Suamiku Tukang Selingkuh

Suamiku Tukang Selingkuh
bab 87 menjelang pernikahan


__ADS_3

Besok adalah hari pernikahan Gala dan Rena, semua persiapan sebenar nya sudah beres karena mereka tidak merayakan nya cuma mengundang beberapa keluarga terdekat saja.


Hari ini mama Raisa akan mengajak Rena ke salon kecantikan, dia mau memberikan perawatan kepada calon menantunya supaya kinclong saat pernikahan. Rena sebenarnya gadis yang cantik tapi namanya gak pernah perawatan, ya kulitnya agak agak kusam.


Raisa sebenarnya menyuruh Gala supaya membuat pesta di kampung Rena, tapi baik kedua orang tua dan juga Rena menolak di adakan pesta. Apa lagi mereka baru mau menikah secara sirih, setelah Gala resmi bercerai dengan Lusi baru surat nikah mereka menyusul.


Rena begitu banyak pertimbangan untuk menggelar pesta, pertama mereka baru menikah secara agama dan diantara mereka tidak ada cinta. Bahkan Rena juga merasa tidak pantas bersanding dengan Gala yang notabene nya adalah majikannya, dan masih banyak perbedaan di antara mereka.


Rena takut suatu saat ternyata pernikahan mereka tidak bertahan lama, jadi orang orang di kampung nya tidak terlalu menggunjing keluarganya nanti. Rena bukan takut jadi bahan omongan tetangga nya nama nya juga di kampung, tapi dia takut keluarganya yang tidak kuat Karena itulah Rena menolak secara halus.


Tapi Gala memang sudah sangat yakin menjalin rumah tangga dengan Rena, oleh karena itu dia bilang setelah dia resmi bercerai dengan Lusi dan mendapat surat nikah. Maka mereka akan menggelar resepsi di kampung Rena, karena Gala tetap ngotot maka Rena pun akhirnya menyetujui rencana Gala itu.


Akhirnya mereka sudah sampai di salon tidak lupa Raisa juga mengajak besannya, mereka bertiga di layani dengan baik di salon itu. Ibu Rena merasa takjub dengan tempat mereka di manjakan, tapi dia juga merasa tidak enak kepada Raisa.


Ibu Rena tidak enak karena menurutnya perawatan mereka bertiga pasti sangat mahal, tapi Raisa hanya tertawa menanggapi kecemasan besannya. Baginya itu semua tidak masalah, Setelah kegiatan mereka di salon selesai Raisa hendak mengajak mereka berbelanja. akan tetapi ibu Rena tidak mau karena dia memikirkan suaminya di rumah.


Akhirnya Raisa menyerah dan mereka pun pulang, ibu Rena khawatir dengan suaminya karena sebentar lagi makan siang. Dia begitu khawatir suaminya tidak ada yang mengurus, apa lagi saat ini mereka ada di rumah calon menantunya. Dia sangat takut suami nya kelaparan dan tidak berani untuk masuk ke dapur dan mencari makan, padahal Raisa sudah berpesan kepada bibik Emi untuk mengurus besannya itu.


Sampai di rumah ibu Rena langsung pergi ke kamar tamu mencari suaminya, melihat itu Rena tersenyum bahagia karena ayah dan ibu nya selalu akur selama ini.


"Rena mama mau ke kamar dulu, ajak lah ayah dan ibumu sebentar lagi kita akan makan siang."


"iya ma, Abang juga sebentar lagi pulang katanya mau makan siang di rumah."

__ADS_1


"oh ya itu bagus Ren, ya udah mama mau ke kamar dulu bentar lagi mama akan ke dapur."


Rena pun pergi ke kamarnya untuk menaruh tas nya, kemudian dia menemui bibik Emi di dapur dan membantu wanita itu menyiapkan makan siang. Saat mereka menata meja Raisa juga datang dan ikut membantu, belum selesai menata meja Gala pun tiba dan langsung di sambut Rena.


Melihat apa yang di lakukan Rena, Raisa semakin yakin kalau mantan pengasuh cucunya itu adalah wanita yang cocok untuk putranya.


Mereka pun makan siang bersama, kedua orang tua Rena merasa senang karena mereka dan putrinya di sambut dengan hangat oleh Gala dan juga mamanya. Mereka bisa melihat bahwa putri mereka di perlakukan dengan baik, meski pun mereka hanya orang kampung dan juga susah.


...----------------...


Saat ini Lusi sedang ada di apartemen nya sedang berusaha menghubungi Bian, sudah sering kali dia telfon tetapi pria itu tidak menjawab. Lusi hampir putus asa tapi dia mencoba sekali lagi, akhirnya Bian menyerah dan mengangkat telfon dari Lusi.


"halo, ada apa nelfon terus? Apa tanganmu tidak capek menekan tombol hp untuk menelfon ku terus?"


"apa bilang aja sekarang, kenapa harus bertemu."


"aku mohon kita bertemu di kafe ya"


"tidak usah biyar aku aja yang kesana"


"baiklah aku tunggu" Lusi pun mematikan hp dan menaruh benda pipih itu di atas meja, setelah menunggu lima belas menit pintu apartemen nya pun di ketuk. Lusi bergegas membuka pintu dan ternyata Bian lah yang telah mengetuk pintu itu.


"ayo masuk" Bian pun masuk dan duduk di di sofa, sedangkan Lusi membuatkan minuman dingin untuk pria itu. Karena saat ini udara sangat panas dia pun berinisiatif untuk membuat yang dingin dingin, dan Bian pun menyambutnya dengan senang karena dia merasa kehausan.

__ADS_1


setelah menenggak minuman itu sampai habis setengah, dia pun bertanya kepada Lusi mau bicara apa.


"ada apa? Tadi kamu bilang mau bicara, sekarang aku akan mendengar kan katakan lah"


"begini Bian aku sekarang sudah di usir suamiku, dan dia sudah mengajukan gugatan cerai dan sekarang persidangannya sudah mulai"


"terus apa hubungan nya denganku?"


"apa tidak bisa di rubah perjanjian kita, biar bagaimana pun anak yang ada di rahim ku ini adalah darah dagingmu"


"maksudmu apa?"


"bisakah kita menikah setelah kami resmi bercerai, apa kamu gak kasihan dengan anak ini"


"hahaha kamu pikir aku bodoh, setelah kamu gagal mengelabui suamimu sekarang kamu mau menjeratku? Jangan mimpi,"


"tapi bagaimana pun ini adalah darah dagingmu, bagaimana masa depan nya nanti?


"itu urusan kamu bukan urusanku, dan mulai sekarang jangan pernah menghubungi aku atau menyuruh bertanggung jawab terhadap anak itu. Kamu itu tidak pernah tulus mencintai siapa pun, karena bagimu duit lah yang terpenting, dan aku gak mau jadi orang berikut yang akan kau jadikan sebagai ATM berjalan mu. Dan setelah kau puas dengan tanpa dosa kau akan selingkuh, demi kemewahan apa pun akan kamu halalkan termasuk memberikan tubuhmu pada pria mana pun."


Mendengar ucapan Bian Lusi tidak bisa berkata apa apa, dan itu semua adalah benar adanya. Tapi karena dia membutuhkan pria itu untuk menjamin hidup nya dia pun mulai bersandiwara, Lusi menangis dan memohon kepada Bian supaya menerimanya. Karena Lusi tau Bian adalah seorang anak tunggal dan orang tua nya adalah seorang pengusaha, cuma Bian anak manja yang taunya cuma bersenang senang dan tidak mau bekerja.


Tapi Bian tau saat ini wanita itu sedang berpura pura, maka dia pun tidak perduli dan mulai berjalan hendak meninggalkan Lusi. Baru mau melangkah kakinya di pegang, tapi Bian sama sekali tidak tersentuh melihat air mata buaya Lusi. Bian menarik tangan Lusi supaya kakinya terlepas, dan segera pergi ke arah pintu meninggalkan wanita itu.

__ADS_1


Sepeninggal Bian Lusi merasa kesal tapi tidak bisa berbuat apa apa, saat ini dia hanya bisa pasrah menerima konsekuensi dari perbuatan nya.


__ADS_2