Suamiku Tukang Selingkuh

Suamiku Tukang Selingkuh
bab 39 bertemu lia


__ADS_3

Setelah gala pergi membawa Lusi, ngak lama Doni pun pamit. pria itu sangat kesal, dia sangat kasihan melihat Raisa, bela dan juga kedua orang tuanya. pria tampan itu tidak bisa tenang, dia selalu terbayang wajah mereka semua yang lagi bersedih. Doni memang penyayang, dia gak bakalan tega melihat orang yang dia kenal bersedih. apa lagi mama Raisa yang sudah di anggap nya seperti ibu.


Untuk menghilangkan kegundahan nya, Doni menelfon Lia untuk bertemu di kafe langganan mereka


...****************...


"mas sudah lama ya?"


"iya"


"maaf ya, tadi Lia masih kerja mas"


"gak apa apa, yang penting kamu sudah di sini. mau makan apa?"


"apa ajalah, mas mau ngomong apa sih kayaknya tadi pas nelfon lesu amat. ada masalah apa? sekarang juga kok kayaknya sedih bangat."


Setelah memesan makanan Doni masih terlihat sedih, Lia sangat penasaran apa yang sudah membuat pria tampan di hadapannya gundah gulana. Walaupun Lia penasaran tetapi gadis itu tetep sabar menunggu, sampai kekasihnya bercerita.


"Lia aku sangat sedih sekarang."


"ada apa? apa yang membuatmu bersedih MMM." Doni pun menceritakan apa yang sudah terjadi di rumah gala, dari awal sampai akhir tanpa ada yang terlewatkan. mendengar cerita Doni Lia geram, ingin rasanya dia menghajar Lusi sampai kapok.


"kurang ajar ya wanita itu, dasar gak tau diri. ayo mas antar aku ke apartemen nya, akan kihajar wanita itu sampai dia cacat. dengan begitu gala tidak akan mau lagi dengannya."


"eh eh gak bisa begitu, kita nanti gagal menikah. persiapan pernikahan kita sudah hampir selesai, kalau kau menghajar wanita itu bisa bisa kamu di penjara. terus aku nikah sama siapa?"


"he he... iya ya, tapi mas aku kesel bangat."


"iya aku juga kesel, tapi kita sudah di wakili mama raisa. kan tadi aku sudah bilang, wanita itu sudah di hajar habis habisan sama mama. kalau gak mikirin mama, aku gak mau melerai. akan tetapi aku takut terjadi sesuatu kepada wanita itu, bisa bisa mama di laporin ke polisi."

__ADS_1


"apa Bela tidak menghajarnya juga?"


"tentu saja tidak, dia begitu baik. yang ku lihat dia tidak sedikit pun mau menghajar wanita itu. tapi sepertinya dia sudah bertekad akan bercerai dengan Gala."


"oh ya ampun...., kenapa sahabat ku itu mengalami ini semua. dia adalah orang yang baik, tapi kenapa hal buruk menimpanya. sungguh tidak adil."


Lia terus saja mengomel, pesanan mereka sudah tersaji tapi dia tidak menyadarinya. melihat kelakuan Lia yang terus mengoceh gak jelas, Doni mengingatkan nya.


"sudah gak usah ngoceh terus, sebaiknya kita makan dulu. ini ni yang aku takutkan, kalau cerita sama kamu pasti emosi. aku gak bisa bayangkan kalau aku seperti gala, akan seperti apa kemarahan mu."


"oh ya, apa kau mau tau kemarahan ku seperti apa? jangan coba coba ya mas, burung perkutut mu itu gak akan selamat. dan wanita itu akan ku buat cacat seumur hidup."


"iss galak amat, siapa juga yang mau seperti gala. amit amit deh, tenang aja sayang aku bukan pria seperti itu. aku orang yang setia, aku juga sangat menghormati wanita, jadi gak mungkin aku berbuat seperti itu."


"semoga saja mas gak seperti itu, setelah kita menikah kalau sudah gak cinta mending ngomong aja. daripada selingkuh, lebih baik ceraikan istri dulu baru nikahi wanita pujaan mu itu. sakit juga tapi menurutku itu lebih baik, dari pada berkhianat di belakang."


Selesai makan dua sejoli itu keluar dari kafe, mereka berjalan menuju parkiran. pasangan yang sedang di mabuk cinta itu menaiki mobil, dan meninggalkan tempat itu. Doni sedang menyetir, sedangkan Lia sedang melamun memikirkan sahabatnya.


Doni melirik Lia, pria itu tau kalau gadis di sebelahnya sedang memikirkan sahabatnya. untuk mengalihkan pikiran Lia, Doni mengajak gadis itu ngobrol.


''apa kamu sudah memberitahu Bela? sebaiknya kamu temui dia, hari pernikahan kita sudah dekat. kalau kalian bertemu, sedikit banyak mungkin dia terhibur.''


''iya mas, besok aku terakhir kerja. sepulangnya aku akan bertemu bela, aku juga sudah merindukan Angga.''


''lia, kalau kita sudah menikah. apa kamu masih mau kerja?''


''aku nurut aja sama mas, kalau mas nyuruh aku kerja ya....kerja. tapi kalau mas bilang di rumah aja ya udah, aku akan keluar gak kerja lagi.''


''oh... gitu ya, jadi mas minta kamu gak usah kerja. aku masih bisa ko nyukupi kebutuhan kamu sama anak kita nanti.''

__ADS_1


''ya kalau mas maunya aku gak kerja, besok aku akan mengundur kan diri sekalian.''


''iya...mama pasti senang, selama ini dia hanya sendirian di rumah. kadang aku kasihan sama mama, makanya dia terus nyuruh aku menikah. dia kesepian anaknya cuma aku, jarang di rumah pula.''


''kok bisa jarang di rumah, pulang kerja emang mas kemana?''


''ya kalau gak ada kerjaan lagi ya pulang, tapi sering kali baru nyampe udah di suruh ngerjain sesuatu lagi. yah mau gak mau ya jalan, pulang pulang nanti udah malam. mama pasti sudah tidur, aku juga gak mau ganggu mama. jadi aku bawa kunci sendiri.''


''oh...gitu ya, aku kira kamu sering kelayapan gitu ''


''mmm....mana ada, aku gak pernah kelayapan gak jelas tau. makanya mama kadang ngoceh, gimana mau dapat istri ngeram terus di rumah. aku sih diam aja, karena aku yakin kalau udah jodoh pasti bertemu. ini buktinya sebentar lagi kita akan menikah.''


''emang sama teman teman mas gak pernah main? sama gala juga gak pernah nongkrong, di mana gitu?''


''ngak...semenjak dia pacaran sama Lusi, kalau dulu waktu kuliah iya. kami sering nongkrong, sama ada teman kami namanya Frey Aksa Adhitama. dia tinggal di Jerman, tapi sekarang dia sudah kembali. nanti aku kenalin, dia sudah aku undang. tapi ingat jangan jatuh cinta, dia sangat tampan masih jauh dari gala kaya lagi.''


''masa sih mas, gala sudah tampan gitu. masa sih lebih tampan lagi, aku jadi penasaran mas.''


''apa aku tidak tampan?''


''mas Doni tampan, tapi kalau di banding Gala tampan dia. terus masih ada yang lebih tampan dari gala? seperti apa rupanya mas? jadi kepo.''


''iss kamu ini jujur bangat sih.'' mereka tertawa bersama, kemudian Lia merasa malu karena udah membandingkan calonnya dengan pria lain.


''maaf mas, bukan maksudku membandingkan mu. biar mereka lebih ganteng dan lebih kaya, tapi aku cinta sama kamu mas.''


''aku juga cinta kamu, ya udah sudah sampai. aku gak mampir ya, masih ada hal yang harus aku urus.''


Doni mencium kening Lia, kemudian gadis itu turun dengan muka merah karena malu. melihat pipi merona Lia, Doni merasa gemes. pria itu tersenyum sambil menyetir, dia meninggalkan rumah Lia dengan perasaan bahagia. mobil Doni sudah jauh baru kemudian Lia masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2