
Beberapa hari kemudian...
Raras sudah tidak mengganggu Arya lagi. Bahkan sejak kejadian itu, Raka datang ke rumah untuk meminta maaf secara pribadi pada Arya atas apa yang telah di lakukan oleh, Raras.
Tetapi hal ini tak membuat hati Arya tenang. Karena sejak kejadian waktu itu, dimana Raras datang ke kantor. Membuat Kiara kini bersikap dingin pada, Arya. Bahkan setiap kali Arya datang ke rumah, Kiara selalu saja menghindar.
Di kantor pun seperti itu, Kiara tak bertegur sapa dengan Arya. Bahkan ia memanggil Arya secara formal lagi.
"Kiara, kenapa kamu seolah menjauh dariku? aku kan sudah jelaskan padamu tentang Raras. Aku sama sekali tidak ada hubungan dengannya lagi, hanya ia yang terus saja mengejarku. Apa perlu aku ajak kamu ke rumah Raras, untuk membuktikan bahwa aku tak ada hubungan dengannya?"
Kiara diam saja, ia pura-pura tak mendengar apa yang barusan di katakan oleh, Arya. Ia hanya diam dan fokus mengerjakan tugas kantornya yang berserakan di meja.
"Kiara, aku mohon. Berhentilsh sejenak, dan dengarkan apa yang aku katakan ini. Please, Kiara."
Arya pun meraih paksa kedua tangan Kiara di dalam genggaman tangannya. Ia benar-benar tak mau jika Kiara terus saja bersikap dingin dan semakin menjauhi dirinya, karena ia sudah benar-benar cinta dan sayang pada, Kiara.
"Tuan Arya yang terhormat, apa anda tidak melihat jika aku sedang sibuk dan banyak kerjaan? nanti jika semua tugas ini tidak terselesaikan hari ini juga, aku yang di salahkan oleh, anda."
Kiara menarik kedua tangannya secara paksa yang saat ini di genggam oleh, Arya. Dan ia pun melanjutkan lagi mengerjakan tugas kantornya, thanks memperdulikan adanya, Arya.
Hingga pada akhirnya Arya berlalu pergi dari ruang kerja, Kiara. Ia pun sejenak menyerah dalam membujuknya. Ia mencari cara lagi supaya dirinya kali ini tidak mendapatkan perlakuan dingin lagi oleh, Kiara.
__ADS_1
Di dalam ruang kerjanya, Arya pun murung. Ia duduk dengan berpangku tangan. Pikirannya terus saja melayang, memikirkan cara yang tepat untuk bisa membuat Kiara kembali seperti dulu lagi.
"Astaga...Kiara.. bagaimana caraku untuk meyakinkan padamu jika aku dan Rara hanya sepenggal masa lalu. Lagi pula aku juga sama sekali tidak tahu menahu jika Raras akan datang ke kantor secara tiba-tiba. Kita bahkan sudah lama hilang kontak, itupun aku yang menjauh darinya."
Arya hanya bisa menghela napas panjang, ia tak bisa lagi berpikir jernih. Ia bingung harus berbuat apa, otaknya serasa buntu tak menemukan jalan yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi karena ulah, Raras.
"Apa aku minta tolong pada, Om Raka saja ya? supaya ia menjelaskan pada Kiara jika aku dan Raras memang sudah lama putus," batinnya.
Tetapi rencana itu di tepisnya, ia gengsi jika harus minta tolong pada papah mantan pacarnya. Ia tak ingin nantinya Raka beranggapan dirinya terlalu bodoh hingga tak bisa menyelesaikan permasalahan sepele. Dan ia juga tak ingin privasinya di ketahui oleh orang lain.
Arya terus saja gelisah hingga di rumah pun, dia tak enak makan dan tak rndk tidur serta tidak ceria seperti biasanya.
"Arya, kenapa akhir-akhir ini kamu makan sedikit?" tanya Mamahnya.
"Iya, mah-pah. Memang permasalahan dengan Raras sudah clear. Tetapi saat ini Kiara malah semakin menjauh dariku, sejak ia melihat kedatangan Raras yang tiba-tiba duduk dekat di kursi kerjaku. Sudah aku jelaskan padanya, tetapi Kiara seolah tak mengerti."
Papah tersenyum," Arya, itu tandanya Kiara memang ada rasa cinta padamu hingga dia diam dan dingin serta berusaha menjauhi dirimu. Jika diq tak ada rasa cinta sedikitpun, sikap dia akan biasa saja padamu."
"Masa sih, pah? tapi bagaimana caranya supaya Kiara bersikap manis lagi padaku? aku tuh tersiksa, pah. Biasa ia suka bercanda ria, menggodaku dengan tingkat keusilannya. Kini sama sekali tak pernah berkata apapun padaku."
Arya terus saja bercerita panjang lebar tentang Kiara tanpa ada rasa malu atau pun sungkan terhadap orang tuanya. Ia lakukan hal itu karena sudah tak bisa memendamnya seorang diri. Ada rasa kelegaan setelah bercerita pada orang tuanya. Bahkan orang tuanya bersedia untuk membantunya menjelaskan pada, Kiara.
__ADS_1
"Nggak usah, Pah-Mah. Nanti yang ada Kiara semakin jutek padaku. Di kira aku ini tukang ngadu dan bersikap ke kanak-kanakan. Aku hanya ingin cerita saja pada papah dan mamah, bukan ingin meminta bantuan untuk menjelaskan pada, Kiara," ucap Arya dengan sangat yakinnya.
Orang tuanya hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Mereka pun tak memaksakan kehendak pada anaknya. Mereka juga tidak melarang Arya berhubungan dengan Kiara. Yang terpenting wanita itu benar-benar wanita yang baik dan punya etika serta sopan santun.
Mereka tidak memandang jika Kiara hanyalah seorang janda beranak satu, anak dari orang tua yang tak punya harta benda yang bisa di banggakan. Ibarat status kasta keduanya sangat jauh berbeda bagai langit dan bumi.
Sementara saat ini Kiara juga sedang gelisah, melamun sendiri di dalam kamarnya. Ia juga sedang memikirkan sikapnya pada Arya.
"Seharusnya aku tak usah berbuat seperti ini pada, Mas Arya. Kesannya aku menyalahkan dirinya dan....ohh tidak! apakah aku memang telah jatuh cinta padanya, tetapi aku tak menyadarinya? hingga aku begitu kesal pada saat melihat wanita lain dekat dirinya. Bahkan ia adalah mantan pacarnya."
"Sepertinya diam-diam aku telah jatuh cinta padanya. Hingga aku emosi dan selalu kesal jika ingat pada saat itu."
"Lantas apa yang harus aku lakukan? apakah aku harus menghukum Mas Arya lebih lama lagi? sedangkan aku melihat di matanya ada ketulusan."
Selagi Kiara terus saja melamun, merenung tentang apa yang sedang terjadi. Bu Darti masuk ke dalam kamarnya, dan mengajaknya berbicara sejenak.
"Kiara, ibu ingin bicara sebentar denganmu. Bisa kan?" Bu Darti duduk di tepi ranjang.
"Katakan saja, Bu. Apa yang ingin ibu bicarakan, Alvaro sudah tidur kan?"
"Ya, sudah dari tadi. Ibu hanya ingin tahu bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan, Nak Arya? kenapa kamu selalu saja menghindar jika Nak Arya datang kemari? ibu kadang tak tega melihatnya loh," tegur Bu Darti.
__ADS_1
"Hem ..sudah aku duga. Pasti ibu juga akan menanyakan hal ini. Apa lagi sikapku memang sangat berubah pada, Mas Arya. Lantas apa yang harus aku lakukan, apakah aku bercerita sebenarnya atau aku berbohong saja?" batin Kiara.
Dia selama ini memang jarang terbuka pada orang tuanya. Seperti pada saat ia alami permasalahan dengan Bima.