Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Selalu Debat


__ADS_3

Sang dokter memicingkan alisnya pada saat mendengar apa yang barusan di katakan oleh Bima. Sementara Mamah Nindy merasa malu.


"Mas Bima, berpikirlsh secara dewasa. Jangan hanya karena permasalahan sepele, apa lagi dengan mamah anda, lantas anda melakukan hal senekat ini."


"Saran saya, bicarakan baik-baik dengan mamah anda. Dan Tante, saya minta maaf bukannya turut campur urusan pribadi. Sebaiknya Tante juga jangan terlalu memojokkan anak Tante, apa lagi di saat kondisinya sakit."


"Silahkan di selesaikan saja permasalahannya. Saya pamit karena masih ada pasien lain yang perlu segera di tangani oleh saya."


Sang dokter tersenyum ramah pada Bima dan Mamah Nindy seraya menangkupkan kedua tangannya di dada. Ia pun lekas melangkah keluar dari ruangan tersebut seraya menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. Di dalam hatinya ia merasa heran dengan sikap ibu dan anak tersebut.


"Hem, ada-ada saja. Masa iya hanya karena permasalahan sepele kok nekad mo bunuh diri. Jalan pikirannya terlalu sempit, dan si ibu juga memang terlihat kurang bersahabat. Ah..kenapa aku kok malah memikirkan permasalahan ibu dan anak itu ya," batin sang dokter.


Sementara Mamah Nindy menghampiri Bima, sedangkan Bima membuang mukanya tak ingin menatap ke arah Mamahnya.


"Bima, kamu itu sungguh keterlaluan sekali! masa iya berkata seperti itu pada, pak dokter? itu sama saja mempermalukan mamah loh, menjatuhkan harkat dan derajat mamdh sebagai seorang ibu," tegur Mamah Nindy kesal.


"Teruslah menyalahkan aku, mah. Supaya aku down lebih parah dan pada akhirnya aku akan benar-benar mengulang untuk bunuh diri!" ancam Bima masih saja pandangan ke arah lain.


"Astaga...Bima! setan mana sih yang telah merasuki dirimu ini? benar juga ya, apa yang dikatakan oleh Pak dokter barusan jika kamu ini memang belum bisa bersikap dewasa padahal umurmu ini sudah hampir berkepala empat loh,' ejek Mamah Nindy.

__ADS_1


"Aku memang tak pernah bisa bersikap dewasa, karena segala sesuatu yang aku lakukan itu di atur mamah. Justru mamahlah yang telah membuat aku selalu berpikir seperti anak-anak saja. Apa pernah mamah membiarkan aku hidup dengan caraku sendiri? bahkan dua kali rumah tanggaku gagal itu juga karena mamah kan? jika mamah tidak terlalu mencampuri urusan pribadiku, takkan mungkin aku gagal dalam berumah tangga hingga dua kali!"


Mamah Nindy diam saja pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bima panjang lebar. Karena ia menyadari memang selama ingin, ia selalu saja turut campur dalam rumah tangga anaknya. Bahkan ia yang selalu saja mengatur Bima untuk selalu patuh padanya. Dan jika Bima tidak mau menurut, pasti Mamah Nindy mengatakan Bima sudah durhaka padanya.


Bima sejenak menoleh ke arah Mamah Nindy," kenapa diam, mah? sudah nggak ada lagikah kata pembelaan? bukannya selama ini mamah itu selalu menganggap diri mamah benar? selama ini mamah selalu mengatur hidupku seolah aku balita yang baru bisa berjalan. Hingga mamdh selalu saja menuntunku tanpa pernah memberiku kesempatan untuk berjalan sendiri."


"Apa mamah sadar, simap mamah ini yang telah membuatku tumbuh seperti ini. Tergantung selalu pada mamah hingga setua ini. Seharusnya Mamah koreksi diri sendiri, bukan malah terus saja memojokkan diriku atau menyalahkanku!"


Terus saja Bima nyerocos hingga membuat Mamah Nindy naik pitam," cukup ya Bima!"


Bima pun langsung diam, tak berkata lagi. Setelah mendapatkan bentakan dari Mamahnya.


"Astaga...mah! aku pikir diamnya mamah itu karena telah sadar akan semua kesalahan yang telah mamah lakukan padaku selama ini. Malah seperti ini, masih saja merasa diri mamah benar."


"Apa yang mamah lakukan itu bukanlah untuk kebaikanku, mah. Tetapi itu semua untuk kesenangan mamdh semata. Karena Mamah ini gila harta dan kekayaan. Hingga inginnya punya menantu yang dari kasta atas."


"Makanya mamah dulu menghalalkan segala cara dengan merebut suami orang demi harta yang melimpah."


"Tetapi semua itu hanya bersifat sementara kan? sesuatu yang di dapat dengan cara tidak benar dan dengan cara merampas ya hilang begitu saja."

__ADS_1


Bima kembali lagi nyerocos karena ia juga kesal dengan yang barusan di katakan oleh Mamahnya. Kini keduanya sama-sama diam, entah apa yang sedang ada di pikiran ibu dan anak ini.


"Kenapa kok Bima jadi berubah seperti ini ya? apa yang telah membuat Bima berani melawanku sekarang? sedangkan para wanita yang ada di sisinya sudah pergi dari hidupnya, tetapi malah Bima menjadi seperti ini padaku," batin Mamah Nindy kesal.


"Hem, diam tak berkata lagi. Aku nggak tahu apa yang sedang Mamah pikirkan saat ini. Aku hanya berharap mamah itu menyadari akan semua kesalahannya. Dan ia minta maaf pada Kiara dan juga almarhum anakku. Tapi sepertinya itu tidaklah mungkin," batin Bima.


Hingga sore menjelang, keduanya sama sekali tak bertegur sapa. Tetapi kali ini mamah Nindy benar-benar mengurus Bima. Ia tidak cuek seperti pada saat di rumah. Ia bahkan rela menyuapi Bima, walaupun tanpa sepatah kata.


Hingga beberapa hari kemudian, Bima pun sudah dinyatakan sembuh dan ia sudah di izinkan untuk kembali ke rumah. Bima merasa senang karena dirinya memang merasa sudah benar-benar sehat. Di dalam hatinya ia akan merubah segala kelakuan buruknya.


Dia tak akan lagi seperti dulu, diam saja pada saat segala urusan pribadinya di atur oleh Mamahnya.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Pada akhirnya aku sudah sehat seperti sedia kala. Aku mohon ampun ya Allah, karena sempat putus asa hingga aku melakukan pencobaan bunuh diri. Aku akan berusaha berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Aku tak ingin mengecewakan Engkau kembali ya Allah."


"Bimbing dan sertai langkah hidupku agar tidak salah jalan kembali. Dan aku juga bisa benar-benar bersikap dewasa tidak tergantung dengan segala apa yang dikatakan oleh mamah."


"Ya Allah, aku juga berharap Engkau melembutkan hati mamah, supaya ia mau menyadari akan setiap kesalahan dan dosanya di masa lalu."


"Aku ingin sekali melihat mamah itu berubah menjadi seorang ibu yang baik dan juga bijaksana. Ibu yang tak pernah menomorsatukan harta dan derajat serta kedudukan. Karena semua itu fana dan hanya titipan dariMu saja."

__ADS_1


Terus saja Bima berdoa setelah menunaikan sholatnya. Kini ia benar-benar ingin berubah menjadi lebih baik. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah.


__ADS_2