Suamiku Tukang Selingkuh

Suamiku Tukang Selingkuh
bab 76 Lusi hamil.


__ADS_3

Akhir akhir ini Lusi merasa lemas dan kepalanya terasa pusing, sudah sebulan dia rutin bertemu dengan Bian di hotel. Tapi entah kenapa wanita itu sudah malas untuk bertemu dengan pria itu, dia sering kali merasa gak enak badan.


Bian juga tidak masalah karena selama sebulan ini dia sudah puas bersama wanita itu, pagi ini Lusi bangun dan langsung berlari ke kamar mandi. Dia muntah muntah terus sampai sampai dia merasa lemas, setelah merasa agak mending Lusi keluar kamar mandi dan naik ke kasur dan membaringkan tubuh nya yang sedang lemas.


"aku kenapa ya? Apa jangan jangan aku hamil, kalau iya sebaiknya aku menghubungi Bian. Dia harus tau kalau aku sedang mengandung anaknya, biarpun dia gak harus tanggung jawab tapi setidaknya aku terbebas dari dia setiap malam."


Lusi mengambil hp dan mengirim chat kepada Bian, dia mengajak pria itu untuk bertemu di sebuah kafe. Setelah mengirim chat dan pria itu bersedia bertemu, Lusi pun mandi tapi saat mandi dia mulai berpikir untuk memastikan dulu kehamilannya baru menemui Bian.


Selesai mandi Lusi memakai baju seperti biasa dan dia memoles wajahnya karena wajahnya juga terlihat pucat, dia turun ke bawah dan bersamaan Gala juga akan berangkat bekerja. Lusi sudah mau menyapa suaminya akan tetapi pria itu sama sekali tidak melihatnya, lebih tepatnya pura pura tidak melihatnya.


Gala keluar dan menaiki mobilnya meninggalkan Lusi yang masih menatapnya berharap di sapa suaminya, tapi ayah satu anak itu sudah muak melihat dia karena tega menyakiti putranya yang masih kecil.


"cih kenapa dia susah bangat untuk di dekati? Bagaimana meyakinkan dia nanti kalau aku hamil anak dia? Kalau begini aku harus cari cara untuk meyakinkan dia, apa pun caranya akan aku lakukan yang penting aku gak jadi di ceraikan."


Lusi pun menaiki mobilnya dan pergi ke apotek untuk membeli testpack, dia sudah sangat penasaran dengan hasilnya. Sampai di apotek Lusi membeli alat itu sebanyak tiga buah, ia pun pulang kerumah lagi untuk memakainya baru kemudian menemui Bian.


Begitu sampai dia langsung naik ke atas menuju kamar nya, Lusi meletakkan tasnya dan mengambil testpack itu dan membawanya ke kamar mandi. setelah buang air kecil Lusi pun mencelupkan benda itu dan menunggu beberapa saat, ia merasa senang ternyata hasilnya positif dan berarti dia sedang hamil.


"sebaiknya aku menemui Bian dan akhir akhir ini aku juga malas ngeliat dia, mungkin bawaan hamil kali dan aku udah malas juga melayani dia terus."


Lusi keluar kamar dan turun ke bawah, dia pengen cepat cepat menemui Bian dan mengakhiri apa yang mereka buat. Karena Lusi sudah mendapatkan apa yang dia mau jadi dia merasa tidak membutuhkan pria itu lagi.


Lusi mengendarai mobil nya menuju kafe tempat dia janjian sama Bian, sampai di kafe dia melihat pria itu sudah menunggunya di meja paling pojok.


"kok lama aku sudah nunggu dari tadi,"

__ADS_1


"oh tadi aku harus memastikan sesuatu dulu baru ke sini"


"ya udah pesan makanan ya aku udah lapar,"


"ya udah aku juga lapar bangat."


Bian memanggil waiters dan mereka pun memesan makanan, Setelah pesanan mereka datang Bian merasa heran melihat makanan yang begitu banyak.


"apa gak salah ini? Lusi kok kamu pesan makanan ga kira kira, gimana menghabiskan ini semua?"


"he he he gak tau pokoknya melihat makanan itu aku pengen mencoba semua nya."


"terserah kamu lah aku sudah lapar, sebaiknya kita makan aja" mereka pun makan dan Bian begitu lahap menyantap semua hidangan yang telah tersaji, sedangkan Lusi semua hidangan dia coba tapi gak ada yang di sukai nya.


"apa? Semua yang aku makan masih enak kok seperti biasa, lidah kamu aja kali yang salah"


"apa iya"


"atau kamu jangan jangan, apa itu yang ingin kamu bicarakan?"


"iya aku sekarang sudah hamil, tadi aku testpack dan hasilnya positif"


"oh tapi ingat dengan perjanjian kita kan"


"kamu tenang aja aku gak akan menuntut mu untuk bertanggung jawab, yang penting mulai sekarang kita sudah selesai dan jangan bertemu lagi."

__ADS_1


"oh jadi sekarang kita gak bisa bersenang senang lagi ya?"


"tidak, dalam surat perjanjian juga kalau aku sudah hamil ya sudah selesai. Kita sama sama di untungkan kamu bisa menyentuhku sesukamu dan aku hamil, bukankah kamu sudah lama menginginkan ku?"


"hhh baiklah, aku harap kamu juga ingat jangan pernah melibatkan aku apa pun yang terjadi suatu saat nanti, karena ini semua adalah keinginanmu."


"baiklah Dil" Lusi pun mengulurkan tangan dan di sambut oleh Bian, setelah selesai makan mereka mengobrol beberapa saat baru kemudian mereka pergi dari kafe itu.


Bian mengendarai motor kesayangannya meninggalkan Lusi yang sedang membayar tagihan makanan mereka, pria itu agak keberatan dengan keputusan Lusi bahwa mereka gak boleh bertemu lagi. Pada hal selama sebulan ini mereka sudah terbiasa menghabis kan malam berdua, jadi dia masih pengen terus seperti itu karena Bian adalah laki laki yang tidak suka dengan sebuah ikatan perkawinan.


Tapi dia akan mengajak wanita yang di inginkan nya melakukan hubungan layaknya suami istri, tapi dia tidak mau melakukan ikatan perkawinan. Apa lagi Lusi sudah lama dia inginkan dan tiba tiba menawarkan diri, tentu saja dia merasa senang dengan tawaran wanita itu.


Bian agak keberatan dengan keputusan Lusi, tapi dia tidak berdaya karena mereka sudah membuat sebuah perjanjian. Tapi pria itu pasti gak kehabisan akal kalau dia menginginkan Lusi, hanya saja dia pura pura setuju aja dulu nanti juga dia pasti bisa menakluk kan wanita itu dengan caranya sendiri.


Lusi langsung pulang setelah bertemu dengan Bian, dia merasa pusing dan juga lemas apa lagi tadi dia gak selera makan. Dia hanya menginginkan semua makanan yang di pesannya, tapi setelah ada di depan mata tidak ada yang menarik apa lagi setelah di coba dia merasa semuanya hambar.


Sampai di rumah dia langsung mencari bibik Emi, tadi pas lagi mengemudi dia kepengen makan sesuatu yang asem asem.


"bik tolong buatin rujak, aku mau mangga mudanya di banyakin ya"


"tapi nyonya buah untuk bahan rujak gak ada, bibik harus ke pasar dulu gak apa apa kan agak lama?"


"gak apa apa bik tapi suruh Rena aja ke pasar naik motor supaya cepat"


"baik nyonya" Lusi pun naik ke atas sedangkan bibik Emi pergi menemui Rena.

__ADS_1


__ADS_2