
Setelah menitipkan Rena kepada Emi Gala pun berangkat ke kantor, dia sudah gak sabar mengetahui apa rencana Lusi sampai sampai Rena jadi korban.
Sedangkan Doni saat ini sudah menemukan Lusi di apartemen nya, dia bertanya banyak hal tapi wanita itu mengatakan kalau dia di paksa oleh Bian. Sedangkan Bian langsung pergi begitu Doni datang, dia tidak mau ikut campur dengan urusan Lusi dan suaminya.
Doni sudah lelah tapi Lusi masih mengelak kalau dia selingkuh, Doni pun keluar dan akan menyelidiki nya lebih lanjut tanpa bertanya kepada Lusi lagi. Pria itu merasa kesel dia hendak naik ke dalam mobilnya tapi urung karena panggilan seseorang.
"apa anda sudah putus asa?" Doni menoleh ke belakang ternyata dia adalah asisten Frey.
"maksudmu apa? Apa kamu sekarang sudah jadi pengangguran? Frey sudah memecat kamu ya makanya gak ada kerjaan sampai sampai mengurusi urusan orang."
"bukan begitu kawan santai dong"
"kawan apa? aku rasa kita tidak sedekat itu"
"ko kayaknya pak Doni ini gampang betul marah, sentimen amat sama saya ada apa?"
"ada apa? Kamu itu sudah menyembunyikan anak bosku, di dalam pencarian ku ada orang yang selalu menutup jalanku. ternyata kamu pelakunya dan untuk itu aku tidak menyukaimu."
"oh begitu ya, gak usah marah sama saya pak Doni aku kan hanya menjalankan perintah dari bosku. Kita ini senasib sama sama di suruh oleh bos kita."
"terus apa sekarang kamu di suruh bosmu untuk menggangguku?"
"tidak aku hanya ingin membantumu, ini juga demi kebaikan Angga makanya bosku menyuruh menyelidiki Lusi istri bosmu."
"apa untungnya bagi kalian menyelidiki wanita itu"
"dia itu hama bosmu saja yang bodoh masih mencintai wanita seperti itu, kalau dia masih jadi istri bosmu itu tidak baik untuk Angga"
"jadi apa maumu?"
"ini ambillah aku sudah mengetahui semua yang di lakukan wanita itu, dan apa tujuannya saat ini juga dia sedang mengandung anak dari pria yang kamu lihat bersamanya tadi."
"apa? Kau gila ya jangan menuduh orang sembarangan ya"
"serahkan saja itu ke bosmu, semua bukti dan rencana wanita itu sudah ada di situ."
__ADS_1
Doni mengambil map yang di berikan Iyan dan membukanya, dia langsung kaget dan merasa jijik melihat foto foto fulgar Lusi bersama Bian.
"apa kau mau melihat videonya juga ada"
"Ais kau ini, tidak ini aja sudah cukup sungguh menjijikkan wanita itu ogah melihat itu mending aku langsung praktek dengan istriku"
"bukan kah istrimu sebentar lagi mau melahirkan?"
"iya memangnya kenapa? Malah itu bagus biyar gampang saat melahirkan"
"terserahlah aku mau pergi dulu"
Doni hanya melongo melihat Iyan pergi meninggalkan nya, tapi dia juga merasa senang karena pekerjaannya sudah beres. Tinggal menunjukkan nya kepada Gala.
Doni melajukan mobilnya menuju tempat kerjanya, sampai di sana dia langsung naik lift menuju ruangan Gala karena saat ini bosnya sudah menunggu dirinya.
Tok, tok,
"masuk" Doni pun masuk sambil membawa map yang di berikan Iyan, dia pun duduk di depan Gala dan menyerahkan map itu.
"lihat lah ini kau tapi harus janji jangan pingsan, kamu kan sangat mencintai istrimu itu." Gala hanya diam mendengar ucapan Doni, tapi tangannya meraih map itu dan membukanya. dia pun langsung melotot melihat foto foto Lusi bersama seorang pria.
"darimana kamu mendapat bukti sebanyak ini dalam waktu singkat, apa jangan jangan kamu sudah lama mencurigai Lusi dan kenapa tidak memberitahuku."
"boro boro aku sempat mencurigai nya semenjak kamu kehilangan Angga aku yang mengurus semua pekerjaan, belum istriku yang sedang hamil dan permintaan nya aneh aneh aku sudah capek. Jadi itu semua gak mungkin aku dapat kalau gak karena Iyan."
"Iyan asisten nya Frey?"
"iya tadi aku sudah berhasil menemukan Lusi di apartemen nya bersama pria, tapi dia terus mengelak dia bilang di paksa pria itu. pria itu juga langsung pergi begitu aku sampai."
"berarti itu alasan dia memberikan aku obat perangsang"
"maksud kamu apa?"
"semalam aku menyuruh Rena membuatkan kopi, tapi Lusi meminta dia untuk membuat teh jahe saat itulah dia memasukkan obat itu dan mengantarnya ke kamarku."
__ADS_1
"terus apa yang terjadi?"
"aku berdebat dengan dia tiba tiba hp nya berbunyi, aku sempat memperhatikan wajahnya cemas saat melihat siapa yang nelfon. Saat itu juga aku berteriak memanggil Rena."
"apa terjadi sesuatu kepada gadis itu? Kenapa kamu terlihat resah?"
"itu dia masalahnya Don, setelah Lusi keluar aku pun menghukum gadis itu sambil sesekali menyesap kopi."
"kamu menghukum nya pake apa?"
"entahlah Don semenjak aku kehilangan putraku dia itu sering mengajak aku ngobrol, semenjak itu aku mulai bangkit dari keterpurukan ku. Dan aku akhir akhir ini sering dan senang mengerjai anak itu."
"apa bos jatuh cinta sama gadis itu?"
"dengerin dulu aku belum selesai bicara main potong aja, semalam aku menghukum dia agar menyuapi aku dengan makanan ringan. Dan aku terus bekerja sambil minum kopi, aku merasa ada yang aneh setelah meminum kopi itu tapi aku gak berpikir yang aneh aneh. Ya terjadi deh."
"jadi kau sudah merampas kehormatan gadis itu?"
"iya aku juga gak ingat jelas apa yang aku lakukan, tapi paginya aku mencari kunci Rena bilang ada di bawah ranjang. Kata dia saat aku memaksanya dia mencoba kabur, tapi aku mengunci pintu dan melempar kunci itu sampai ke bawah ranjang."
"bagaimana ini dia pasti sangat syok, kau dalam pengaruh obat pasti kau melakukannya dengan kasar sungguh aku gak tega. Bagaimana pun kau harus bertanggung jawab."
"tentu saja aku akan bertanggung jawab, tapi aku takut dia gak mau aku nikahi sepertinya dia sangat terpukul dengan kejadian ini."
"apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"aku akan menceraikan Lusi hari ini dan mengusir wanita itu, enak aja mau menjebak ku dengan anak orang lain."
"bagaimana dengan Rena?"
"urus semuanya kami akan segera menikah, setelah surat cerai ku dan Lusi keluar kau urus surat nikahku dengan Rena. Untuk saat ini yang penting kami menikah saja dulu suratnya nanti bisa menyusul."
"yang mau nikah kamu bos kok aku yang repot ya, semoga kerja kerasku gak sia sia mudah mudahan ini pernikahan yang terakhir."
"Ais kau ini jangan sampe aku pecat kamu ya, ingat sebentar lagi Lia akan melahirkan pasti kamu butuh uang banyak setelah punya anak."
__ADS_1
"iya iya aku cuma bercanda bos, he he aku akan mengurus semuanya. aku mau ke ruangan ku dulu masih banyak kerjaan."
Gala menghela nafas sambil melihat Doni keluar dari ruangannya, dia pun mulai bekerja meski pikirannya hanya kepada Rena. Dia merasa bersalah telah menodai gadis itu.