
"Angga jangan takut ya, sekarang kita main lagi yok."
Gala pun kembali duduk dan mendudukkan putranya juga, Lusi pun ikut duduk di dekat mereka saat itu juga Angga langsung naik ke pangkuan papanya karena ketakutan.
"sebaiknya kamu juga pergi Lusi, lihat putraku takut denganmu."
"ada apa denganmu mas? Angga begitu denganku pasti karena hasutan Rena."
"sudah lah Lusi gak usah nyalahin Rena, coba pikirkan anak bayi begini apa iya bisa di hasut."
"tapi mas aku yakin dia pasti sudah mengatakan sesuatu kepada Angga, setiap hari dia yang selalu mengurus anak mu. Bisa aja kan dia mengatakan sesuatu makanya Angga takut padaku."
"oh anakku, jadi begitu ya? pantesan saja kamu gak pernah mau mengurus putraku, ternyata kamu gak menganggap dia sebagai anakmu juga."
Rena menaiki anak tangga satu persatu hendak melihat anak asuhnya, samar samar dia mendengar Gala dan Lusi sedang bertengkar. Gadis itu pun buru buru masuk dan menggendong Angga, dia mau membawa balita itu turun biyar gak mendengar pertengkaran suami istri itu.
"heh kamu mau ke mana? Jangan pergi dulu, lihat kamu sudah menghasut Angga supaya takut sama saya iya kan?"
Lusi menarik tangan Rena yang sedang menggendong Angga, mendengar Lusi yang berbicara keras membuat Angga semakin menangis ketakutan.
"aku gak menghasut Angga nyonya, sumpah tapi setiap berbicara kepada saya nyonya selalu marah marah dan suara keras. Itulah yang membuat Angga takut kepada nyonya."
"apa? Kamu gak usah sok pintar ya, kamu itu cuma pembantu." Lusi hendak menampar Rena tapi tangannya di tahan Gala.
"Rena cepat bawa Angga dari sini."
"baik tuan."
__ADS_1
Rena pun cepat cepat turun ke bawah membawa Angga yang sedang menangis, balita itu begitu takut kepada ibu sambungnya.
"oh ternyata sifat aslimu seperti ini Lusi, memang kenapa kalau Rena hanya seorang pembantu? Lihat dia begitu tulus merawat putraku pada hal dia cuma seorang pembantu, sedangkan kamu sudah Syah saya nikahi tapi tidak sedikitpun ada rasa sayang kepada anakku. jadi dia itu lebih baik dari pada kamu."
"apa gadis itu yang mengadu pada kamu mas? Kalau aku itu gak pernah mengurus Angga."
"tidak dia gak pernah mengadu apa apa padaku, tapi akhir akhir ini aku perhatikan kamu itu pegang Angga kalau di depan saya saja."
"tidak mas, aku sekarang lebih sering di rumah gak keluar setiap hari lagi seperti dulu."
"ya aku tau kamu gak setiap hari keluar sekarang, tapi biyar kamu di rumah seharian apa pernah menyentuh putraku. Aku sebenarnya sudah lama tau tapi aku begitu mencintaimu, jadi aku berusaha diam tidak mempermasalahkannya. Aku pikir itu karena kamu belum terbiasa mengurus anak kecil, mungkin nanti kamu akan berubah itulah yang aku pikirkan."
Gala pun pergi dari kamar Angga, meninggalkan Lusi yang masih tidak percaya sekarang suaminya lebih membela pembantu dari pada dia.
"kok sekarang mas Gala seperti itu sih, biasanya pasti menurut terus apa pun yang aku katakan. Ih menyebalkan, bagaimana ini? Kalau dia mengusirku bagaimana? Huh awas aja wanita itu kalau aku sampai di usir mas Gala. Sepertinya aku harus merayu dan minta maaf, bagaimana pun aku harus menjinakkan suamiku lagi.
"mas aku minta maaf, benar apa yang kamu katakan aku ini memang tidak pernah mengurus anak kecil. Jadi aku masih bingung bagaimana caranya, aku janji mas akan berusaha semampuku untuk merawat Angga."
Gala masih diam tidak bergeming pada hal dia sudah mendengar omongan Lusi, diam diam di balik selimut Gala tersenyum bahagia karena dia yakin istrinya akan berubah.
"sayang apa kamu mendengar ku? Beneran mas aku berjanji akan merawatnya mulai sekarang, kalau kamu tidak percaya aku akan membawa Angga ke sini kita akan tidur bertiga."
Gala pun duduk menghadap istrinya, "apa kamu serius akan merawat Angga?" Lusi pun menganggukkan kepalanya.
"baiklah kalau begitu, untuk malam ini biarkan Rena yang mengurusnya aku ingin bersamamu malam ini."
Mereka naik ke kasur dan Gala pun melaksanakan apa yang dia mau, yaitu hanya ingin berduaan dengan istrinya. Ayah satu anak itu memang sangat bucin kepada Lusi, makanya dia tidak bisa melihat borok istrinya kalau pun dia lihat seakan dia tutup mata.
__ADS_1
...****************...
Berbeda dengan Bela yang saat ini sedang berada di mobil Frey, mereka malam ini akan ke restoran untuk makan malam. Ya dia sudah mulai membuka hatinya untuk Frey, pria yang selalu memberikan perhatian kepada ibu satu anak itu.
Awalnya dia menolak tapi karena kegigihan pria itu dan juga dorongan dari sahabat dan juga keluarganya, akhirnya Bela pun mulai luluh dan membuka hatinya lagi.
Mobil yang di kendarai Frey akhirnya sampai di restoran, dia memarkir kendaraannya lalu turun kemudian membukakan pintu untuk Bela. Frey pun menggandeng tangan wanita itu masuk ke restoran, begitu sampai di dalam Bela langsung terpana melihat suasana yang sangat indah dan romantis.
Di tempat itu tidak ada satu orang pun pengunjung, karena malam ini sudah di boking Frey khusus untuk makan malam bersama Bela.
Frey menarik kursi untuk Bela dan mempersilahkan wanita itu duduk, Bela pun duduk dan merasa terharu karena bersama suaminya dia tidak pernah di perlakukan semanis ini.
"ada apa? Kok kamu terlihat sedih, apa kamu tidak menyukainya?"
"bukan seperti itu Frey, jujur aku belum pernah di perlakukan seperti ini Tentu saja aku sangat menyukainya.
"oh begitu ya, kamu harus membiasakan diri aku akan selalu memperlakukan mu dengan manis."
Bela tersenyum dan Frey semakin klepek klepek melihat senyuman Bela yang begitu manis, makan malam pun sudah tersaji mereka pun mulai makan.
"apa kamu menyukai hidangannya?"
"iya ini semua sangat enak Frey,"
"syukur lah kalau kamu menyukainya, aku sangat takut kalau kamu tidak menyukai makanan di sini."
Mereka pun melanjut kan makan dengan di iringi alunan musik romantis dan di terangi lilin yang sangat banyak, membuat suasana semakin romantis. Dan Bela belum pernah sama sekali di perlakukan suaminya seperti ini selama mereka menikah, tapi bersama Lusi dia sering makan malam romantis meski tak semewah makan malam Frey dan Bela.
__ADS_1
Selesai makan malam Frey mengantar Bela pulang ke rumah orang tuanya, dia pun menunggu wanita itu masuk ke dalam rumah baru kemudian dia menjalankan mobilnya meninggalkan rumah itu.