
Setelah masuk ke kamar Lusi naik ke kasur dan duduk sambil memikir kan apa yang akan di lakukan nya.
"sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku gak boleh keluyuran lagi, bisa bisa suamiku marah lagi. Baiklah mungkin aku harus menjaga Angga di rumah, dengan begitu dia akan luluh lagi dan setelah dia pulang aku harus memberi servis yang bagus."
Lusi mau bangun hendak ke kamar Angga tapi kepalanya masih agak sakit, dia pun berbaring lagi.
"huh kepalaku masih pusing, sebaiknya aku tidur dulu sebentar baru saya nanti ke kamar Angga."
Sedangkan Rena sudah selesai memandikan Angga, anak itu sudah di kasi susu tentu saja asi dari Bela. Gadis cantik itu pun menggendong anak asuhnya dan menuruni anak tangga, mereka akan bermain di taman belakang tempat favorit Angga.
Angga sekarang sudah mau setahun dia sekarang sudah mulai belajar berjalan, seminggu lagi adalah hari ulang tahun anak itu.
Setelah sampai di taman belakang, Angga pun minta turun dia sudah tidak sabar untuk berjalan.
"ada apa? Udah gak sabar mau jalan? Ya sudah ayo mbak turunin ya"
Rena pun menurunkan Angga di atas rumput, begitu turun anak itu mulai melangkah tapi baru dua langkah sudah jatuh. Begitu terus tapi dia tidak pernah menyerah, anak itu terus saja mencoba dia tidak pernah menyerah. Dan itu membuat Rena merasa gemes melihat nya, sering kali Rena mencium anak itu karena merasa gemes.
Lusi sudah mencoba tidur, tapi matanya tidak mau terpejam sama sekali. Akhirnya wanita itu bangun dan keluar dari kamarnya, dia pun pergi ke kamar Angga yang memang ada di sebelah kamarnya.
Lusi membuka pintu kamar anak sambungnya itu tapi sepi tidak ada orang, dia pun turun ke bawah hendak mencari mereka ke taman belakang.
"oh ternyata kalian di sini, halo Angga kamu sudah belajar jalan ya?"
Anak gembul itu hanya menatap nya sekilas, setelah itu dia kembali memeluk Rena. Anak itu seperti tidak mau di dekati Lusi, tapi wanita itu terus mendekatinya dan mencoba sok akrab.
Awalnya Angga menolak di pegang Lusi, tapi lama kelamaan anak itu mulai terbiasa dan dia terus saja bermain dan belajar jalan. Tapi Rena selalu siaga menjaga anak itu supaya tidak jatuh, kalau pun Angga jatuh tapi gadis itu selalu siaga menangkap nya.
"Ya sudah kamu bisa pergi Rena, biar aku yang jaga Angga"
__ADS_1
"gak apa apa kalau nyonya mau jaga Angga, tapi biyar aku tetap di sini. Lagian aku juga gak ada kerjaan ko"
"kamu gak usah membantah omonganku, pergi ke dapur bantu bibik Emi buat makan siang."
"tapi nyonya kalau Angga rewel panggil aja"
"kamu gak usah banyak bacot pergi sana, kamu kira aku gak bisa ngurus anak ini. Sana sana"
Dengan berat hati gadis cantik itu pun pergi ke dapur, dia pun membantu bibik Emi memasak makan siang dengan wajah yang di tekuk.
"ada apa?"
"itu bik nyonya nyuruh aku pergi, katanya dia juga bisa menjaga Angga"
"jangan manyun terus ah nanti juga nyonya pasti kerepotan, kalau udah gitu dia pasti teriak memanggil kamu."
"tapi aku tidak tenang bik, aku merasa kalau nyonya menjaga Angga akan terjadi sesuatu kepada anak itu"
"aduh kok aku merasa kalau sesuatu terjadi kepada anak itu, apa aku telfon bibik Emi aja ya?"
Bela pun mengambil hp nya dan menghubungi no wanita tua itu, biarpun hp bik Emi adalah hp jadul tapi Bela masih bersyukur bisa menelfon untuk menanya kabar putranya. Karena sampai saat ini hp Rena masih di tahan Lusi.
Saat mereka sedang sibuk memasak tiba tiba hp bik Emi berbunyi yang memang ada di kantong nya, dia pun melihat siapa yang menelfon.
"Rena coba lihat nyonya sekarang ada di mana, ini nyonya Bela nelfon"
"baik bik, tapi kalau ibu Bela nanya den Angga bilang aja dia baik baik saja. Aku takut pasti ibu Bela akan sangat khawatir."
Rena pun pergi melihat Lusi dan ternyata mereka sudah ada di kamar Angga, Rena pun kembali ke dapur dan memberi kode kalau aman.
__ADS_1
"halo bik"
"halo nyonya apa ada yang bisa saya bantu?"
"oh begini bik aku cuma mau tanya kabar putraku, aku dari tadi merasa khawatir. Perasaanku gak enak, aku merasa seperti terjadi sesuatu kepada nya."
"oh begitu ya, tenang aja nyonya Angga baik baik saja ko dia sekarang bersama Rena."
"oh ya sudah kalau begitu, udah dulu ya bik aku sekarang lagi kerja. Pokoknya kalau ada apa apa cepat kabari bik."
Bela pun mengakhiri telfon dan kembali bekerja, sedangkan bik Emi kembali melanjutkan pekerjaan nya masak makan siang.
"bik ibu Bela nanya apa?"
"nanya kabar den Angga, katanya dia merasa khawatir. nyonya bilang dia merasa terjadi sesuatu kepada putranya."
"huh aku juga merasa seperti yang di rasakan ibu Bela bik, ingin rasanya aku membawa kabur anak itu supaya selamat dari wanita itu."
"jangan seperti itu, kita berdoa aja supaya nyonya benar benar mengurus den Angga dengan baik"
"baiklah bik"
Di kamar Angga Lusi sedang mempersiapkan susu formula untuk balita itu, setelah selesai dia pun memberikannya kepada Angga. Tapi anak itu tidak mau karena dia masih ingin bermain.
"haduh menyusahkan aja, kalau gak karena papa kamu dan duitnya yang banyak itu aku ogah jagain kamu. Ya sudah kalau masih mau main asal kamu jangan nangis"
Lusi pun membiarkan anak itu bermain, dia pun mengambil hp dan sibuk dengan benda itu tanpa melihat anak sambungnya. Angga terus saja berdiri dan mencoba berjalan, beberapa kali dia jatuh tapi anak itu terus saja mencoba lagi dan lagi.
Biarpun Lusi melihat Angga beberapa kali jatuh, tapi itu tidak mengurungkan niatnya untuk berhenti memainkan benda pipih milik nya. Sampai akhirnya anak itu terpeleset dan jatuh terjengkang ke belakang, Angga langsung menangis dengan keras.
__ADS_1
Lusi pun kaget dan reflek menggendong Angga dia pun panik, wanita itu berusaha menenangkan tapi balita itu masih menangis dengan kencang sampai sampai wajahnya membiru. Lusi pun panik dan melihat kepala bagian belakang anak itu, ternyata benjol gede bangat.
Lusi pun kemudian melihat susu yang di buatnya tadi, dia membaringkan Angga di kasur dan memberikan susu itu. Awalnya balita gembul itu menolak tapi Lusi terus membujuknya supaya mau meminum susu itu, dan akhirnya dia pun mau minum susu dan tidak menangis lagi.