
Bela akhirnya pergi bersama ayah dan ibunya, mereka kembali pulang ke rumah orangtuanya. Dia begitu sedih berpisah dari putranya, ibu satu anak itu tidak memikirkan apa pun selain anaknya. Bahkan uang yang di berikan Gala cukup banyak, dia tidak perduli sama sekali.
Sampai di rumah orang tuanya, dia hanya duduk sambil memeluk lutut di dalam kamarnya. Melihat itu ibunya tidak tega, wanita itu pun menelfon Lia supaya datang. Kalau dia berbicara dengan sahabatnya mungkin akan sedikit berkurang bebannya, itulah yang di pikirkan ibunya.
Begitu di telfon Laila, Lia langsung datang untuk menemui sahabat nya.
Setengah jam kemudian dia pun sampai di rumah orang tua Bela.
''assalamualaikum,''
''walaikumsalam, eh nak Lia ayo masuk. Bela ada di kamarnya tolong temui dia, saat ini dia lagi terpuruk. kasian, Dia sangat merindukan anaknya.''
Bu Laila pun mengantar Lia ke kamar anaknya, sampai di kamar Bela sedang menangis. Pas melihat sahabatnya datang dia langsung menghambur ke dalam pelukan Lia.
''menangislah kami semua ada disini, kamu tidak sendiri. Ingat kamu harus kuat demi Angga, wanita itu hanya mau uang Gala.sebentae lagi dia akan terlena dengan kemewahan yang di berikan Gala, saat itulah kita mengambil Angga. Tenang ada Rena yang menjaganya, apa kamu tidak yakin sama anak itu? Selama ini dia sangat telaten mengurus Angga, kamu harus percaya sama dia.''
Bu Laila datang mengantar minuman dan juga cemilan.
''ayo nak kalian minum dulu, ini cemilannya.''
''aduh ibu ko jadi ngerepotin,''
''ngerepotin gimana menyuguhkan cemilan dan minuman untuk anak sendiri masa ngerepotin, udah di minum tu. Ibu mau ke belakang lagi.''
''oh iya Bu, terimakasih ya,'' ujar Lia.
''iya,'' Bu Laila pun pergi. Sedangkan Bela mulai tenang, dia menghapus air matanya.
''benar apa kata kamu Li, sekarang aku harus bangkit supaya aku layak mengasuh putraku. Mulai besok aku akan ke tempat kerja kita dulu, aku akan bekerja lagi semoga aku masih di terima bekerja di situ.''
''pasti masih di terima, pas aku keluar aja bos masih menyayangkan kita berdua yang harus keluar karena menikah kok.''
''masa sih Li,''
''iya Bel, coba aja kesana kalau gak percaya.''
''iya deh, aku percaya. ngomong ngomong ko kayaknya kamu agak gemuk Li, apa kamu sudah isi?''
__ADS_1
''iya, udah empat Minggu.''
''selamat ya sayang, semoga ponakanku ini sehat sampai dia lahir.''
''Aamiin.''
''bagaimana dengan pernikahan kalian, tapi aku rasa Doni orang yang baik.''
''iya Alhamdulillah rumah tangga kami baik, suamiku memperlakukanku sangat baik. Begitu juga dengan mertuaku, dia sangat menyayangiku layaknya anak sendiri.''
''syukur lah ya Allah, aku turut bahagia semoga pernikahan kalian langgeng. Dan di karuniai anak yang banyak.''
''iss...kamu ini kayak Doni juga, pengen punya anak banyak. Katanya dia gak ada saudara jadi dia pengen bikin banyak, biyar rame.''
''tadinya aku juga berpikiran kayak Doni juga, karena aku gak punya saudara jadi pengen punya anak banyak. Tapi itu tinggal keinginan belaka, pernikahanku telah kandas.''
''pernikahan kandas bukan berarti gak bisa punya anak banyak Bel.''
''maksudnya aku hamil tanpa suami gitu?''
''iss ngawur kamu dia kan sudah menikah.''
''Bel sekarang Frey seorang duda, dulu dia menikah dengan seorang gadis. Di jodohkan sih tapi dia menerima istrinya dengan baik, meski dia tidak mencintainya. Tapi sayang pas istrinya melahirkan, nyawanya tak tertolong begitu juga dengan bayinya.''
''iss kau ini sok tau,''
''beneran bel, itu semua aku tau dari suamiku. Mereka bersahabat dari bangku kuliah. Kata Doni dia gak pernah mau pacaran pada hal banyak yang mau sama dia, itu semua karena gadis yang di sukainya semasa SMA. Apa mungkin itu kamu Bel?''
''iss kau ini kok bisa berpikiran kalau itu aku sih.''
''aku memperhatikan tatapannya ke kamu Bel, saat kita di mol dan saat pesta pernikahanku.''
Deg jantung bela berdetak, dia ingat tatapan itu masih sama seperti saat mereka masih SMA. Bela merasa gugup dia pun berusaha menyembunyikan kegugupannya.
''Lia bisakah kita tidak membicarakan Frey, baru hari ini aku resmi menjanda aku belum berpikir ke arah sana.''
''iya, maaf aku hanya tidak ingin kamu bersedih.''
__ADS_1
''sepertinya hp ku bunyi, sambil minum dan di makan tu aku angkat dulu.''
Ibu satu anak itu pun mengambil hp yang masih ada di dalam tas. Pas di lihatnya Vidio call dari Rena, dia buru buru mengangkat takut anaknya ada apa apa.
''halo Ren, bagaimana Angga''
''dia baik baik saja Bu, lihatlah dia sedang bermain.''
Rena mengarahkan kamera ke Angga, anak itu pun langsung melihat hp. Bela terus saja memanggil manggil anaknya, begitu juga Lia dia ikut melihat anak itu. Angga masih kecil dia hanya mengoceh gak jelas sesekali tertawa, membuat bela sedih sekali Gus senang.
''Ren memangnya Gala ke mana? Kok kamu bisa telfon, hati hati kalau mau telfon. Nanti kamu di marah.''
''tuan Gala tadi jalan sama nyonya Lusi, makanya aku telfon ibu. begini aja Bu jangan pernah nelfon duluan, tapi kalau lagi aman tidak ada tuan dan nyonya aku yang akan nelfon ibu.''
''Ren mereka kan belum menikah ko udah kamu panggil nyonya Lusi.'' ujar Lia.
''iya nyonya Lusi yang memintanya mbak Lia.''
''iss dasar ulat keket sok berkuasa, belum jadi nyonya udah ngatur aja.''
''biyar mbak Lia, aku gak masalah asal dia jangan mengusik Angga.''
''Ren kalau ASI-nya udah mau habis bilangin ya, aku akan stok di sini. Kalau kamu udah telfon nanti aku antar ke depan rumah,jangan sampai ketahuan ya.''
''bu Bela gak usah khawatir jangan bersedih terus, aku akan menjaga Angga dengan baik. Lihatlah dia baik baik saja kan.''
''kalian ngobrol sama siapa nak? Kok kayaknya rame.''
''bu lihatlah putraku, dia begitu manis terus saja bermain. Dia tidak tau kalau mamanya sudah jauh, gala tidak pernah berpikir tentang anaknya. Malah dia asik bersama wanita itu, bukannya ngurusin anak.''
Bu Laila pun datang melihat cucunya sedang asik bermain, wanita paruh baya itu meneteskan air matanya. Kemudian buru buru di lapnya, dia gak mau anaknya semakin sedih tapi dia gak bisa membendung air matanya. Yang menetes tanpa permisi.
''oh ya Bu Bela sepertinya Angga sudah haus, besok besok kalau ada kesempatan aku telfon lagi.''
''iya Ren, ingat kalau ada apa apa segera telfon ya.''
''Baiklah aku matiin ya Bu,'' Rena pun mematikan telfonnya,sedangkan Bela merasa lega karena sudah melihat putranya. Biyar pun lewat hp tidak masalah baginya.
__ADS_1