
"Mah-pah, aku cerita tentang Mas Bima bukan berarti aku ada niat untuk kembali kepadanya. Aku juga belum punya pikiran untuk menjalin hubungan dengan pria. Makanya aku biasa saja pada, Joni. Aku tak ingin memberikan harapan palsu padanya," ucap Milka.
__ADS_1