Suamiku Tukang Selingkuh

Suamiku Tukang Selingkuh
bab 59 Bela semakin dekat dengan Frey


__ADS_3

Frey pagi ini sedang berbicara dengan kedua orangtuanya lewat telfon, dia menceritakan tentang kedekatan nya dengan Bela. Kedua orang tuanya sangat bahagia mendengar kabar itu, sampai sampai mereka akan langsung terbang ke Indonesia untuk melamar Bela.


Tentu saja Frey melarang kedatangan orang tuanya, dia ingin benar benar melamar Bela dulu. setelah wanita itu benar-benar menerima lamarannya baru lah dia memperbolehkan orang tuanya datang menemui dan melamar Bela.


"ayolah Frey mami mau bertemu dengan Bela dan juga putranya."


"sabar mi untuk saat ini belum bisa, nanti kalau sudah saatnya aku akan menghubungi mami sama papi."


"tapi Frey mami sudah gak sabar, kami sudah sangat ingin memiliki menantu serta cucu sayang."


"iya aku tau bukan hanya mami, Frey juga sudah kepengen punya anak."


"udah kepengen punya anak atau punya istri, mami rasa Frey udah gak tahan pengen punya istri ah."


"iss mami ini udah tau juga masih di bahas, aku ini laki laki normal dan juga seorang duda ya wajarlah."


"he...he...iya juga ya, pokoknya mami gak mau tau harus secepatnya. Kalau masih gak ada kabar dari kamu mami akan langsung datang dan melamarnya untukmu."


Frey baru sadar ternyata Iyan sudah sangat dekat dengannya, sampai sampai pas Frey menengok hampir saja dia mencium bawahannya itu.


"Iyan ngapain kamu menguping pembicaraan ku sama mami?"


Iyan hanya nyengir menunjukkan deretan giginya yang putih, dan pria itu segera mengambil roti tapi perhatiannya masih ke arah Frey. Dia memang orang yang kepo apa lagi masalah Frey, timbullah niat Frey untuk mengerjai Iyan.


"sudah dulu ya mi, pokoknya jangan datang dulu kalau sudah saatnya aku akan mengabari mami sama papi."


"baiklah Frey mami berdoa semoga kalian cepat menikah, salam untuk Bela dan juga keluarganya."


Frey pun mematikan telfon dan menyuruh Iyan mengambil jus di kulkas, saat itulah Frey mengambil roti yang sudah di kasi selai stroberi olah bawahannya dan Menukarnya dengan roti yang di oles dengan saus sambal.

__ADS_1


Frey menaruh roti saus sambal di piring seperti Iyan menaruh roti yang di olesi selai stroberi tadi, pria itu pun memberikan jus ke atasannya dan mulai memakan roti.


Pas gigitan pertama dia sudah merasa ada yang aneh, " perasaan tadi aku kasi selai stroberi tapi kok ini rasanya beda ya, apa lidahku ini salah kok kayak pedas gitu ya?"


Iyan pun menggigit nya kembali dan benar saja pria itu kepedasan, ia pun menaruhnya di piring dan hendak minum tapi jusnya sudah habis di minum Frey. Iyan pun berlari ke kulkas untuk mengambil jus lagi dan meminumnya.


"ada apa Iyan? Kenapa kamu berlari seperti itu?"


Karena sudah kepedasan Iyan tidak menghiraukan omongan bosnya, dia buru buru minum jus kemudian balik lagi ke meja sambil mengoceh.


"tega ya ngerjain aku begini, kan bos tau aku gak kuat makan pedas kok malah di kasi saos sambal."


"udah aku mau berangkat."


"ih bos bareng apa."


"iss mentang mentang sudah punya pacar udah gak mau bareng lagi."


Frey tidak perduli dengan ocehan receh dari asistennya, karena dari kecil memang dia sudah mengenal anak itu. Iyan adalah anak dari asisten papanya Frey sekarang tinggal di Jerman juga, dan sekarang Iyan juga jadi asisten Frey.


Iyan memang tinggal bersama atasannya di rumah besar milik orang tua Frey, bukan karena Iyan tidak punya rumah akan tetapi mereka sudah sepakat untuk tinggal di rumah Frey supaya tidak terlalu sepi.


Umur Iyan jauh lebih muda dari Frey, makanya dia sering usil sama anak itu karena dia merasa seperti punya adik. Begitu juga dengan Iyan dia tidak pernah merasa kalau Frey adalah atasannya, karena dari kecil pria ganteng itu selalu memperlakukannya seperti adiknya.


Dari kecil Iyan sudah di didik untuk menjadi asisten Frey, jadi dia sangat bisa di andalkan dan juga sangat setia. Apalagi saat Frey terpuruk setelah anak dan istrinya meninggal, Iyan lah yang mengurus perusahaan.


Selesai sarapan Iyan berangkat untuk bekerja, dia menaiki mobilnya sendirian karena atasannya sudah pergi duluan untuk menjemput Bela.


Sedangkan Frey saat ini sedang di rumah Bela, dia sampai wanita itu baru mau sarapan akhirnya dia di paksa ibu Laila ikut sarapan juga.

__ADS_1


"ayo nak Frey jangan malu malu, beginilah sarapan di sini ala kadarnya gak ada yang istimewa."


"justru aku rindu sarapan seperti ini buk, aku di Jerman aja mama sering menyiapkan sarapan seperti ini."


"masa sih Frey, di sini kan ada bibik yang buatin masa sampai kangen."


"ya beda buatan mama lebih enak, tapi kalau di banding masakan ibu kalah masakan mama."


"jangan seperti itu Frey, aku laporin mama nanti kamu bilang masakannya gak enak."


"jangan nanti Mama nelfon ngoceh terus sampai kupingku ini panas."


Mereka pun sarapan bersama tanpa ada obrolan lagi, sedangkan Diki memang hanya diam dan memperhatikan mereka. Bukan karena dia tidak menyukai Frey tapi dia bahagia melihat putrinya, sekarang Bela sudah ada calon suami dia begitu senang anak satu satunya itu sudah bangkit lagi dari keterpurukannya setelah bercerai dengan Gala.


Bela sudah menerima Frey dan mereka memang sudah ada niatan untuk menikah, tapi Bela masih menunggu sampai Gala memperbolehkan dia bertemu dengan putranya dulu.


Sebenarnya Gala sudah mulai luluh kalau melihat putranya yang sangat merindukan mamanya, tapi Lusi selalu menghasutnya supaya tidak memaafkan Bela.


Begitulah Gala yang sangat bucin sama istrinya, bahkan mamanya sendiri tidak pernah di temuinya meski hanya untuk bertanya bagaimana kabarnya. Pada hal mama Raisa sangat merindukan cucu dan juga putra satu satunya itu, tapi dia juga gak mau datang lagi ke rumah itu selagi masih ada Lusi.


Selesai sarapan Frey dan Bela pun berpamitan kepada ibu Laila dan juga ayah Diki, setelah Salim dan mencium punggung tangan kedua orangtuanya yang di ikuti Frey juga melakukan hal yang sama.


Mereka pun keluar menuju mobil yang terparkir di depan rumah, seperti biasa Frey selalu membukakan pintu untuk Bela baru kemudian dia naik dan duduk di bangku kemudi.


Perlahan mobil mulai berjalan meninggalkan rumah sederhana milik kedua orang tua Bela, sedangkan Laila dan Diki masih menatap mobil Frey sampai menghilang di ujung jalan.


"buk semoga setelah ini putri kita menemukan kebahagiaan nya, kalau dia sudah bahagia ayah pergi juga tidak merasa keberatan lagi."


"ayah jangan ngomong seperti itu ah, kita masuk lagi yok." Sepasang suami istri atau lebih tepatnya kakek nenek itu pun kembali masuk ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2