
Karena sibuk untuk memenangkan hati suaminya kembali, bela sudah lama tidak berkunjung ke rumah orang tuanya. karena sudah kangen dengan cucunya, sepasang kakek dan nenek itu memutuskan mengunjungi anak dan cucunya.
"assalamualaikum" ujar ibu Laila
"eh ayah, ibu kok kesini gak ngomong ngomong" bela langsung menghambur ke pelukan ibunya, sedangkan Diki langsung menggendong cucunya.
"bela Salim dan mencium tangan ayahnya"
"bela kok kalian sudah lama gak berkunjung ke rumah, ayah dan ibumu sudah kangen bangat sama Angga".
"oh berarti kangen sama Angga doang sekarang, sama bela ngak?"
"ih kau ini sama anak sendiri kok cemburu, tentu saja ibu sama ayah kangen juga sama kamu".
"he he kirain ngak, oh iya kok ayah sama ibu tau kami di sini"
"oh tadi pas kami masuk kata bibik kalian ada di taman belakang, kami langsung kesini aja".
"eh besan, apa kabar?" mama Raisa langsung memeluk ibu Laila dan bersalaman dengan ayah Diki.
"Alhamdulillah, baik. maaf ya kami datang gak ngabarin, maklum besan kami sudah kangen bangat sama cucu kita".
"gak apa apa besan, justru aku senang kalian datang berkunjung"
"sini bik bawa airnya"
"pak, buk ini airnya silahkan di minum"
"oh terimakasih ya" ujar ibu Laila
"ibu Laila silahkan di minum airnya, oh iya bel temani ayah dan ibumu dulu. mama mau nyiapin makan siang dulu, besanku pasti lapar perjalanan kesini jauh".
"besan gak usah repot repot"
"ngak, buk Laila minum aja dulu gak repot kok cuma periksa aja bibik yang ngerjain".
Mama Raisa pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang, sedangkan ayah Diki dan ibu Laila sibuk bermain bersama cucunya.
"Buk aku tinggal dulu ya sebentar, mau ngambil bubur untuk Angga"
"iya nak, nanti biyar ibu yang nyuap Angga."
__ADS_1
Bela pergi mengambil bubur untuk anaknya, sedangkan Diki dan istrinya begitu sibuk bermain dengan cucunya. mereka berdua sudah sangat merindukan Angga si anak gembul menggemaskan.
"Bu ini buburnya."
"sini biyar ibu yang suap."
Bela memberikan bubur kepada ibunya, wanita paruh baya itu mengambil bubur dari tangan anaknya dan segera menyuap cucunya.
"wah coba lihat yah, cucumu makannya lahap bener pantesan pipinya udah kayak bakpao."
"iya aku melihatnya buk..."
"emang iya buk, kalau makan dia pinter betul, aku kalau nyuap dia seneng bangat sebentar doang udah habis."
"Bela, Angga lagi makan ya?"
"iya ma, dikit lagi udah mau habis kok."
"besan kita makan dulu, biyar Rena yang jaga Angga."
"iya buk, ayah kita makan dulu yok"
"biarin ibumu Bel, dia senang nyuap Angga karena dulu waktu kamu kecil susah betul makan. makanya melihat cucunya pintar betul makannya dia sangat senang."
"oh jadi dulu Bela makannya susah ya?"
"iya buk Raisa, kadang sampai saya kayak mau nangis nyuap dia. tapi untung semakin dia gede, agak berubah sudah mulai makan sedikit."
"oh, untung gak nurun sama Angga bisa bisa Bela nangis setiap nyuap Angga. dia ini kayak gala waktu kecil lahap betul kalau makan, apa aja dia suka makanya dia gendut persis kayak Angga ini wajahnya juga mirip betul."
"sudah habis, Rena tolong jaga Angga ya kami mau makan dulu. apa kamu sudah makan?"
"belum, sudah aku ma gampang buk nanti juga bisa."
"baiklah, ayo buk, ayah kita makan."
"iya, ayo besan" mereka pun berjalan bersama menuju ruang makan, sampai di meja makan sudah terhidang begitu banyak makanan.
"wah, besan banyak amat makanannya, ini mah jadi ngerepotin." ujar ibu Laila.
"ngak buk, kita ini jarang jarang berkumpul makan bersama begini. jadi ini gak ngerepotin sama sekali, justru aku senang bangat biasanya makan berdua saja sama Bela. jadi ayo silahkan kita makan yok."
__ADS_1
Mereka pun makan, tidak ada yang berbicara lagi. mereka sangat menikmati makan siang ini, selain hidangannya enak enak makannya pun bersama jadi terasa lebih nikmat. selesai makan mereka kembali duduk bersantai di taman belakang, sedangkan Angga sedang tidur di kamarnya.
Bela, kedua orang tuanya serta ibu mertuanya sedang asik mengobrol. tiba tiba ada seorang wanita seksi datang, Bela dan mertuanya sudah kenal dengan wanita itu pun kaget.
"heh kamu ngapain kesini? dasar tidak tau malu, pergi kamu dari rumahku ini aku gak sudi melihatmu."
"ma, jangan kayak gitu Lusi kesini niatnya baik kok. aku ingin lebih dekat dengan mama dan juga Angga."
"nak, dia siapa?" ujar Diki merasa heran. bela tidak tau harus jawab apa dia hanya diam, melihat itu ibu dan ayahnya curiga. tapi mereka tidak tau apa apa.
"oh sepertinya ini adalah kedua orang tua bela, aku akan memberitahu mereka supaya dia cepat cerai dari gala. orang tuanya pasti menyuruh anaknya untuk segera bercerai kalau mereka tau siapa saya." batin Lusi.
"kalian mau tau siapa saya?"
Raisa yang sudah emosi, dan menghawatirkan besannya menampar pipi Lusi sangat keras.
"pergi, pergi kamu dari sini atau kamu akan terima akibatnya."
"ayah, ibu sebaiknya kalian ke kamar aja. ayok bela antar."
"tidak nak, ibu akan tetap di sini. lbu rasa ada yang tidak beres, sebaiknya jangan ada yang di tutup tutupi."
"benar buk, ayah juga mau tau apa sebenarnya yang terjadi. jadi aku mohon nak biyarkan kami di sini."
"baik, tapi ayah dan ibu harus kuat mendengar kenyataan pahit yang aku alami. apa kalian siap?"
"kami akan siap nak, dan kami berdua akan selalu ada untukmu" ujar ibu Laila dengan tegas.
"oh... baiklah aku akan katakan siapa aku ini, aku adalah calon istri dari gala. sebentar lagi bela akan di ceraikan gala dan kami akan menikah."
Mendengar ucapan Lusi Diki dan Laila kaget, di saat bersamaan gala pun datang dia begitu panik mendengar ucapan kekasihnya. karena dia melihat ayah dan ibu mertuanya mendengar ucapan Lusi.
"Lusi, apa apaan kamu ini? kamu bilang mau mendekati mama dan Angga, kenapa malah kamu membuat keributan di sini.
"mas aku gak mau ribut, tapi mama yang sudah duluan nampar aku, mengusir aku. jadi sebaiknya mereka tau karena gak sekarang nanti juga mereka bakalan tau kok."
"iya, tapi Lusi ini belum saatnya"
"oh...., jadi begitu ya mas, ini belum saatnya jadi kapan waktu yang tepat hah?" Bela sudah tidak bisa menahan air matanya yang sejak tadi tertahan akhirnya tumpah.
Melihat anaknya begitu ibu Laila langsung merangkul bela, dia begitu tegar mendengar semuanya untuk menguatkan putrinya. padahal dia dan suaminya begitu hancur mengetahui apa yang sudah di alami putri mereka.
__ADS_1