Suamiku Tukang Selingkuh

Suamiku Tukang Selingkuh
bab 62 melihat Lusi berkumpul bersama teman temannya


__ADS_3

Begitu keluar rumah Lusi langsung mengendarai mobil mewahnya menuju kafe tempat ia janjian dengan teman temannya, wanita itu begitu bersemangat setelah sekian lama dia tidak pernah berkumpul seperti biasa.


Begitu sampai di kafe ia langsung menuju parkiran, saat mau turun dari mobil dia ngaca dulu melihat penampilannya. Setelah di rasa semua masih sempurna barulah dia bergegas keluar dari mobil, Lusi berjalan masuk dengan anggun seperti biasa gaya seksi.


Sampai di dalam wanita itu langsung menuju meja di mana teman temannya sudah menunggu, tanpa di sadarinya dari kejauhan ada dua pasang mata yang sedang memperhatikannya.


Ternyata di dalam kafe tersebut sedang ada Doni bersama istrinya, mereka lagi makan lebih tepatnya menemani Lia makan. Lia saat ini sedang hamil besar sudah tujuh bulan, dia sering kali merepotkan suaminya dengan permintaan yang aneh.


Seperti saat ini dia memaksa Doni menemaninya makan di kafe, pada hal suaminya sedang banyak pekerjaan karena saat ini Gala sedang keluar kota. Tapi demi anak dia terpaksa menuruti keinginan istrinya.


"hai Lusi ko lama bangat baru nyampe?"


"iya sorry biasalah, aku tadi pagi harus mengurus keperluan suami dulu. Soalnya suami aku lagi keluar kota, tadi pagi berangkat."


"oh pantas kamu bisa keluar, setelah sekian lama kamu gak pernah ikut ngumpul kita lagi." ujar salah satu temannya.


"oh bukan aku gak mau ngumpul, bukan juga gak di boleh suamiku. Tapi aku sedang berusaha menjadi istri dan juga ibu sambung yang baik, ya sebisa mungkin aku selalu mengurus anak dan suamiku."


"oh begitu ya, syukurlah kalau begitu kami mengira kamu itu sudah di ikat suamimu gak boleh keluar."


"wah segitunya kalian ya, ngak lah aku aja yang gak mau keluar aku mau jadi istri idaman."


Dari meja yang agak jauh tapi obrolan mereka masih terdengar jelas, Lia merasa mual mendengar ucapan Lusi.


"iss dasar Mak lampir bilang aja kamu takut di usir, pintar amat mulutnya berbohong dasar."


"suutt ngomongnya pelan pelan nanti di denger sama dia, biarin aja wanita itu dia mau ngapain mau ngomong apa juga biarin. Kamu makan aja setelah selesai kita sebaiknya pergi, pekerjaanku masih banyak kan kamu tau sendiri sayang bos lagi keluar kota."


"cih masa aku gak boleh merasa kesal sih, biar kamu gak ngizinin aku ya mas sampai kapan pun aku akan selalu membenci pelakor itu titik."


"iya tapi ingat kamu itu sedang hamil, kamu mau anak kita mirip sama wanita itu."

__ADS_1


"iss amit amit deh mas, iya deh aku akan berusaha untuk biasa aja jadi takut kalau sampai ih jangan sampe deh."


"nah makanya buruan makannya biyar kita pergi."


"iya mas dari pada aku nahan emosi tidak bagus untuk kehamilanku."


Akhirnya Lia mulai berdamai dengan hatinya, sebisa mungkin dia berusaha untuk tidak membenci Lusi. Dia begitu takut anaknya mirip sama wanita itu, dia pun makan dengan lahap karena dia begitu menyukai hidangan yang ada di kafe ini.


Lusi dan teman temannya terus aja bersenda gurau sambil makan, dan di antara mereka ada dua orang pria yang juga ikut berkumpul.


Salah satu di antara mereka terus saja memperhatikan Lusi, dia adalah Bian. Pria ini sangat menginginkan Lusi, bukan berarti dia mencintai istri Gala itu. Tapi dia sangat menginginkan tubuh seksi Lusi, semua teman temannya juga tau bahkan Lusi juga sudah tau kalau Bian sangat menginginkan tubuhnya.


Lusi di tatap pria itu tetap saja santai pura pura gak tau, mereka terus saja mengobrol dan bercanda. Terkadang teman temannya meledek Bian yang terus aja menatap Lusi tanpa berkedip, tapi ya Lusi tetap aja cuek gak perduli dengan pria satu itu.


Lia akhirnya menyelesaikan makannya, Setelah membayar makanan istrinya Doni pun mengajak Lia keluar. Saat mau keluar otomatis Doni dan Lia harus melewati meja Lusi dan teman tamannya, sepasang suami istri itu pun melenggang melewati mereka.


Saat itu juga Lusi melihat mereka, dia pun agak panik karena takut di laporin ke suaminya kalau dia keluar dan bertemu teman temannya.


"teman teman aku mau ke toilet dulu ya."


"Doni tunggu" mendengar Lusi memanggilnya mereka pun berhenti, dan menunggu wanita itu karena mereka juga penasaran apa yang akan dia bicarakan.


"ada apa cepat aku gak ada waktu, pekerjaanku sangat banyak."


Mendengar ucapan Doni muka Lusi sudah masam, tapi karena takut di laporin dia pun pura pura ramah.


"begini Don, aku mohon jangan katakan sama suamiku kalau aku bertemu dengan teman temanku ya."


"oh tentu saja tidak, untuk apa aku laporin kalau kamu keluar terus itu lebih baik."


"maksudmu apa Don?"

__ADS_1


"gak ada, ya aku ngerti kok selama ada suamimu kamu itu tidak pernah keluar. Jadi kalau selama tidak ada bos kalau anda mau keluar bertemu teman teman, ya aku rasa gak masalah."


"oh begitu ya, ya udah deh kalau begitu aku mau masuk kedalam lagi."


"iya silahkan" Lusi pun kembali ceria dan masuk kembali berkumpul dengan teman temannya.


Sedangkan Doni sedang menahan sakit karena di cubit istrinya, "ada apa? Kenapa kamu mencubit aku sayang sakit."


"kenapa kamu begitu manis dengan wanita itu hah?"


"dengerin dulu jangan langsung marah marah dong."


"apa yang mau di dengerin, harusnya mas laporin aja dia itu."


"begini sayang, kalau dia keluar terus selama bos ada di luar kota berarti Angga aman sama Rena."


"oh iya ya, kamu memang pintar suamiku."


"makanya jangan langsung marah marah sama suami, sebaiknya tanya dulu kenapa aku melakukan itu."


"iya deh maaf, berarti selama tiga hari ini kalau Mak lampir terus keluar terus keponakanku aman."


"ya iya, makanya biarin aja dia melakukan apa yang dia mau, yang penting jangan menyakiti den Angga."


"kamu memang suami yang sangat pintar, aku semakin mencintaimu mm ah" Lia pun mencium suaminya, mendapat ciuman seperti itu tentu saja Doni merasa senang.


"aku mau upah karena aku pintar dan juga kamu telah mencubit perutku, pokoknya nanti malam kamu harus kasi aku bonus."


Mendengar permintaan suaminya tentu saja Lia sudah mengerti apa yang di maksud suaminya, tapi karena dia merasa bahagia kalau Angga aman maka tidak masalah bagi Lia.


"baik lah aku akan memanjakan mu, yang penting keponakanku aman."

__ADS_1


"baiklah ayo aku antar pulang, karena aku masih banyak pekerjaan."


Mereka pun menaiki mobil, dan Doni mengantar istrinya pulang ke rumah.


__ADS_2