
"oh ya Rena ini susu untuk Angga, bagaimana kalian menyimpannya nanti ketauan sama wanita itu di buangnya lagi."
"tenang aja buk Bela kami akan menyembunyikannya dengan wadah yang lain, dia itu jarang ke dapur apa aja selalu nyuruh orang. Mau minum air putih saja dia pasti menyuruh seseorang untuk mengambilnya."
"semoga saja tidak ketauan ya kasihan putraku, mereka benar benar egois apalagi mas Gala apa dia gak memikirkan keadaan anaknya."
"tuan sangat menyayangi Angga kok, cuman gara gara nyonya perhatiannya jadi teralihkan ke istrinya saja."
"mama" terus saja balita itu memanggil mama kepada Bela, Rena mengajaknya dia gak mau di gendong pengasuhnya itu. Dia ingin terus bersama mamanya, sedangkan gadis itu sudah mulai khawatir ketauan Mak lampir.
"bagaimana ini Ren? Kok Angga tidak mau berpisah dengan ku ya?"
"entah lah buk Bela kalau sudah begini aku jadi tidak tega, tapi bagaimana ini nanti ketauan sama nyonya."
"Angga sayang di gendong mbak Rena ya, itu mama mau kerja dulu ya." anak itu semakin memeluk Bela dia sudah mengerti akan di tinggal mamanya lagi, sedangkan pak Toni sudah mulai resah dia takut ketauan kalau mereka terlalu lama.
Pria paruh baya itu mendatangi taxi dan mengetuk pintu, Rena pun membuka pintu mobil itu.
"ada apa pak Toni? Apa kita ketauan nyonya?"
"tidak cuman saran saya sebaiknya jangan terlalu lama nanti ketauan."
"ini pak bisa bantu saya? Tolong bawa masuk susu den Angga ini, saya sedang merayunya sepertinya dia enggan untuk berpisah dengan mamanya."
"oh...baiklah sini susunya nanti saya bawa masuk, tapi tolong jangan lama nanti ketauan nyonya."
"iya pak, sebentar lagi kami akan masuk." pak Toni pun segera masuk kedalam rumah dan menyerahkan susu itu ke bibik Emi, dan dia juga sekalian menanyakan tentang Lusi ada di mana.
"pak Toni kok mereka lama sekali?"
"itu den Angga gak mau berpisah dengan mamanya."
__ADS_1
"baiklah tunggu sebentar biyar aku buatkan susu untuknya."
"aku rasa itu ide bagus, ya sudah buatin cepat biyar aku bawa keluar bibik Emi yang mengawasi nyonya."
Bibik Emi pun membuatkan susu untuk den Angga, setelah selesai pak Toni pun buru buru keluar untuk memberikan susu itu. Sementara Bela dan Rena merasa kasihan tapi juga khawatir karena dia tidak mau melepas mamanya sama sekali.
"bagaimana apa den Angga sudah mau Ren?"
"belum pak Toni sabar ya kasian juga den Angga ni."
"coba rayu dengan susu ini tadi di buatkan bibik Emi."
"oh iya sini pak Toni." Rena pun mengambil susu dari tangan pak Toni dan menunjukkannya ke Angga, melihat susu itu dia langsung senang karena dia memang sudah sangat ingin minum susu. Melihat reaksinya Rena pun mengambil kesempatan.
"Angga sayang mau minum susu ya? Kalau mau minum susu sini mbak gendong, nanti minumnya sambil bobok di dalam biyar enak."
Mendengar omongan Rena balita itu langsung datang ke pangkuan Rena, mereka berdua akhirnya merasa lega. Tapi di sisi lain Bela merasa sedih akan berpisah lagi dengan putranya, dan dia juga merasa hancur melihat anaknya yang sangat ingin minum susu itu.
Sedangkan Rena tanpa pamit lagi ke Bela dia langsung mengambil kesempatan itu untuk membawa Angga masuk, setelah kepergian Rena Bela pun menyuruh supir Taxi untuk pergi. Sepanjang jalan dia terus menangis tanpa perduli dengan wajah keheranan supir itu.
Melihat anak asuhnya tertidur pulas dia pun turun kebawah dan menemui bibik Emi.
"bik bagaimana susu Angga? Apa sudah aman?"
"beres, sudah aku amankan nyonya tidak akan melihatnya."
"baiklah kalau begitu, aku sekarang merasa lega dia tertidur sangat pulas sekarang."
"syukurlah, ya sudah kamu naik aja tungguin den Angga ini biyar bibik aja yang nyuci dotnya.
"gak apa apa bik cuman nyuci dot doang gak bakalan lama."
__ADS_1
Di kamar Lusi sudah bangun, dia sedang membalas chat dari suaminya. Gala bilang dia akan pulang lebih cepat karena ingin bermain dengan putranya, Lusi jadi panik setau dia anak itu sedang diare dan sangat rewel.
"bagaimana ini? Kalau mas gala tau putranya sedang sakit bisa gawat ini, sebaiknya aku tanya Rena bagaimana keadaan anak itu merepotkan."
Lusi pun keluar dari kamarnya, dan masuk ke kamar Angga yang memang bersebelahan dengan kamar mereka. Begitu dia masuk melihat Angga sedang tertidur pulas, tetapi tidak melihat keberadaan gadis itu.
"kemana lagi gadis ini? main tinggalin aja ni bocah " dia pun keluar dari kamar Angga mau mencari Rena, saat mau turun tangga dia melihat gadis itu sedang menaiki tangga.
"kamu dari mana Rena?
"oh tadi den Angga habis minum susu dan dia tidur setelah itu, dan aku turun untuk mencuci dotnya nyonya."
"bagaimana apa dia masih rewel? Dan apa dia masih mencret?"
"dia sudah tidak rewel nyonya, kalau soal mencret kayaknya juga sudah ngak nyonya. Tidur pun dia sudah sangat pulas sekarang, biasanya dia agak rewel dan tidurnya gak pernah pulas sebentar sebentar bangun."
"bagus lah kalau begitu, ingat kamu harus menjaganya dengan baik. Bentar lagi suamiku akan pulang, jangan sampai dia tau kalau anaknya akhir akhir ini sedang kurang sehat."
"baik nyonya."
"apa susunya masih ada?"
"masih, nyonya kan membeli susunya sangat banyak."
"ya sudah kalau begitu, aku gak mau sampai ada masalah nanti suamiku marah. Dan aku gak mau itu sampai terjadi, kamu mengerti Rena."
"iya aku mengerti nyonya."
Lusi pun keluar dari kamar Angga, dia langsung pergi ke kamarnya untuk mandi. Dia selalu berusaha terlihat cantik di depan suaminya, saat ini yang ada di pikirannya hanya untuk membuat suaminya senang.
Tapi dia lupa salah satu cara menyenangkan suaminya adalah dengan menjaga dan mengurus anaknya dengan baik, tapi tidak dengan Lusi dia tidak berpikir ke situ. Dia malah tidak perduli dengan anak itu, dia hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah Lusi keluar dari kamar Angga Rena pun menghela nafas, dia sempat berpikir wanita itu mulai perhatian sama anak sambungnya. Tapi ternyata tidak dia hanya takut ketauan suaminya kalau dia tidak mengurus anak itu.
"sepertinya aku harus lebih waspada sama nyonya, kok bisa ya dia tidak kasihan sedikit pun pas Angga diare? Aku saja yang hanya seorang pengasuh begitu sayang, nah nyonya udah status anak tapi gak ada sedikit pun rasa sayangnya. Sepertinya dunia ini memang sudah mau kiamat."