
Sekarang Bela sudah mulai bekerja lagi, dia sudah mulai menerima perpisahannya dengan putranya. Karena setiap ada kesempatan sewaktu Gala dan Lusi tidak ada, Rena pasti video call dengannya. Dia juga selalu rutin mengantar asi untuk Angga, tentu saja itu mereka lakukan secara diam diam.
Pagi ini seperti biasa Bela sudah mulai bersiap untuk berangkat bekerja, ibu Laila selalu setia membuat sarapan untuknya.
Diki dan Laila sekarang merasa lega karena putri mereka sudah mulai ceria kembali. Dia sudah bangkit dari keterpurukan, karena jauh dari putranya.
''ibu, ayah Bela berangkat dulu aku takut telat, hari ini ada rapat. Pak Budi orang yang tepat waktu, aku akan malu kalau sampai telat.''
''ya sudah berangkatlah, apa kamu sudah mengantar susu untuk Angga?''
''sudah Bu kemaren.'' Bela pun Salim dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya, kemudian dia berangkat untuk bekerja.
Bela tidak pergi ke kantor di mana biasanya dia bekerja, melainkan dia langsung ke tempat di adakannya rapat. Di sebuah kafe ternama di kota ini, dia pun Masuk keruangan yang sudah di pesan pak Budi sebelumnya.
Bela duduk sendiri karena pak Budi juga belum sampai, tiba tiba pintu di buka Bela menengok ternyata orang yang masuk itu tidak asing baginya.
''Bela?''
''Frey kau kah itu? Jadi kamu rekan bisnis pak Budi?.''
''iya, berarti kamu adalah sekretaris pak Budi.''
''iya, ayo silahkan duduk.''
Mereka pun duduk di hadapan Bela.
''Bel bagaimana kabarmu dan juga Angga?''
''baik baik saja, ya biar pun Gala tidak mengizinkan aku bertemu dengan putraku tapi Rena pengasuhnya selalu mengabari keadaan Angga.''
''oh syukurlah kalau kalian baik baik saja.''
__ADS_1
Pintu pun di buka, ternyata itu adalah pak Budi yang baru saja sampai.
''Maaf ya saya terlambat, jalanan sangat macet''
''gak apa apa pak Budi, kami juga barusan sampai.''
''oh ya perkenalkan ini adalah sekretaris ku yang baru namanya Bela.''
''sebenarnya kami sudah saling kenal pak Budi, dulu semasa SMA kami satu sekolah.''
''oh ya, bagus kalau kalian sudah saling kenal. Pantas Bela tadi nyantai berada di ruangan seperti ini, biasanya dia tidak akan nyaman dengan orang asing.''
''oh...seperti itu ya?'' ujar Frey.
''baiklah apa kita sudah bisa memulai rapatnya?'' ujar pak Budi.
Bela pun mengeluarkan semua berkas berkas yang sudah di siapkan nya, pak Budi dan Bela menunjukkan ide ide yang mereka punya. melihat ide ide yang di sampaikan Bela dan atasannya, baik Frey maupun Iyan merasa puas.
Setelah melakukan diskusi yang cukup lama, akhirnya mereka pun sepakat untuk bekerja sama. Frey menanda tangani surat kerja sama begitu juga dengan pak Budi. selesai rapat pihak kafe juga langsung menyajikan makanan di meja.
Mereka pun makan, Frey terus saja menatap Bela. Sedangkan asistennya memperhatikan atasannya dia merasa kalau bosnya masih menyukai Bela.
''ada apa Bel, kok kamu makannya gak selera? Apa makanannya tidak enak?''
''gak apa apa pak enak kok, cuman tadi aku sudah sarapan di rumah jadi masih kenyang. biasa pak ibu kalau aku belum sarapan dari rumah dia pasti ngoceh, takut perutku sakit lah apalah ya gitulah lbu lbu.''
''gak apa apa Bel, itu tandanya dia sangat menyayangimu.''
''iya aku tau kok, aku ini juga seorang ibu pak jadi aku tau kekhawatiran ibu.''
''bagus makanya aku sangat menyukaimu, kau orang yang pengertian dan juga baik.''
__ADS_1
Mendengar omongan pak Budi Frey salah sangka, dia melihat pak Budi sangat perhatian sama Bela. Dia berpikir kalau pak Budi menaruh hati pada janda anak satu itu, padahal tidak sama sekali. Pak Budi hanya kagum sama bawahannya selain cantik juga baik, biyar pun dia seorang janda tapi dia tidak genit atau kecentilan.
Iyan melihat Frey, dia tau kalau saat ini atasannya sedang cemburu.
''maaf ya pak Budi, Bela aku mungkin akan bertanya sedikit pribadi. Apa kalian ada hubungan spesial selain atasan sama bawahan? Maaf ya jangan tersinggung he...he...''
Mendengar omongan Iyan Frey Marasa terwakili, apa yang mengganjal di hatinya akan segera dia ketahui lewat asistennya.sedangkan Bela sedikit cemberut, tapi dia tau sedikit karakter Iyan yang ceplas ceplos jadi dia cuek aja.
''ha....ha...kau ini, kenapa berpikiran seperti itu. Aku memang menyukai Bela tapi bukan suka karena cinta, aku suka sekretarisku selain kinerjanya bagus dia juga sopan, baik dan selalu disiplin. Dia juga wanita yang tidak aneh aneh, biar dia janda tapi sikap dan tingkah lakunya sangat sopan.''
''tu bos dengerin, mereka gak ada hubungan apa apa makanya gak usah cemburu.''
Mendengar omongan Iyan Bela langsung keselek, Frey langsung memberi Bela air minum. Sedangkan Iyan memukul mukul mulutnya karena keceplosan.
''minum dulu Bel, makannya pelan pelan.''
Bela pun mengambil air minum yang di berikan Frey, wanita itu pun minum dengan perlahan. Sedangkan Frey memelototi asistennya, Iyan yang sedang di pelototi hanya garuk garuk kepala yang tidak gatal.
Pak Budi memperhatikan interaksi ketiga nya, dia dapat menyimpulkan kalau Frey menaruh rasa sama sekretarisnya. Dia juga tidak merasa keberatan, karena dia tau Frey adalah seorang duda sedangkan Bela adalah janda. Suasana menjadi canggung Frey merasa malu dan juga takut Bela jadi membencinya, sedangkan Bela pipinya memerah dia takut atasannya mengira dia sudah merayu rekan kerja mereka.
Untuk mencairkan suasana pak Budi kemudian berbicara.
''ayo ayo makan lagi, jangan ada yang malu malu. Kalau kalian saling suka tidak masalah kok, toh kalian sama sama masih sendiri kan.''
''betul itu pak Budi, bos ku ini sudah lama menduda. Eh belum lama amat sih terus dia gak pernah tu dekat sama cewek, dia ini jomblo berkarat.''
Mendengar omongan sekretarisnya Frey merasa kesel, berhubung karena ada pak Budi dan juga Bela dia hanya melototi Iyan. Sedangkan Bela merasa lucu dengan Iyan, dari pertama kali dia kenal pria itu bicaranya memang begitu.
''maaf pak Budi asistenku ini memang bibirnya ember, kadang udah kayak ibu ibu lemes bangat mulutnya.''
''gak apa apa aku justru sangat menyukainya, itu tandanya dia orang yang jujur. Apa yang dia pikirkan itu yang di ungkapkan nya, mesti kadang terasa menyakitkan karena gak ada saringannya.''
__ADS_1
Mendengar omongan pak Budi Iyan garuk garuk kepa lagi, sedangkan Bela dia tertawa merasa lucu dengan pria itu. Sedangkan Frey dia sedang terpesona melihat Bela tertawa, dia memandangi Bela dengan ikut tersenyum.
Melihat keduanya Pak Budi hanya geleng geleng kepala, dia merasa Frey lamban suka bukan di ungkapkan saja.