
Kiara mematuhi kemauan ibunya. Ia akan menyudahi permainannya itu. Walaupun di dalam hatinya belum ikhlas, karena ia sedang menikmati permainan itu.
Hingga pagi menjelang, pada saat ia sudah berada di kantor. Ia pun memberanikan diri menemui Arya di ruangannya. Kebetulan pintunya ruangan juga sedang terbuka.
"Tok tok tok tok"
Kiara mengetuk pintu ruang kerja Arya yang sedang terbuka karena ada salah satu karyawan sedang menghadap.
"Kembalilah ke ruanganmu, kerjakan seperti yang barusan aku perintahkan ya?" pinta Arya pada karyawan tesebut.
Karyawan tersebut mematuhi apa yang di perintahkan oleh, Arya. Ia segera berlalu pergi dari ruang kerja Arya.
Kini tinggal Kiara masuk duduk di hadapan Arya sembari menahan ingin tertawa melihat penampilan Arya.
"Kalau ingin tertawa, ya tertawa saja tak usah kamu tahan seperti itu," ucap Arya sewot.
"Hem, marah nech ye," goda Kiara terkekeh.
"Kamu puas kan membuat aku di tertawakan oleh banyak orang? bahkan oleh keluargaku sendiri, aku sempat di kira gila atau putus cinta," ucap Arya manyun.
"Hem .. jadi selama beberapa hari ini Mas Arya tak ikhlas melakukan hal ini?" tanya Kiara.
Arya pun mengatakan jika dirinya sangat ikhlas melakukan itu semua demi membuktikan jika dirinya benar-benar cinta pada Kiara. Ia sama sekali tak merasa terpaksa melakukan hal itu.
"Mas, aku minta maaf ya? sudah keterlaluan padamu dengan memberikan tantangan seperti ini. Aku ingin kamu menyudahi saja permainan ini, mas," ucap Kiara.
"Apa gara-gara ucapanku tadi ya? jadi kamu tersinggung dan mengatakan hal ini?"
"Bukan, mas. Aku sudah berniat dari rumah kok, bukan karena mas berkata seperti tadi," ucap Kiara meyakinkan Arya.
__ADS_1
Arya begitu sumringah nendengar apa yang dikatakan oleh Kiara, ia mengira jika dirinya sudah berhasil dan Kiara sudah menerima cintanya.
"Asikkk.... berarti kamu sudah bisa terima cintaku kan?"
Mendengar aka yang di katakan oleh Arya, Kiara memicingkan alisnya," siapa bilang mas? aku melakukan ini karena perintah ibu, dan aku bukannya belum mengatakan jika aku sudah terima cintamu? cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan, mas," ucap Kiara membuat Arya manyun.
Sejenak Kiara bercerita tentang dirinya yang sempat kepergok oleh ibunya sedang tertawa sendiri, hingga ia pun cerita tentang semuanya pada ibunya. Tentang sebuah tantangan bagi, Arya. Ia hanya berhooh ria pada saat mendengar cerita dari, Kiara. Di dalam hatinya sedih, karena belum juga mendapatkan cinta, Kiara.
"Kiara, mau sampai kapan aku harus menunggu dirimu untuk mengatakan iya?" tanya Arya murung.
"Sabar ya mas, karena aku harus benar-benar menata hati dan pikiranku kembali dari awal, dari nol. Semua ini tidaklah mudah bagi diriku yang pernah alami kepahitan hidup di dalam berumah tangga."
"Pasrah saja sama Allah, jika memang kita jodoh pasti tidak akan kemana. Walaupun kita misalnya berjauhan pasti akan bertemu juga."
Arya hanya tersenyum kecut pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kiara. Ia sama sekali tidak bisa berkata lagi. Kecewa iya, tapi bukan berarti ia akan mundur begitu saja. Ia justru semakin tertantang untuk mendapatkan cinta Kiara.
Selagi mereka asyik bercengkerama, tiba-tiba datang seorang wanita cantik berpenampilan aduhai datang menghampiri Arya.
Dia sama sekali tidak punya rasa malu, dengan sengaja duduk di lengan kursinl yang saat ini sedang ada Arya.
"Heh, sopan sedikit kamu ya? masuk nggak ketuk pintu, main nyelonong saja!" umpat Arya kesal, tetapi tidak dengan wanita ini yang terus saja tersenyum pada Arya.
Sejenak wanita ini menatap tak suka pada Kiara," heh, kenapa kamu masih duduk di sini? apa kamu ingin melihat kami bermesraan?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, Arya pun kesal dan ia bangkit dari duduknya hingga hampir saja membuat sang wanita jatuh.
"Seharusnya kamu yang pergi dari ruanganku, bukan dia. Untuk apa sih, kamu datang kemari, hah? setelah apa yang kamu lakukan padaku?" bentak Arya kesal.
Kiara memicingkan alisnya, melihat pertengkaran antara Arya dengan wanita yang baru ia lihat dan temui. Ia sama sekali tak tahu siapa wanita itu, karena selama ia kerja tidak pernah melihat kedatangan wanita itu di kantor Arya.
__ADS_1
"Apakah ia ...ah sudahlah, sebaiknya aku keluar saja dari ruangan ini. Untuk apa pula aku melihat pertengkaran mereka," batin Kiara.
Namun pada saat Kiara akan melangkah pergi dari ruangan tersebut, justru Arya meraih lengannya dan tiba-tiba menari menarik tubuh Kiara, hingga kini ada di pelukan Arya. Tangan Arya dengan sigap berganti posisi memeluk pinggang Kiara, hingga Kiara tak bisa melepaskan dirinya.
"Apa-apaan ini, Arya?" tegur wanita biru tak suka dengan apa yang di lakukan Arya pada Kiara.
"Dia wanitaku, jadi aku bebas melakukan apa pun. Kamu sudah tahu kan, aku sudah punya calon istri, jadi jangan ganggu aku lagi! pergilah dengan pacar-pacarmu itu!" usir Arya lada wanita itu.
"Arya, aku tidak akan tinggal diam! tidak ada satu wanita pun yang berhak bersanding denganmu, apa lagi dia! heh kamu, awas saja ya! aku akan selalu mengawasi dirimu dan bahkan akan aku buat perhitungan dengan dirimu!" ancam wanita itu melotot ke arah Kiara.
Setelah itu ia pergi begitu saja dari ruang kerja, Arya. Barulah Arya melepaskan pelukannya pada Kiara.
"Mas, siapa wanita tadi? pacar atau istri atau calon....
"Mantan pacar, Kiara," jawab Arya memotong perkataan Kiara.
Arya pun menceritakan kisah masa lalunya pada Kiara. Dimana beberapa tahun yang lalu, ia pernah merajut kasih dengan seorang wanita. Ia bahkan sudah sepakat dengan wanita itu, akan melangkah ke jenjang pernikahan.
Tetapi pada saat Arya tak sengaja datang ke apartement dirinya untuk memberikan surprise, ia justru terkejut sendiri. Dengan mata kepala sendiri, ia melihat pacarnya melakukan hubungan intim dengan pria lain.
Padahal selama ia menjalin kasih dengannya, ia sama sekali tidak berani menyentuhnya sebelum ia benar-benar menjadikannya istri sahnya.
Sejak kejadian itu, Arya pun menjauh darinya. Tetapi wanita itu sempat meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi.
Karena rasa cintanya yang sangat besar pada wanita itu, Arya pun memberinya kesempatan satu kali lagi untuknya.
Tetapi kesempatan yang Arya berikan tidak di indahkan, hingga kedua kalinya Arya memergoki wanitanya dengan pria yang lain lagi. Kali ini di kantor si wanita.
Aeya sudah tak bisa membendung brada amarahnya dan saat itu juga ia benar-benar memutuskan wanita itu.
__ADS_1