
Setelah kepergian Lusi gala melanjutkan pekerjaannya secepat mungkin, dia ingin pekerjaannya segera rampung supaya bisa mendatangi apartemen kekasihnya.
"Ah sepertinya tinggal sedikit, semua berkas ini harus aku periksa jam tiga ini semua sudah harus selesai. kalau jam tiga aku langsung ke sana, sebelum magrib aku sudah ada di rumah. istriku tidak akan curiga, dan aku sudah puas dengan Lusi. MMM aku gak sabar, sudah lama juga gak bermesraan dengannya."
Tiba tiba pintu di ketuk, membuyarkan lamunan gala. silahkan masuk ujar gala.
pintu terbuka dan betapa terkejutnya gala, ternyata yang membuka pintu adalah istrinya bela dan juga anaknya Angga.
"halo mas, apa lagi sibuk?"
"oh tidak sayang, cuma ada sedikit lagi berkas yang harus aku periksa."
bela mendekatkan Angga sama papanya, gala langsung menyambut anak itu dan menggendongnya. gala bermain main dengan putranya sebentar kemudian hendak memulai pekerjaannya kembali.
"sayang kamu sama mama dulu ya, papa mau melanjutkan pekerjaan dulu. sebentar lagi biyar kita pulang." bela langsung menggendong putranya dan membawa anak itu duduk di sofa.
"bel, tunggu aku menyelesaikan pekerjaanku dulu ya. mau di pesan makanan atau minuman gak?"
"boleh, tapi minuman aja yang penting dingin mas."
"baiklah" gala menelfon Doni untuk membelikan minuman dingin pesanan istrinya.
setelah menelfon asistennya, gala mulai melanjutkan pekerjaannya sambil memikirkan janjinya pada Lusi.
"aduh bagaimana ini, ada bela gak mungkin aku ke tempat Lusi tapi aku sudah janji lagi mau ke apartemen nya. ah sebaiknya aku wa Lusi, tapi apa ya alasanku untuk membatalkan janjiku batin gala."
di sela sela tumpukan berkas gala diam diam mengirim pesan ke Lusi.
"sayang maaf ya, mas gak jadi datang sore ini."
"kenapa mas, kamu sudah janji Lo tadi."
"mama tadi nelfon nyuruh aku cepat pulang, aku gak tau sih ada apa. cuma nyuruh cepat pulang aja."
"kalau begitu gak usah cepat pulang mas, kalau gak di kasi tau berarti gak ada yang penting."
"gak bisa begitu sayang, untuk saat ini sebaiknya aku harus nurut sama mama biyar kita lebih gampang membujuknya."
__ADS_1
"ok, tapi mas gala harus janji besok harus kesini."
"baiklah, mas janji akan ke sana besok setelah makan siang."
"ok, love you."
"love you Lusi cantik."
di apartemen mewah pemberian gala, Lusi merasa kesal dan juga senang. dia kesal sore ini gala gak jadi ke apartemennya, dan dia senang sampai saat ini dia masih bisa menaklukkan pria tajir tapi gampang di bohongi itu.
selama berhubungan dengan gala wanita itu sebenarnya tidak pernah mencintai gala. dia hanya memanfaatkan kecantikannya merayu gala supaya dia mendapat kan kemewahan, meski tak di pungkiri sampai harus memberikan tubuhnya sekalipun.
Doni sudah di depan ruangan gala, seperti biasa dia udah mau nyelonong masuk tapi pria itu ingat kejadian tadi siang. ah sebaiknya aku ketuk dulu, takut ada adegan dewasa lagi kayak tadi siang bisa bisa rusak mataku ini batin Doni.
tok tok.
"masuk."
"ini bos minumannya."
begitu masuk pria lajang itu mendengar suara Angga dari arah sofa, Doni melihat ternyata ada istri dan anak bosnya.
"terimakasih Don, aku memang sudah sangat haus."
gala melirik istri dan juga asistennya yang kelihatan dekat dan juga akrab. pria itu langsung pura pura batuk Doni menyadari kelakuan bosnya segera beralih ke arah meja gala.
"bos apa masih ada yang harus aku kerjakan, mau beli makanan atau cemilan gitu."
"gak usah Don, aku cuma mau minum yang dingin dingin aja ujar bela."
gala langsung melirik istrinya, dan Doni hendak pamit tapi tiba tiba Angga menangis minta di gendong Doni.
melihat Angga menangis Doni langsung menggendong nya, dan anak itu langsung diam setelah ada di pangkuan Doni. melihat itu gala merasa heran kok bisa Doni sedekat itu dengan anakku ya batin gala.
Doni yang sudah hapal betul dengan bosnya, merasa kalau bosnya sedang bertanya padanya.
"ah begini bos, aku memang agak dekat dengan angga itu karena kekasihku Lia sering bertemu dengan ibu bela. di saat mereka berbincang bincang biasalah sahabat, aku akan mengajak Angga main itulah makanya kami sudah akrab."
__ADS_1
"oh begitu."
ada apa dengannya, sepertinya dia agak curiga karena Doni dan Angga dekat. dasar tukang selingkuh, kamu pikir semua orang kayak kamu mas. dan Doni juga di tatap gala begitu kok dia sudah tau apa yang di pikirkan suamiku ya, sebegitu nya yah dia tau pikiran bosnya batin bela.
bela geleng geleng kepala melihat suami dan asistennya itu, wanita itu merasa lucu tapi juga aneh apa mas gala cemburu melihat anaknya dekat dengan doni. ah aku gak bisa membaca pikiran mereka dan akhirnya ibu satu anak itu hanya terus menyedot minumannya sampai tandas dan meletakkannya di atas meja.
"sepertinya Angga sudah ngantuk, sini biyar aku gendong."
Doni memberikan Angga kepada bela, wanita itu menyambut anaknya dan mendekapnya supaya tertidur.
"bos aku keluar dulu, masih ada pekerjaan yang belum selesai aku kerjakan."
"ya sudah, kami juga sebentar lagi mau pulang ini sudah mau selesai kok."
Doni keluar dari ruangan gala, setelah kepergian Doni bela langsung menyusui Angga putranya. setelah menyusu dengan mama nya anak itu memejamkan matanya.
"apa dia tertidur, gala mendatangi istrinya."
"suut, dia sudah tidur mas."
"apa dia masih nyusu, mas sudah selesai sebaiknya kita pulang sudah sore."
"sebentar lagi mas, ini belum di lepasnya. kalau sudah lepas itu tandanya dia sudah kenyang."
"oh begitu ya."
Doni masuk mau mengambil berkas berkas yang sudah di periksa dan di tandatangani gala.
sebaiknya jangan lihat ke sana, anakku lagi minum dari ibunya. awas kalau sampai kamu melihatnya.
"tidak bos, aku gak berani." Doni mengambil berkas itu dan segera pergi.
melihat itu bela merasa lucu, dia tersenyum tidak berani tertawa takut anaknya bangun.
"mas sudah ayo kita pulang."
"sudah di lepasnya? sini biar mas aja yang gendong dia."
__ADS_1
bela menyerahkan anaknya di gendong suaminya, dan mereka pun segera pulang.