
Pagi pagi sekali Doni seperti biasa bersiap siap untuk berangkat kerja, apa lagi akhir akhir ini Gala jarang masuk kerja jadi Doni lah yang harus menghandle semua pekerjaan.
Saat Lia mengajak suami nya untuk sarapan, tiba tiba hp Doni berbunyi dia pun melihat siapa yang menelfon. Ternyata yang menelfon nya adalah mama nya Gala.
"siapa mas yang menelfon? Angkat dulu siapa tau perlu, setelah itu kita akan sarapan."
"ini mana Raisa yang nelfon, jangan jangan mama udah tau tentang Angga."
"udah angkat" Doni pun mengangkat telfon dari mama Raisa.
"halo"
"halo Don lama amat baru di angkat, ini mana mau ketemu sama kamu ada sesuatu hal yang mau mama tanya"
"tapi ma pagi ini aku gak bisa, soalnya ada rapat penting yang gak bisa di tunda"
"cuma sebentar Don, baiklah mama aja yang datang ke kantor"
"baiklah ma, sampai ketemu di sana"
Raisa langsung mematikan hp dan bersiap siap untuk pergi menemui Doni, wanita itu sudah gak sabar untuk bertanya sama Doni tentang kabar yang sudah di dengar nya.
Doni sudah sampai, setelah memarkir kan mobil dia langsung naik ke atas dan masuk ke ruangan nya. Ternyata mama Raisa sudah sampai duluan dan sedang menunggunya.
"mama sudah sampai?"
"iya udah dari tadi mama nungguin,"
"maaf ya udah buat mama nunggu" Doni pun duduk dan menunggu mama Raisa untuk berbicara duluan.
"Doni mama mau tanya sama kamu, apa benar kabar yang aku denger katanya Bela hilang bersama Angga. Dan itu semua karena ulah wanita ular itu?"
"sayang nya itu benar ma, dan sampai sekarang kami belum tau keberadaan mereka."
"sekarang Gala mana?"
__ADS_1
"biasanya dia ada di rumah ma, dia sekarang seperti orang linglung. kerja juga jarang datang kalau gak perlu bangat, kalau gak bisa saya handle lagi baru dia datang."
"terus wanita itu bagaimana? Apa yang di lakukan Gala kepada wanita itu? setelah apa yang di lakukan nya kepada cucuku."
"tidak ada ma, Gala cuma gak mau melihat istrinya dia pindah ke kamar yang ada di bawah dan selalu menghindar dari Lusi"
"apa? Dia tidak mengusir wanita itu?"
Doni hanya mengangkat bahu tanpa menjawab pertanyaan Raisa, melihat itu Raisa merasa geram dan wanita paruh baya itu langsung keluar meninggal kan Doni begitu saja.
"aduh gawat ini bisa bisa gempar di sana, tapi biarin aja lah wanita itu memang tidak tau diri. toh aku larang juga mana mungkin mama mau mendengar kan aku, sepertinya dia sangat marah."
Doni pun kembali bekerja karena sebentar lagi dia akan sangat sibuk, sedangkan Raisa saat ini sedang berkendara menuju rumah nya untuk memberi pelajaran kepada menantu yang gak di ingin kannya itu.
Sampai di depan gerbang satpam langsung membuka kan pintu begitu melihat siapa yang datang, wanita paruh baya itu langsung masuk. Begitu masuk rumah terlihat sepi cuma ada bibik Emi yang sedang beres beres di dapur.
"Emi, Gala mana?"
"oh nyonya, itu ada di kamar nya."
"wanita ular itu di mana?"
"oh sekarang dia yang jadi nyonya di rumah ini?" Raisa langsung pergi meninggal kan Bibik Emi, saat itu lah dia berpapasan sama Rena. Gadis itu begitu takut melihat kemarahan yang terpancar dari raut wajah mama Raisa.
"bik bagaimana ini? nyonya sangat marah aku takut terjadi sesuatu kepada nyonya Lusi."
"biarin aja Ren, wanita itu memang pantas di hajar bila perlu di usir dari rumah ini."
"tapi bik kalau nyonya Lusi di pukuli dan setelah itu dia melapor ke polisi bagaimana?"
"iya juga ya, kasihan nyonya besar." bibik Emi pun pergi meninggal kan Rena menaiki anak tangga menyusul Raisa.
Lusi sedang berbaring di atas kasur tiba tiba pintu di ketuk secara kasar, wanita itu dengan jengkel membuka pintu dan tanpa di duga dia langsung di tampar berkali kali. Karena tidak tau akan mendapat perlakuan seperti itu Lusi jadi diam dan syok, karena dia kaget ternyata itu adalah mertuanya.
"kurang ajar kamu ya dasar wanita ular, tega tega nya kamu berbuat seperti itu kepada cucuku huh."
__ADS_1
"tapi ma ini bukan salah ku, Angga mencret gara gara dia gak bisa minum susu formula."
"apa kamu bilang bukan salahmu, lalu ini salahku. begitu kamu sudah tega memberi obat tidur kepada bayi yang lagi mencret, masih bilang kamu gak salah."
Raisa langsung menarik rambut Lusi dan menghajar wanita itu sekuat tenaganya, mendengar nyonya Raisa semakin keras berteriak Rena pun memberanikan diri mengetuk kamar Gala.
tok, tok
Tok, tok
Pintu di buka dan Gala melihat Rena panik, "ada apa?"
"tuan nyonya Raisa di atas sedang memarahi nyonya Lusi"
Gala langsung berlari naik ke lantai atas yang di ikuti Rena dari belakang, sampai di atas mereka berdua kaget melihat Raisa dan Lusi sedang Jambak jambakan.
Gala menarik mamanya dan menjauh kannya dari Lusi, setelah berhasil melerai dua wanita itu tampilan mereka sudah seperti terkena angin ****** beliung.
"udah ma ngapain capek capek mengotori tangan memukul dia, mama tenang aja saat ini aku sedang mengurus perceraian kami. Setelah kami resmi bercerai dia pasti akan aku usir dari rumah ini."
"huh dasar kamu ini memang bodoh, dari dulu mama melarang kamu berhubungan dengan wanita itu. Karena mama bisa melihat dia itu bukan wanita baik, dia hanya menginginkan uangmu saja tapi kamu tidak percaya."
"mas tolong aku gak mau cerai, maafkan aku gak bermaksud jahat sama Angga hanya saja aku belum terbiasa menjaga anak kecil"
"apa kamu bilang? Gak terbiasa menjaga anak kecil? Lihat Rena dia masih gadis dan dia bukan siapa siapa Angga, tapi dia mengurus cucuku dengan baik"
"sudah ma ayo kita pergi gak usah meladeni Lusi, dia gak akan mengakui kesalahan nya yang ada nanti darah tinggi mama naik."
"biarin aja kamu memang gak perduli sama mama kan, satu satunya yang kamu perduliin hanya wanita itu. Semenjak kamu menikahi wanita itu dan mama pergi dari rumah ini, apa pernah kamu nyari mama."
"bukan begitu ma, biar pun aku gak datang tapikan aku nyuruh Doni yang nemuin mama."
"pokoknya mama gak mau tau, kamu harus secepatnya menemukan mereka. Kalau sudah ketemu jangan pernah pisahkan mereka lagi, kalau kamu memisahkan Bela dan Angga lagi mama tidak akan anggap kamu anak mama lagi."
"mama aku akan terus nyari mereka sampai ketemu, tapi aku mohon mama harus bersabar."
__ADS_1
"satu lagi sebelum mereka ketemu jangan pernah temui aku, biyar pun mama sekarat dan udah mau mati sekali pun."
"ma maksud mama apa? Jangan kayak gitu ma maafin Gala ma" Raisa pergi meninggalkan anak nya yang sedang menangisi kesalahannya, ayah satu anak itu begitu sedih mendengar ucapan terakhir orang yang sudah melahirkan nya itu.