Suamiku Boneka Ibunya

Suamiku Boneka Ibunya
Bersikap Dingin


__ADS_3

Bima terus saja merutuki dirinya sendiri. Di dalam kamarnya, ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Ia teringat selalu dan terngiang selalu apa yang pernah di katakan oleh, Arya.


Air mata tiba-tiba menetes pada saat ia mengingat Ayah Darwo membopong tubuh mungil yang di tutupi oleh kain kafan.


"Astaghfirullah aladzim, kenapa aku bisa sejahat ini pada anak kandungku sendiri? aku menolaknya sejak ada di dalam perut Kiara, hingga pada saat kritis pun di saat anakku butuh pertolongan dariku, aku juga tak menolong," gumamnya seraya tangannya meremas sprei kasurnya.


Kini Bima benar-benar sedang menyesali apa yang telah ia lakukan dulu pada almarhum Alvaro. Tetapi semuanya sudah terlanjur dan tak mungkin bisa kembali lagi seperti dulu kala. Waktu tidak bisa di ulang lagi. Bima hanya bisa meratapi semuanya di dalam tangisnya, tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.


Tanpa terasa mata Bima mulai terpejam begitu saja. Ia terlelap dalam tidur nyenyaknya. Bahkan di dalam tidur, ia bermimpi bertemu dengan almarhum Alvaro. Dimana si baby mungil yang telah di makamkan itu menatap sinis dan penuh kemarahan ke arah Bima.


"Nak, ini papah. Ayok ikut papah," pinta Bima di dalam akan bawah sadarnya.


Tetapi si anak malah semakin melotot ke arahnya. Dan bahkan tidak mau di gendong olehnya. Dengan tiba-tiba menggigit bahu Bima, yang membuat Bima tersentak kaget dan ia pun terbangun dari tidurnya.


"Astaghfirullah aladzim, anakku menolakku seperti apa yang pernah aku lakukan. Aku juga menolaknya dahulu. Ya Allah, apakah di alam sana anakku benar-benar marah padaku dan menolakku?" batin Bima seraya sesekali mengusap wajahnya dengan kasar.


Dia pun menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari. Dan ia merasa perutnya lapar, hingga ia pun akhirnya bangkit dari ranjang dan melangkah ke dapur.


Tetapi pada saat ia berada di dapur, ia sama sekali tidak menemukan sesuatu yang bisa ia makan.


"Astagaa.. tidak ada mie instan atau telor atau makanan ringan. Dan di dalam tudung saji sama sekali tidak ada makanan. Kebiasaan mamah, nggak pernah mau memasak sendiri. Boros setiap hari harus membeli makanan on line."


"Jika seperti ini, aku harus menahan rasa laparku. Karena nggak mungkin di tengah seperti ini aku pesan makanan secara on line. Puasa hingga pagi menjelang."


Akhirnya Bima pun meminum beberapa gelas air putih untuk menahan rasa laparnya hingga pagi hari. Bima melangkah lemas ke arah kamarnya lagi. Dan ia mencoba memejamkan matanya kembali, tetapi ia tidak bisa tertidur lagi. Karena rasa lapar yang terus mendera, walaupun sudah ia tahan dengan mengkonsumsi beberapa gelas air putih. Tetapi hanya beberapa detik saja rasa lapar itu hilang. Dan kini ia merasakan lapar kembali.

__ADS_1


Sampai pagi, Bima pun tak bisa tidur karena menahan rasa lapar. Pagi itu juga, ia pun lekas keluar dari kamar untuk segera mencari sarapan. Tetapi pada saat dirinya akan melangkah ke pelataran, langkanya terhenti oleh panggilan Mamah Nindy.


"Bima, pagi sekali kamu mau kemana?" tegur Mamah Nindy, tetapi Bima sama sekali tak mengatakan apa pun. Ia hanya melirik sinis pada Mamahnya, dan tetap melangkah ke pelataran.


"Bima, mamah sedang bicara padamu! kenapa kamu seperti ini? durhaka tahu nggak!" bentak Mamah Nindy mengejar Bima.


Namun Bima sama sekali tak menghiraukan apa yang di katakan oleh Mamah Nindy. Ia justru lekas melajukan motornya dengan cepat meninggalkan rumah kontrakan tersebut.


"Astaga...kenapa Bima menjadi aneh sepulang dari makam bayinya Kiara ya? sama sekali tak menghiraukan aku sebagai mamahnya sendiri."


"Ini tidak bisa di biarkan, aku akan datangi lagi rumah Kiara! dan aku ingin meminta pertanggung jawaban dari sikap Bima yang berubah drastis!"


Mamah Nindy masuk kembali ke dalam rumah kontrakan tersebut seraya terus saja menggerutu sendiri. Ia begitu kesal dengan sikap Bima yang berubah menjadi diam dan dingin padanya. Ia sama sekali tak terima, dan menyalahkan Kiara atas apa yang telah menimpa pada diri Bima.


Sementara Bima saat ini telah menyusuri. jalan setapak dengan motor maticnya. Dan tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang tak asing lagi bagi dirinya.


Bima lekas mendekati Meymey dengan pria yang sedang bersama dirinya.


Tttttttttiiiiinnnnnnn...........!!!!!


Bima membunyikan klakson motornya hingga Meymey dan pria yang sedang bersamanya terlonjak kaget.


"Mas Bima?"


batin Meymey kaget seraya celingukan malu.

__ADS_1


"Mey, kalau ingin melakukan hal seperti itu seharusnya tak usah di tempat umum. Di pinggir jalan seperti ini, sungguh memalukan kalian berdua!" tegur Bima.


"Heh, ini terserah kami donk. Kenapa situ yang repot!"


Si pria nyolot dan ia pun berkacak pinggang seraya matanya melotot.


"Mas, sebaiknya kita pergi saja dari sini," ajak Meymey pada pria tersebut seraya mengguncang lengannya.


"Nggak, sayang. Sebelum aku menyelesaikan permasalahan ini dengannya, aku tidak akan pergi begitu saja!" pria ini sudah tak bisa lagi menahan amarahnya yang menggebu-gebu.


Meymey semakin panik, karena khawatir akan terjadi hal yang tak di inginkan. Ia terus saja membujuk pria yang sedang bersamanya, tetapi tak berhasil juga.


"Mas, aku tak ingin mengajak keributan. Aku hanya mengingatkan saja, apa yang kalian lakukan ini sungguh tak lazim. Coba jika yang melihat ini orang lain atau orang banyak. Pasti kalian bisa kena kasus loh. Apa lagi wanita yang bersama denganmu itu belum melewati masa Iddahnya," ucap Bima ketus.


"Astaga...ini yang aku takutkan. Mas Bima akan membongkar masa laluku di depannya," batin Meymey kesal.


"Masa Iddah, kalau bicara itu jangan sembarangan ya? kekasihku ingin masih lajang, belum pernah menikah! iya kan sayang," ucap sang pria seraya melirik ke arah Meymey.


"Astagaa....Meymey! kamu telah berbohong padanya? apa kamu tak takut jika kebohongan dirimu ini lambat laun akan ketahuan?"


Pria yang ada di samping Meymey memicingkan alisnya pada saat mendengar Bima menyebut nama, Meymey.


"Heh, dari mana kamu tahu nama kekasihku ini?" tanyanya penasaran.


"Jelas aku tahu karena Meymey adalah mantan istriku yang kabur dulu.pada saat tahu aku sudah miskin. Sudah ya, aku tak bisa berlama-lama karena masih ada urusan."

__ADS_1


Saat itu juga Bima menyalakan mesin motornya, dan melajukannya untuk mencari sarapan. Di dalam hatinya terus saja menggerutu setelah bertemu dengan Meymey.


Sementara pacar Meymey sedang marah-marah padanya. Dan terus saja bertanya tentang masa lalu, Meymey. Hingga pada akhirnya Meymey mengakui apa yang barusan di katakan oleh Bima pada pria itu.


__ADS_2