
Lusi berpikir keras cara supaya suaminya tidak jadi menceraikan nya, kemudian muncul ide di dalam otaknya dan dia akan mencoba nya.
"kenapa juga selama ini aku selalu menunda kehamilan, coba aku gak KB mungkin suamiku gak akan menceraikan aku."
Tapi saat ini Lusi punya ide untuk menjerat suaminya supaya gak jadi menceraikannya, dia berencana untuk mendatangi suaminya di kamar bawah.
Jam sudah menunjukkan 00.00, Lusi keluar dari kamarnya dan di luar sudah sepi mungkin sudah pada tidur mengingat ini sudah larut. Dia diam diam akan masuk ke kamar suaminya, Lusi pun merasa lega karena pintu kamar Gala tidak di kunci.
Pas pintu terbuka ternyata Gala belum tidur dan pria itu kaget dengan kedatangan istrinya, Lusi sudah kepalang membuka pintu akhir nya dia pun masuk.
"ada apa? Untuk apa kamu datang ke sini?"
"mas aku mau minta maaf, sungguh aku gak ada niat untuk menyakiti Angga. Itu terjadi begitu saja, sungguh aku gak sengaja membuat nya sakit mas."
"aku gak butuh penjelasan apa apa lagi, aku selama ini sudah begitu sabar terhadap kamu. Aku hanya ingin kamu menyayangi putraku, tapi seperti nya apa kata mama benar kamu itu gak akan pernah mencintai Angga. Karena yang kamu cintai itu cuma duit ku saja."
"itu tidak bener mas, aku benar benar mencintai kamu"
"oh ya, ok kamu mencintai aku tapi kamu itu tidak akan pernah mencintai putraku. Bukan begitu?"
"bukan seperti itu mas, percaya lah aku akan berubah mulai sekarang"
"ha ha ha, kamu mau berubah? Untuk apa? Sampai sekarang putraku belum ketemu, dan aku gak butuh perubahan mu aku hanya ingin bertemu dengan anakku."
"tapi mas aku sangat mencintaimu, sungguh aku gak mau bercerai gimana kalau aku hamil. Soalnya aku sudah gak pake KB lagi,"
"aku akan menceraikan mu setelah anak itu lahir puas, sekarang pergi dan jangan pernah menemui ku lagi."
Melihat kemarahan yang terpancar dari raut wajah suaminya Lusi merasa takut juga, dia pun pergi meninggalkan Gala yang saat ini sudah mulai emosi.
Dengan perasaan kecewa Lusi menaiki anak tangga satu persatu, dia pun masuk ke kamarnya begitu sampai dia melampiaskan kemarahan nya dengan membuang semua alat makeup yang ada di meja rias.
__ADS_1
"bodoh bodoh kenapa juga aku mengurusi anak itu, coba aku biarin dia di urus Rena mungkin ini gak akan terjadi. Bagaimana ini? Tidak aku gak boleh menyerah, bagaimana pun caranya aku harus hamil. Setidaknya aku ada waktu sampai bayiku lahir, siapa tau Gala luluh setelah melihat bayiku."
Lusi berpikir keras bagaimana caranya supaya dia hamil, sedangkan suaminya boro boro menjamah nya melihat Lusi aja gala gak mau. Lama dia berpikir tapi belum menemukan ide, sampai sampai sudah menjelang pagi tapi wanita itu belum bisa memejam kan matanya.
"haduh sudah mau pagi tapi ini mata belum mau tidur, mana belum dapat ide lagi."
Lusi pun mengambil hp, dia asyik berselancar di dunia Maya. Setelah beberapa saat dia pun menemukan ide bagaimana caranya supaya dia cepat hamil, Setelah menemukan ide cemerlang itu Lusi pun mulai ngantuk dan gak butuh waktu lama dia sudah tertidur pulas.
Pagi ini seperti biasa Rena yang akan mengantar sarapan untuk Gala, semenjak putranya hilang dia sarapan, makan selalu di dalam kamar. Dia gak mau kalau bukan Rena yang mengantar nya, boleh di bilang sekarang Rena mengasuh tuan nya bukan anak tuan nya lagi.
"ini tuan sarapan nya"
"iya taro aja nanti saya makan."
"tuan saya mau ijin sama tuan, karena den Angga gak ada saya mau pulang kampung dulu."
"apa? Kalau Angga ketemu siapa yang menjaga dia nanti, kamu jangan banyak omong gak ada pulang kampung."
"tapi tuan saya di sini gak ada pekerjaan,"
"bukan soal gaji tuan, tapi aku setiap hari gak ada pekerjaan tentu saja aku merasa gak enak. aku di gaji tapi tidak bekerja selain bosan aku juga berdosa makan gaji buta."
"kenapa sekarang kamu cerewet Rena? Aku bilang gak boleh pulang kampung."
"baiklah tuan aku gak akan pulang kalau gak di ijinkan"
"bagus, sebelum Angga di temukan cukup kamu urus keperluanku saja"
Rena pun keluar dari kamar Gala dengan perasaan sedikit dongkol, gadis itu pun kembali ke dapur menemui bibik Emi.
"ada apa? Kenapa muka kamu cemberut begitu?"
__ADS_1
"tadi aku sudah ijin sama tuan untuk pulang kampung, tapi sayang aku malah di marahi boro boro di kasi ijin."
"lagian buat apa kamu pulang kampung? Di sana juga kamu gak ada kerjaan, setidaknya di sini kamu bisa bantu bibik dan gaji kamu tetap lancar"
"tapi bik aku gak enak makan gaji buta, tapi aku juga gak tenang kalau mau pulang sebelum Angga ketemu"
"ya sudah selagi kamu di suruh tuan di sini ya tetap di sini, kecuali tuan udah gak izinin kamu tinggal"
Rena masih aja cemberut sambil duduk melihat bibik Emi sedang menyiapkan sarana untuk Lusi.
"udah gak usah cemberut terus, sini bantu bibik untuk menyiapkan sarapan untuk nyonya."
mereka pun asik menyiapkan sarapan untuk Lusi, tanpa mereka sadari wanita itu sudah turun dan duduk menunggu sarapan nya yang sudah kesiangan.
"siapkan sarapan nya bik, aku sudah sangat lapar."
"iya nyonya," bibik Emi menyiapkan sarapan untuk Lusi, sedangkan Rena ikut membantu menyajikan nya di atas meja.
"oh ya Ren kok kamu masih di sini? Bukan nya pekerjaan kamu mengasuh Angga, sekarang anak itu udah gak ada kenapa kamu masih di sini?"
Tanpa sengaja Gala mendengar omongan Lusi, entah kenapa ayah satu anak itu langsung murka mendengar ucapan istrinya itu.
"aku juga mau pulang kampung nyonya tapi tuan gak mengijinkan nya, lagian kalau den Angga ketemu siapa nanti yang mengasuh nya."
"huh alasan, jangan bilang kamu mau mendekati suamiku ya"
"tidak nyonya mana mungkin aku berani."
"hah diam ini semua gara gara kamu, coba waktu itu kamu yang jaga anak itu ini gak bakalan terjadi."
"tapi kan nyonya sendiri yang mau mengurus den Angga, aku sudah berusaha untuk menjaganya tapi nyonya langsung kunci pintu."
__ADS_1
"oh begitu ya hebat, sudah begini kamu masih saja menyalah kan orang lain. Dan kamu terus mengatakan anak itu, kamu itu istriku anakku berarti anakmu juga.tapi kamu tidak ada sedikit pun menganggap nya sebagai anak mu. dan tidak ada rasa bersalah di hatimu sedikit pun, Boro boro mau sayang sama putraku.
Lusi kaget mendengar suara itu, suara yang sangat ia kenali gak lain adalah suaminya. Lusi baru mau mendekat tapi Gala sudah terlebih dulu pergi dari situ, akhirnya wanita itu urung sarapan karena sudah tidak selera.